Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 48 ~ Drama di dalam Drama


Terkait hal-hal yang mengusik Jonshon group tentang investasi abal-abal yang hampir saja menjatuhkan saham perusahaan, saya presdir Jonshon Group resmi mengeser posisi Ziko dari posisinya sebagai Wakil presdir.


Terkait perusahaan virtual tersebut akan segera di tayangkan.


Tangan Ziko terkepal hebat di sisi tubuhnya melihat siaran langsung yang tengah terjadi di perusahaan Jonshon. Bisa-bisanya dia digeser dari posisinya tanpa diskusi lebih dulu.


Investasi abal-abal? Sungguh Ziko tidak percaya akan hal itu karena selama ini dia tidak menemukan keganjalan pada perusahaan tempatnya berinvestasi.


Tangan Ziko reflek memeriksa sosial media dan namanya sedang ramai diperbincangkan oleh orang-orang.


Tentang ketidak cakapannya dalan memimpin perusahaan, juga banyak yang mengungkapkan tidak ada yang mau mempekerjakan Ziko yang notabenya minim ilmu tentang dunia bisnis.


"Berani-beraninya kau menipuku Lexa!" geram Ziko mengepalkan tangannya.


Pria itu melangkahkan kakinya hendak keluar rumah, tapi kedatangan bunda Kania menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Nak, kamu sudah menonton berita?" tanya Kania.


"Iya Bunda."


Kania menghela nafas panjang, mengelus lengan Ziko penuh kasih sayang. " Cobaan dalam berbisnis itu memang menyeramkan Nak. Jatuh bukan berarti kita tidak bisa bangkit lagi. Jangan kecewa pada keputusan istrimu ya, dia mengambil jalan ini karena ingin menyelamatnya perusahaan," nasehat Kania yang tida tahu apapun tentang kongkalikong anak-anaknya.


"Tapi Bunda, posisiku telah digeser begitu saja tanpa ada diskusi apapun, itu sama saja Alexa tidak menghargaiku sebagai seorang suami." Urat-urat leher Ziko menonjol sakin marahnya.


Posisi yang susah payah dia dapatkan dengan kerja keras harus hilang begitu saja karena wanita yang telah dia percayai dan mulai dia cintai.


"Lalu apa kau selama ini menghargai adikku?" suara tegas itu mengintrupsi dari pintu utama.


Ricard telah berdiri tegas di sana seraya menatap Ziko penuh kebencian.


"Kau membicarakan tentang menghargai seorang suami di depan bundaku?" Ricard senyum sinis. "Apa kau pernah menghargai seorang istri sialan!" bentak Ricard berapi-rapi.


Kini kesabarannya sudah habis dan tidak akan dia tahan-tahan lagi. Alexa telah mengakhirinya maka dia akan mengambil bagiannya sendiri.


Ricard berlari menghampiri Ziko dan menerjang tubuh itu dengan satu tendangan hingga Ziko terhempas tepat di samping vas raksasa milik Kania.


"Ricard cukup Nak! Dia adik ipar kamu!" cegah Kania menahan tubuh Ricard.


"Dia sudah berani menyakiti hati Lexa, Bunda. Dia telah membuat senyum ceria dan tulus Alexa hilang! Pria tidak tahu diri ini telah membuat adikku menjadi wanita jahat!" geram Ricard dalam pelukan bundanya.


Ricard sangat mengerti senyuman Alexa, bahkan hal-hal kecil saja Ricard tahu tapi selama ini pura-pura bodoh karena tidak ingin adiknya terlihat lemah.


Setiap melihat senyum Alexa, hati Ricard terluka karena senyuman itu hanya palsu. Adiknya selama ini pura-pura terlihat kuat meski hatinya sangat rapuh.


Ricard sering kali mendengar tangisan Alexa di perpustakaan saat di malam hari, tapi paginya wanita bermata indah itu selalu terlihat baik-baik saja.


Dia bersikap bodoh amat hanya karena membiarkan Alexa membalas dendamnya sendiri, bukan karena memberi Ziko waktu untuk bersenang-senang, Ricard tidak sebaik itu.


Selama ini pergerakan Sean bukan murni perintah dari Alexa, melainkan perintah dari Ricard sendiri.


"Dia harus mati ditanganku ...."


"Cukup!" teriak Alexa yang baru saja datang bersama Sean. Wanita itu berlari dan membantu Ziko agar segera bangun.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Alexa memastikan tubuh Ziko tidak cedera.


"Alexa! Sudah cukup sandiwaranya, akhiri sekarang!" perintah Ricard.


"Tidak kak, aku mencintai suamiku lalu apa yang harus aku akhiri?"


"Kamu mau bersandiwara di depan siapa lagi Lexa? Kakak-Bunda? Cukup menyiksa diri sendiri!"


"Aku tidak bersandiwara apapun kak Ricard."


"Akhirilah Nona," celetuk Sean menyerahkan sebuah map kepada Alexa.


"Tidak Sean, suamiku harus selamat dan tangannya harus sembuh untuk menantangani sesuatu." Alexa senyum sinis, membuat Ziko yang pura-pura lemah itu mendongakkan kepalanya.