Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 50 ~ Tidak ada maaf untuk pria sepertimu


"Apa aku harus mempercayai cinta dari pria sepertimu, Ziko? Mungkin ini terdengar konyol dan gila." Alexa senyum kecut saat akan menceritakan kebenaran tentang dirinya pada Zilo.


Kebenaran yang akan membuatnya dianggap gila. "Mungkin kau percaya reinkarnasi itu ada, tapi kau pasti tidak akan percaya kalau seseorang berreinkarnasi dengan membawa ingatan masa lalunya." Alexa menjeda sejenak dan menepuk dadanya.


"Aku tidak bodoh dan sudah belajar dari pengalaman Ziko, jadi aku tidak akan tertipu dengan cinta palsu dari mulut busukmu itu!"


Alexa menunjuk pintu perpustakaan yang terbuka lebar. "Keluar dari rumahku sekarang juga, kau bukan lagi suamiku!" usirnya.


"Tidak Lexa." Ziko mengelengkan kepalanya. "Aku tulus mencintaimu jadi jangan ceraiakan aku. Aku akan menebus semua kesalahanku dengan ...."


"Keluar!" ulang Alexa.


Ziko bergeming di tempatnya, membuat Sean yang mendapatkan kode dari Alexa segera bergerak dan menarik tangan kiri Ziko. Namun, pria itu menyentak seperti engang disentuh oleh Sean.


"Aku bisa pergi sendiri," ucap Ziko menatap sinis pada Sean. Pria itu kembali menatap istrinya, wanita yang telah berhasil dia cintai.


Jadi begini rasanya dibuang oleh orang yang kita cintai? Apa begini perasaan semua wanita yang telah dia permainkan sebelumnya?


Tangan Ziko terkepal di sisi tubuhnya. "Kau yang membuatku jatuh cinta Lexa, maka jangan salahkan aku jika terus mengejarmu," ucapnya dan pergi dari rumah mewah itu.


Di mana sekarang dia akan tinggal? Uang yang dia investasikan pada perusahaan Virtual tersebut bukan hanya uang perusahaan. Sebagian dari banyaknya adalah uang hasil penjualan rumah dan beberapa mobil yang dia miliki.


Semuanya hancur, kini Ziko telah berada di titik paling terandah di dalam hidupnya. Memang Ziko banyak menipu wanita, tapi uang itu telah habis karena berjudi terus menerus.


Entah berjudi online atau fisik, asalkan diiming-imingi sesuatu yang besar Ziko agar tergiur.


"Aakkkkkhhh, aku harus apa sekarang!" teriak Ziko frustasi, mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.


Pria itu mengendalikan mobilnya di jalan tidak tentu arah. Hanya mobil yang menjadi milik Ziko untuk saat ini dan mungkin akan menjualnya sebentar lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Aku harus menata hidupku kembali. Aku yakin Alexa akan menerimaku kembali jika menjadi lebih baik," gumam Ziko yang mulai sadar dengan perbuatan buruknya selama ini.


Karma? Mungkin. Baru kali ini Ziko mendapat wanita selicik Alexa dan sayangnya dia mencintai wanita itu.


"Jesika, ya aku bisa tinggal di apartemennya untuk saat ini," gumam Ziko. Ternyata dia tidak punya malu.


***


Wanita itu menoleh menghadap Sean. "Kau percaya? Atas dasar apa kau bisa mempercayai hal segila itu?" tanyanya berjalan menghampiri Sean.


"Akan saya jelaskan nanti Nona, sebaiknya kita ke kamar Nyonya untuk memastikan keadaanya," balas Sean.


"Ah ya kamu benar, aku sampai lupa sama bunda karena terlalu emosi." Alexa berjalan cepat menuju kamar bundanya yang berada di lantai dua.


Berjalan perlahan mendekati ranjang di mana seorang dokter tengah menangani bundanya.


"Dokter, apa bunda saya baik-baik saja?" tanya Alexa.


"Nyonya Kania baik-baik saja, Nona. Tadi Nyonya pingsan karena kaget."


Alexa mengangguk mengerti dan menatap Ricard yang duduk di sisi ranjang seraya mengenggam tangan bundanya.


"Sebisa mungkin jangan membuat Nyonya Kania mengalami keterkejutan seperti ini lagi, karena itu beresiko untuk kesehatan jantungnya," lanjut sang dokter.


"Saya mengerti Dokter," sahut Ricard. "Sean antar dokter Salsa kedepan!" perintahnya.


"Baik Tuan."


Dengan sigap Sean mengantar wanita berusia 35 tahun itu sampai di depan pintu.


"Saya akan mengantar Nona ...."


"Tidak perlu, suami saya akan datang sebentar lagi," tolak Salsa dengan senyuman ramah.


Sean mengangguk dan kembali ke kamar untuk menemui keluarga Jonshon. Dia berdiri tidak jauh dari ranjang, memperhatikan interaksi Ricard dan Alexa terdahap bunda Kania.


Tidak terasa senyum terbit di wajah Sean melihat keluarga tersebut, kini perasaanya telah lega karena berhasil menyingkirkan orang-orang yang berniat jahat pada wanita yang dia cintai.


"Sudah saatnya saya menceritakan semuanya pada Nona Alexa."


...****************...