
"Dimana?" tanya Alexa setelah sambungan telpon terhubung pada Ziko.
Alexa sengaja menghubungi Ziko karena tahu pria itu sedang berkunjung keapartemen Jesika untuk menenangkan.
Sudah Alexa katakan, dia akan memisahkan keduanya sebelum meninggalkan Ziko. Agar Ziko dan Jesika sama-sama bisa merasakan kehilangan orang yang mereka sayangi seperti yang dia rasakan dulu.
"Ada urusan sama Clien di luar kantor Sayang, kenapa hm?" balas Ziko diseberang telpon.
"Aku sangattttt merindukanmu, bisa pulang sekarang? Aku menunggumu dirumah dan membuat masakan sangat lezat dengan tanganku sendiri."
Hening, tidak ada jawaban dari seberang telpon.
"Ziko kau mendengarku?"
"Iya Sayang, aku pulang sekarang."
***
Jesika menatap jengkel pada Ziko setelah sambungan telpon terputus.
"Kamu beneran mau pulang dan meninggalkan aku sendiri Ziko? Aku butuh perhatian kamu sekarang" ucap Jesika menarik tangan Ziko agar tidak pergi dari kamarnya.
"Kamu bilang tidak cinta sama Alexa, tapi apa-apa kamu selalu mendahulukannya!"
"Sayang, aku melakukan ini demi kita."
"Sudahlah, berhenti sampai di sini saja. Tinggalkan dia Ziko, dan pergilah bersamaku!" rengek Jesika langsung memeluk Ziko dari belakang.
"Tidak, menjadi wakil presdir masih kurang Sayang. Kita harus mengusai harta Alexa dulu," bujuk Ziko.
Pria itu membalik tubuhnya dan membalas pelukan Jesika. "Tidurlah aku akan kembali nanti."
Meski tidak rela, Jesika tetap menganggukkan kepalanya. Memandangi kepergian Ziko dari kamarnya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bersama Alexa, Ziko. Kau milikku!"
***
Senyuman Alexa mengembang sempurna mendengar suara orang mengobrol di ruang tamu. Dia pastikan itu adalah Ziko.
Alexa meletakkan hidangan terakhir di atas meja kemudian menghampiri sang suami dengan senyuman merekah.
"Akhirnya suami aku datang juga. Aku kira pekerjaan lebih penting dari aku sendiri." Manja Alexa langsung memeluk lengan Ziko posesif.
Dia senyum kecut saat merasakan benda kenyal menyentuh keningnya.
"Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu. Ayo makan dulu! Setelah itu kita isitrahat bersama," lanjut Alexa.
"Makasih Sayang sudah bersedia menyiapkannya untukku," balas Ziko.
Pria itu segera duduk di kursi setelah meletakkan tas kerja juga jasnya di kursi lain. Menunggu Alexa menyiapkan makanan untuknya.
Entah ada apa dengan perasaanya saat ini. Dia sama sekali tidak ingin Alexa tahu perselingkuhannya, bukan karena tidak ingin kehilangan segalanya, melainkan takut kehilangan Alexanya.
Namun, di sisi lain dia juga tidak bisa meninggalkan Jesika. Dia masih mencintai dan menyayangi Jesika yang merupakan cinta pertamanya.
"Ayo makan Sayang." Alexa dengan sigap menuangkan nasi ke piring Ziko. Tidak lupa menambahkan berbagai lauk pauk.
Alexa melipat kedua tangannya di atas meja dengan senyuman mengenggam. Dia tidak ikut makan dan hanya memperhatikan Ziko yang terlihat sangat lahap, sepertinya benar-benar lapar.
"Enak?"
"Banget Sayang, andai saja kamu mau menyiapkan ini setiap hari untukku."
"Aku bukan pembantumu," celetuk Alexa membuat Ziko tersedak.
Pria itu buru-buru mengambil air minum. Kadangkala memang Alexa sering mengeluarkan kalimat menyakitkan.
Pergerakan Ziko yang hendak kembali menyantap makanannya terhenti saat merasakan sesuatu tidak nyaman.
Perutnya terasa melilit dan ingin buang air besar.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Alexa dengan raut wajah khawatir.
"Ak-aku ketoilet bentar." Ziko berlari meninggalkan meja makan karena tidak bisa menahan rasa sakit diperutnya.
Sementara Alexa kini tertawa sangat puas melihat wajah tersiksa Ziko. Dia beranjak dari duduknya.
"Semua makanan ini tolong dibuang!" perintah Alexa pada pelayan yang sejak tadi berdiri di antara mereka.
"Baik Nona."
"Pastikan siapapun tidak bisa memakannya!" peringatan Alexa dan menyusul Ziko yang sepertinya ke kamar.
"Ini baru permulaan Ziko karena kau berniat melukai orang-orang yang aku sayangi!" gumam Alexa dengan tangan terkepal hebat.
Jangan mengira Alexa akan memaafkan perbuatan Ziko begitu saja. Andai saja Eca tidak sigap, mungkin kedua orang tersayangnya telah tiada.