
"Bunda!" panggil Alexa langsung memeluk bundanya karena sangat rindu. Dua minggu tidak bertemu seperti satu tahun saja.
Mungkin begini rasanya jika anak perempuan satu-satunya meninggalkan rumah yang sejak dulu dihuni.
"Bunda kangen banget sama kamu Nak. Bagaimana rumah tangga kalian baik-baik saja kan? Apa ada keluhan?" Kania memutar tubuh Alexa seperti boneka hanya untuk mencari sesuatu yang menurutnya aneh.
"Anak bunda sepertinya bahagia sekarang, lihatlah senyumnya terlalu lebar," puji Kania menguyel-uyel pipi Alexa tanpa menyapa menantunya yang sejak tadi berdiri ingin bersalaman.
Untung saja Sean mengerti bagaimana sikap Kania jadi dia tidak merasa dikucilkan sama sekali.
"Bunda cukup, itu menantu Bunda sejak tadi mau nyapa ih," tegur Alexa.
"Ah ya bunda sampai lupa karena terlalu senang." Kania beralih menatap Sean. Menepuk pundak pria itu dengan bangga. "Kamu tidak gagal menjadi menantu dan suami dalam keluarga ini Nak. Semoga senyum Alexa tidak memudar sampai rambut kalian memutih," ucap Kania.
Wanita paruh baya itu menarik tangan Sean dan Alexa menuju meja makan untuk sarapan bersama. Kania telah membuat makanan kesukaan putrinya.
"Apa sudah ada kabar baik?" tanya Kania.
Alexa memutar bola mata malas, dalam dua minggu sudah mendapatkan kabar baik. Hey dia tidak seperti Ricard yang menanam benih sebelum menikah.
"Baru dua minggu," celetuk Alexa.
"Belum Bunda, kalau nanti ada kabar baik Bunda orang pertama yang akan kami beritahu," sahut Sean penuh sopan santung.
"Ah iya, apa kalian sudah tahu kalau keponakan ayah kalian akan berkunjung dalam waktu dekat?" tanya Kania.
"Keponakan? Sejak kapan ayah punya keponakan Bunda? Bukankah dia anak tunggal?" Alexa mengernyitkan keningnya.
Selama ini yang Alexa tahu ayahnya adalah anak tunggal, ibunya dua bersaudara itupun telah pergi lebih dulu.
"Ayah kamu punya saudara perempuan seayah Nak. Anaknya akan datang untuk berlibur dan tinggal di rumah ini, semoga kalian bisa akur," jelas Kania.
"Pria?" tanya Sean mulai antisipasi, jika benar seorang pria, maka Sean tidak akan membiarkan Alexa berkunjung tanpa dampingan dirinya.
"Parempuan, selama ini dia menjalani pendidikan diluar negeri. Pernah tinggal di indonesia mungkin satu atau dua tahun."
"Syukurlah," gumam Sean sedikit lega.
Berbeda dengan Alexa yang merasa tidak senang orang asing akan tinggal dirumahnya. Apa tadi? Sepupunya akan datang? Sepupu yang bahkan mereka tidak pernah bertemu sama sekali.
"Lexa, jaga bicara kamu sama bunda," peringatan Sean berbisik tepat ditelingan istrinya.
Pria itu mengenggam tangan Alexa yang mengepal hebat. Sean tahu sekarang istrinya sedang kesal, apalagi jika menyangkut tentang hasil perselingkuhan.
"Bisa dibilang iya Nak, tapi bagaimanapun dia keluarga ayah, kita harus menerimanya. Terlebih tante Griya yang menelpon bunda agar bisa menjaga putrinya selama di negara ini," jelas Kania.
"Aku harap kasih sayang Bunda tidak terbagi," lirih Alexa.
"Tidak akan Sayang, sampai kapanpun Alexa adalah putri satu-satunya bunda. Jadi jangan sedih seperti itu."
"Bagaimana kalau keponakan ayah jahat Bunda? Terus nyakitin Bunda karena tinggal sendiri di rumah besar ini, kak Ricard juga jarang pulang."
"Delia akan pindah kerumah ini secepatnya Nak, jadi bunda tidak sendiri. Ada Raymond dan Delia yang temenin bunda. Lagipula mereka sudah menikah meski belum dipubliskasikan."
"Bunda mau pindah kerumah Lexa?" tawar Alexa menatap bundanya penuh harap.
"Bagaimana kalau Alexa yang kembali kerumah ini?" tanya balik Kania.
Alexa sontak menatap Sean yang tampak menikmati saparannya karena tidak ingin ikut campur dengan masalah ibu dan anak tersebut. Alexa kembali menatap bundanya.
"Lexa tidak mau membuat suami Lexa merasa tidak dihargai Bunda. Nanti Lexa akan sering berkunjung, janji."
"Baiklah, anak bunda tidak perlu terbebani dengan semuanya. Semoga keponakan ayah juga orangnya baik."
"Kak Ricard sudah tau tentang ini?" tanya Alexa.
Kania mengelengkan kepalanya. "Belum, bunda baru akan memberitahunya sore nanti jika pulang kerumah."
"Siapa nama keponakan ayah, Bunda?" tanya Sean karena penasaran.
"Serin Grayana."
Uhuk
Sean langsung tersedak makanan miliknya.