Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 82 ~ Irwan yang sebenarnya


Sean segera keluar dari ruangannya ketika Ricard memerintahkan dia untuk berkunjung ke ruangan pria itu. Mengetuk pintu sebanyak tiga kali sebelum masuk ke ruangan Ricard.


"Ada apa Tuan?" tanya Sean.


"Apa kau tidak bisa mewakili saya keluar negeri selama tiga hari?" tanya balik Ricard.


Sean menunduk, untuk kali pertamanya dia ragu mengiyakan permintaan dari atasanya. Ayolah dia baru saja menikah dengan Alexa, masa iya harus terpisah karena pekerjaan.


"Kau tidak mau?" tanya Ricard lagi.


"Bukan tidak mau Tuan, saya akan ...."


"Sudahlah saya bisa sendiri. Dari awal sudah saya tebak kamu tidak mungkin rela berpisah bersama adik kesayanganku." Ricard tertawa di akhir kalimatnya. Ternyata sangat menyengkan mengejai Sean yang bucinnya sudah tidak tertolong lagi.


Lirikan Ricard tertuju pada leher Sean. "Ternyata kamu sangat cerdik," sindirnya ketika melihat bekas kemerahan dileher adik iparnya telah ditutupi hansaplast.


"Tentu Tuan, jika tidak cerdik saya tidak mungkin menjadi asisten Tuan." Bukannya merendah, Sean malah membanggakan dirinya sendiri tanpa rasa malu.


"Sepertinya tingkat kepecayaan dirimu berada diatas rata-rata Sean." Ricard mengulum senyum. Pria itu mengulurkan tangannya pada Sean.


Dengan sigap Sean menyerahkan berkas yang akan dibawa Ricard keluar negeri.


"Saya sudah menyiapkan semuanya Tuan, besok tinggal pergi saja."


"Bagus," puji Ricard.


Setelah berbasa-basi cukup lama dengan Ricard, Sean akhirnya meninggalkan ruangan kakak iparnya tersebut. Terlebih jarum jam sudah menunjukkan angka setengah tiga, istrinya sebentar lagi akan pulang.


Pria itu meninggalkan perusahaan setelah memastikan semua pekerjaanya telah beres. Kini waktunya bertemu dengan istri tercinta.


***


"Sering Grayana," guman Alexa. Dia mulai mengetikkan nama tersebut di kolom pencarian tapi tidak menemukan informasi apapun tentang wanita itu.


"Apa sebenarnya yang wanita itu ingingkan?" tanya Alexa entah pada siapa. Yang pasti, wanita itu terus saja mencari informasi tentang Serin.


Ayana Group


Kali ini Alexa mengetikkan dua kata tersebut untuk mencari tahu tentang perusahaan Ayana Group.


Perusahaan entertaimen yang menaungi beberapa aktris, aktor dan model papan atas yang sering kali menjadi bintang iklan.


"Bahkan Ayana Group tidak pernah kerja sama dengan perusahaan, tapi kenapa putrinya mengenal Sean?"


Sungguh, kepala Alexa ingin meledak karena Serin-serin wanita jadi-jadian itu. Alexa menutup laptopnya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi karena lelah.


Tanpa sadar sejak tadi Irwan memperhatikan semua kegiatan Alexa, bahkan pria itu mengintip apa yang menjadi pencarian Alexa hingga terlihat sanga serius.


Irwan segera meninggalkan ruang guru untuk mencari tempat lumayan sepi karena akan menelpon seseorang.


Pria itu mendial kontak seseorang.


"Berhati-hatilah Alexa dan Sean mulai menyelidiki semua tentangmu," ucap Irwan pada sepupunya.


"Kau tidak perlu kawatirkan apapun Irwan, mereka tidak akan bisa mendekatiku dengan mudah. Ah ya, bagaimana dengan misi yang aku berikan?" tanya Serin di seberang telpon.


"Terlalu sulit sungguh, Alexa bukan wanita yang gampang tergoda oleh pria tampan sepertiku."


"Kau merasa tampan?" tanya Serin dengan nada meledek. "Di dunia ini hanya dua orang tampan di hidupku, Irwan. Ayah dan seseorang."


"Terserah apa mau kamu, tapi sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia wanita yang sangat cantik dan penuh wibawa."


"Ambilah aku tidak masalah tentang itu." Suara tawa licik terdengar di seberang telpon.


Irwan segera mematikan panggilannya ketika melihat Alexa keluar dari ruang guru. Pria itu berlari untuk mengimbangi langkahnya dengan Alexa.


"Kamu mau pulang?" tanya Irwan basa-basi.


"Hm," sahut Alexa. Dia terus saja melangkah tanpa melirik Irwan meski sejenak saja.


"Apa kita bisa pulang bersama? Saya akan mengantar kamu dengan selamat sampai rumah," tawar Irwan.


"Sepertinya tidak perlu pak Irwan, tanpa diantarpun saya bisa sampai dengan selamat," sahut Alexa terkesan Arogant. Siapa peduli? Alexa tidak suka jika seseorang berusaha mendekatinya tanpa tujuan yang jelas.


Senyuman Alexa mengembang saat dari kejauhan melihat mobil milik suaminya ada di depan pagar sekolah.


"Saya akan mengambil mobil, kamu tunggu di pagar saja," ucap Irwan tanpa peduli dengan penolakan Alexa.