
Kania langsung menjauh dari Serin ketika ponselnya berdering. Wanita itu menjawab panggilan dari putrinya.
"Kenapa, Nak?"
"Bunda, tolong buatkan makanan untuk Sean, perutnya sedang sakit," pinta Alexa. Wanita itu sekarang sudah berada di sekolah dan meninggalkan suaminya sendirian.
"Baiklah."
"Setelah selesai kirim saja sama sopir bunda."
"Iya Sayang, jangan khawatir. Bunda akan membuatkan makanan untuk suamimu," sahut Kania.
Wanita paruh baya itu merasa gemas sendiri dengan putrinya yang terdengar sangat mengkhawatirkan Sean.
Kania kembali ke dapur dan tidak sengaja berpapasan dengan Serin.
"Kamu sudah makan Nak?"
"Iya tante, Serin ke kamar dulu," jawab Serin dan berlalu begitu saja.
Kania mengedikkan bahu acuh dan mulai memasak sesuatu untuk menantu kesayangannya.
"Kenapa harus sakit sih? Kan tidak bisa membuat cucu untuk bunda," gumam Kania meski tangannya fokus memotong sayuran.
Kania akan membuat sup ayam untuk menantunya. Senyum Kania merekah setelah masakannya telah jadi.
Dia mendingingkan sebentar sebelum mengisinya di tempat yang rentang tumpah sebab akan menempuh perjalanan cukup jauh.
"Makanannya mau dibawa kemana Tante?" tanya Serin.
"Ah ini suami Alexa sakit perut, bunda mau mengirim makanan ke rumah mereka," jawab Kania sibuk mengisi sup ayam tersebut.
Sementara Serin tersenyum licik karena baru saja mendapat ide agar bisa bertemu pria yang dia cintai.
"Dimana alamatnya Tante?"
"Jalan ...."
"Kebetulan sekali Serin akan melewati kawasan itu, biar Serin yang membawanya." Antusias Serin.
Karena tidak tahu tujuan Serin yang sebenarnya ingin mengantar makanan tersebut, Kania langsung saja mengiyakan. Memberikan makanan tersebut dan tidak lupa memberikan alamat lengkap beserta unitnya pada Serin.
"Makasih Nak sudah mau direpotkan," ucap Kania.
"Tidak apa-apa tante, sudah seharusnya aku baik karena tinggal dirumah ini."
Senyuman Serin mengembang sempurna setelah sampai di depan gedung apartemen milik Sean dan Alexa. Wanita itu merapikan rambutnya, tidak lupa menurunkan sedikit leher bajunya agar belahan dada lebih terlihat seksi.
"Mari bertemu lagi setelah sekian lama Sean," gumam Serin dengan wajah berseri-seri.
Terakhir mereka bertemu dua tahun yang lalu di pesta perasayaan Ayana Group, saat itu jugalah dia dikirim kembali ke Korea oleh ayahnya. Sungguh sampai sekarang Serin membenci ayahnya karena berani memisahkan dirinya dengan Sean.
Serin memencet bel beberapa kali tapi tidak kunjung dibuka oleh seseorang dari dalam.
***
"Siapa yang bertamu? Kuharap bukan Alexa yang menjahiliku," gumam Sean.
Pria itu beranjak dari pembaringanya untuk mengecek seseorang yang bertamu jam 10 pagi dirumahnya. Sangat sedikit orang yang tahu apartemen Sean, karena dia sangat privasi tentang sesuatu.
Sean menghela nafas panjang setelah mengintip layar tepat di samping pintu.
"Ternyata dia terlalu cepat bergerak dan sangat ceroboh," gumam Sean.
Tanpa membuka pintu, Sean kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Tubuh pria itu sangat lemas karena keluar masuk kamar mandi hanya untuk membuang air besar.
Di tengah-tengah dia memejamkan mata, Sean berusaha mengingat dimana sebenarnya dia pernah bertemu wanita itu. Bahkan untuk bertegur sapa rasanya tidak pernah, tapi Serin malah mengenalnya.
***
"Kenapa belum dibuka juga?" guman Serin. Dia mulai kesal karena merasa di abaikan.
Padahal ini kesempatan yang tepat untuk bicara berdua saja dengan Sean, karena menurut informasi Alexa sedang tidak ada di apartemen.
Serin kembali memencet bel beberapa kali, tapi jawabannya tetap sama. Tidak dibukakan pintu oleh pemiliknya.
Serin beralih pada benda pipih di dalam tas, dia menghubungi Irwan.
"Kau dimana?"
"Tentu saja sekolah, dimana lagi."
"Kau bersama Alexa? Kuharap kau bisa mencegahnya agar tidak pulang ke apartemen karena aku ingin menemui kekasiku!" perintah Serin.
"Tenang saja Serin, akan kucegah dia untukmu. Aku juga tidak akan melewatkan kesempatan ini," sahut Irwan di seberang telpon.
"Bagus!"