
"Lexa, Sean sekarang ada dirumah sakit dan akan dioperasi karena benturan di kepala sangat hebat, kakak tidak bohong," lirih Ricard hendak meraih tangan Alexa, tapi wanita itu menyentak sambil mengelengkan kepalanya.
"Suami aku tidak mungkin kecelakaan, suami aku baik-baik saja kak. Tadi pagi dia memanjakan aku sebelum pergi, dia .... Suamiku baik-baik saja!" teriak Alexa dengan air mata berderai.
Rasanya Alexa tidak ingin percaya dengan kabar yang baru saja dia dengar. "Har-harusnya aku menangis saja tadi pagi agar dia tidak pergi, ini salah aku. Ini salah aku." Alexa terus menrancau tak tentu arah.
Tubuh wanita itu terhuyung karena tidak bisa mengatur keseimbangan tubuhnya, kalau saja tidak ada Ricard, mungkin Alexa sudah terjatuh di depan pintu apartemen.
***
Alexa terus mengusap air matanya kasar, riasan yang ada di wajahnya perlahan-lahan memudar karena air mata. Tatapan wanita itu hanya tertuju pada satu ruangan. Ruangan dimana suaminya berada sekarang.
"Sean," lirih Alexa dengan suara seraknya. Wanita itu baru saja sadar dari pingsangnya karena tidak kuasa mengendalikan emosi sendiri.
Alexa semakin erat mengenggam tangan bundanya. "Suami aku Bunda," imbuh Alexa menantap Kania dengan air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa dicegah.
"Sean akan baik-baik saja Nak, dia tidak kenapa-napa," bisik Kania memeluk putrinya sangat erat.
Melihat tatapan penuh luka Alexa membuat siapa saja akan ikut terluka, apalagi tadi Alexa sampai berlutut di depan dokter dan meminta Sean diselamatkan apapun yang terjadi.
Hampir dua jam Alexa menunggu di depan ruangan operasi, tapi belum ada tanda-tanda ruangan itu akan terbuka untuk memberikan kabar baik.
"Aku mohon bertahanlah Sean, demi aku dan anak kita," lirih Alexa mengatupkan kedua tanganya dan berdoa pada Tuhan agar suaminya selalu mendapatkan perlindungan di dalam sana.
Alexa, Ricard dan Kania langsung berdiri setelah dokter keluar dari ruang operasi. Alexa melangkah mendekati sang dokter dengan kaki bergetarnya.
"Bagaimana dengan suami saya dokter? Dia baik-baik saja kan?" tanya Alexa.
"Kami belum bisa memberikan kepastian apapun Nona. Tuan Sean mengalami pendarahan otak karena benturan sangat keras, juga patah tulang di bagian kaki kiri. Operasi berjalan lancar dan kami berhasil mencegah pendarahan, tapi kondisi pasien masih kritis," imbuh sang dokter.
Air mata Alexa semakin deras mendengar jawaban dokter yang menangani suaminya. Dia mengedarkan padangannya yang buram untuk menatap bunda juga kakanya yang setia menemani.
"Kenapa Tuhan beri aku cobaan seberat ini Bunda? Aku dosa apa?" lirih Alexa hampir tidak terdengar.
Ricard yang melihatnya segera mendekati Alexa dan memeluk adik kesayangannya. "Sean pria yang kuat, kamu percayakan?" tanya Ricard dan dijawab anggukan oleh Alexa.
"Suami kamu pasti sembuh dan kembali kepelukan kamu lagi, sekarang tenangkan diri dan makanlah sesuatu. Kamu belum makan sejak siang," bisik Ricard.
"Aku tidak lapar, aku ingin bertemu Sean," lirih Alexa terus menatap ruang operasi, padahal suaminya telah dipindahkan keruang Intensif beberapa menit yang lalu.
Untuk saat ini keadaan Sean masih membutuhkan penjagaan ketat dari dokter kalau saja terjadi sesuatu secara tiba-tiba.
"Kamu akan menemuinya tapi tidak dalam keadaan hancur seperti ini, Lexa. Sean paling tidak suka kamu menangis, jadi sebelum menemuinya kamu harus terlihat cantik dulu," hibur Ricard berusaha tersenyum meski rasanya sangat sulit.
Pria itu paling tidak bisa melihat air mata keluar dari manik indah milik adiknya. Ricard menepuk-nepuk kepala Alexa pelan.
"Kamu mungkin tidak lapar, tadi ada nyawa lain yang sedang butuh makanan."
Alexa bergeming, rasanya untuk membalas setiap ucapan Ricard sangatlah sulit. Wanita itu masih belum bisa menerima sesuatu yang menimpanya.
"Andai saja aku tidak meminjamkan mobil, ini semua tidak akan terjadi kak. Harusnya aku yang kecelakaan bukan Sean."