Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 21 ~Jalan bersama


"Dalam rangka apa nih kamu ngajak aku jalan?" tanya Alexa terus berjalan beriringan dengan Sean di taman bunga yang sangat indah.


Memang setelah makan siang bersama, Sean mengajak Alexa jalan-jalan untuk menghibur diri setelah berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan membosankan.


"Bukan dalam rangka apapun, cuma mau jalan-jalan aja," sahut Sean. Tangan pria itu sesekali bergerak ingin mengandeng tangan Alexa, tapi selalu diurungkan sebab takut wanita bermata indah itu marah.


"Senyum mulu dari tadi."


"Karena aku bahagai Sean. Bahagia sudah buat Ziko dan Jesika kesal. Spertinya juga Ziko sebentar lagi jatuh cinta sama aku."


"Lalu setelahnya? Kalian bakal hidup bahagia?" tanya Sean memastikan. Sudah mempersiapkan diri tentang jawaban yang akan diberikan Alexa.


"Tentu tidak. Aku tidak mau kembali sama pria yang telah mengkhianati cintaku."


"Good, Alexa memang pintar." Puji Sean mengacak-acak rambut Alexa kemudian berlari untuk menghindari temannya.


Sean terus saja berlari sebab Alexa mengejarnya, hingga berhenti di salah satu bangku taman karena kelelahan.


"Rambut aku berantakan Sean!" kesal Alexa layaknya anak kecil.


"Tetap cantik kok. Duduk sini gih!" perintah Sean menepuk tempat di sampingnya.


Alexa segera duduk seraya merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Sean. Sesekali dia melirik pria di sampingnya.


Pria yang selalu ada dan membantu keluarganya sejak dulu.


"Jangan liatin aku kayak gini, gimana kalau aku salting hm?"


"Ya aku tanggung jauh lah!" sahut Alexa tertawa.


Wanita bermata indah itu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mendongak untuk menatap langit-langit taman yang dijalari bunga sangat indah.


"Sebenarnya aku lebih suka kamu yang gini Sean. Tidak formal," guman Alexa.


"Tidak berlaku saat jam kerja, aku harus profesional."


"Tapi aku kesal mendengarnya!"


***


Hari mulai gelap, telah banyak waktu yang Sean habiskan bersama Alexa hari ini. Tidak lupa Sean mengabadikan setiap momen yang tercipta di antara mereka.


Mungkin Alexa mengira jalan-jalan yang Sean lakukan tanpa rencana. Namun, kenyataanya Sean mempersiapkan semua list tempat yang akan mereka kunjungi hampir satu minggu lebih.


Tapi waktu yang dia buang kini tidak sia-sia sebab berhasil mendapatkan momen indah dalam hidupnya bersama Alexa.


"Sesi terakhir sebelum pulang," ucap Sean menuntup pintu mobil.


Di tangan pria itu ada dua gelas cup kopi untuknya juga Alexa.


"Aku kira tadi nonton dibioskop seperti biasa, ternyata ... Ck." Alexa berdecak melihat sekitarnya.


Bisa dibilang dia dan Sean sedang nonton dibioskop indor. Dimana mereka menonton dari dalam mobil masing-masing.


"Tau aja."


Terjadi keheningan saat film mulai diputar. Mereka tengah menonton film bertema romansa.


Keduanya sampai larut dalam film, hingga tidak sadar tangan mereka saling bertaut dan mengenggam satu sama lain saat adengan memilukan terjadi.


Adengan dimana kedua tokoh utama harus berpisah karena kesalahan masing-masing.


Tepat setelah film selesai, Alexa baru sadar kalau sejak tadi dia mengenggam tangan Sean.


"Ah aku terbawa suasana tadi," celetuk Alexa menarik tangannya. Menyesap kopi yang dia letakkan di dasbor mobil hingga tadas. Sean melakukan hal yang sama karena salting.


"Ada lagi?" tanya Alexa.


"Pulang," jawab Sean dan dijawab anggukan oleh Alexa.


***


Dentingan sendok demi dentingan mulai terdengar di meja makan. Tidak ada pembicaraaan yang terjadi dalam aktivias mereka.


Terlebih Ricard yang sejak tadi memasang aura menyeramkan sebab harus satu meja makan dengan Ziko.


"Kenapa Lexa belum pulang Ziko? Bukannya dia berangkat sama kamu tadi?" tanya Kania membuka pembicaraan di meja makan.


"Lexa pergi sejak makan siang bersama Sean, Bunda."


"Ah sama Sean." Kania mengangguk-angguk mengerti dan kembali menyantap makanannya.


Berbeda dengan Ziko yang tidak suka dengan respon Ricard dan Kania. Keduanya seperti mendukung Sean dan Alexa bersama.


"Jangan terlalu pikirkan mereka Ziko. Mereka teman baik jadi sudah biasa pergi bersama," celetuk Kania.


"Tapi sekarang Alexa sudah menikah Bunda, harusnya dia lebih tahu ...."


Kalimat Ziko terjeda karena dentingan sendok yang diletakkan dia atas meja terdengar nyaring. Pelakunya tidak lain adalah Ricard.


"Aturlah Lexa jika dia sudah datang, jangan ceramah di meja makan!" ucap Ricard penuh tekanan dan berlalu pergi.


"Ricard, habiskan makanan kamu Nak!" teriak Kania.


"Aku sudah kenyang Bunda."


Kania menghela nafas panjang dan beralih menatap menantunya. "Sikap Ricard memang susah ditebak Nak. Tapi sebisa mungkin jangan membicrakan keburukan Alexa di depannya, dia tidak suka kalau adiknya menjadi bahan perbincangan," ucap Kania memberitahukan.


"Maaf Bunda, aku tidak tahu tentang hal itu."


"Tidak apa-apa. Ah iya, bunda dengar dari pelayan kalau kamu membawa sekretaris kerumah ini. Apa itu benar?"


"Be-benar Bunda."


"Cukup sekali saja ya? Bunda tidak suka ada orang asing masuk kerumah ini tanpa ada urusan penting!"