Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 149 ~ Hemiparesis


Masih dalam masa pemulihan setelah koma, Sean belum di perbolehkan pulang oleh dokter, hal itu membuat Sean kesal.


Sean sangat ingin pulang kerumahnya dan berduaan dengan istri tercinta. Tinggal dirumah sakit hanya akan membuat Alexa menderita dan bisa saja sakit karena virus orang sakit.


"Aku mau pulang Lexa, kondisiku sudah jauh lebih baik," rengek Sean menarik-narik tangan Alexa yang sibuk membersihkan dada Sean dengan handuk basah.


"Diamlah Husbu! Dokter lebih pintar darimu," kesal Alexa menghentikan pekerjaanya dan menatap Sean kesal.


Sudah tiga hari sejak Sean terbangun dari koma tapi belum juga diperbolehkan pulang, itulah mengapa Sean bertingkah seperti anak kecil saja.


"Di rumah ataupun rumah sakit sama saja Lexa."


"Tidak sama, jadi menurutlah Husbu!" balas Alexa penuh tekanan.


Sean menghembuskan nafas panjang, pria itu melirik perut Alexa yang mulai terlihat. Rasa kesalnya langsung berubah menjadi senyuman.


"Aku ingin menjenguk baby kita, mereka pasti kangen Lexa," cengir Sean hingga mendapat cubikan diperut oleh Alexa.


"Mulai ya mesumnya suami aku. Ingat tidak ada jenguk- menjenguk sampai Husbu benar-benar sembuh. Jadi kalau mau bertemu baby kita, Husbu harus sabar sampai dokter memperbolehkan pulang!"


"Baiklah Bunda," pasrah Sean dan kembali membaringkan tubuhnya.


***


Dua pasang mata seseorang tampak berbinar menikmati pelangi yang indah menghiasi langit setelah hujan lebat turun membasahi bumi. Senyuman sepasang suami istri itu mengembang karena sangat bahagia masih bisa menikmati indahnya pelangi, saling mengenggam tangan di salah satu taman dekat rumah sakit.


Sepasang suami istri itu tidak lain adalah Alexa dan Sean. Alexa sengaja mengajak suaminya jalan-jalan di sore hari agar tidak merasa jenuh di ruang perawatan.


Alexa menunduk untuk mengecup bibir Sean yang duduk di kursi roda.


"Aku bahagia karena masih bisa menikmati pelangi bersamamu," ucap Alexa setelah mengecup bibir Sean.


"Dan aku bahagia karena bisa menemukan wanita yang mengalahkan cantiknya pelangi."


"Hm, selain cantik, wanita itu mau menerima aku apa adanya. Menerima suami yang akan menyusahkannya mungkin seumur hidup," lanjut Sean semakin mengenggam tangan Alexa yang berdiri di belakangnya.


Tidak pernah terbayangkan oleh Sean bahwa dia akan menjadi beban untuk istrinya yang sedang hamil. Namun, menyerah tidak pernah Sean lakukan sebab tahu hal itu hanya akan membuat Alexa semakin bersedih.


Alexa ingin membersamainya meski kehilangan fungsi salah satu kaki adalah samangat Sean untuk tetap sembuh. Sean yakin suatu hari nanti akan ada saatnya dia bisa berjalan dengan normal dan mengendong istrinya sesuka hati.


Alexa yang melihat Sean terdiam sambil menatap pelangi segera mengeser posisinya berlutut di samping kursi roda. Untung saja wanita itu memakai celana kain panjang, jadi rumput tidak akan melukai lutut mulusnya.


"Aku tidak peduli dengan kekuranganmu, yang aku tahu hanya mencintaimu," cetus Alexa dengan senyum tulusnya.


Wanita itu menunduk untuk mengelus perutnya. "Aku dan anak-anak kita nanti akan terus bersamamu meski di titik terandah sekalipun. Jadi jangan pernah putus asa Husbu. Dokter mengatakan kaki kamu akan sembuh."


"Kamu benar." Sean menganggukkan kepalanya tanpa ingin memberitahukan apa yang telah dokter katakan padanya tadi saat Alexa berada di kamar mandi.


Sean menderita penyakit Hemiparesis, itulah mengapa salah satu sisi tubuh Sean mengalami kelemahan sehingga sulit digerakkan. Jika tidak diobati dengan serius, maka akan menyebabkan kelumpuhan permanen.


Itu semua terjadi karena adanya kerusakan jaringan pada salah satu sisi otak yang di akibatkan cidera kepala saat kecelakaan. Terlebih Sean sempat mengalami pendarahan otak lumayan hebat.


"Ayo masuk, udaranya semakin dingin. Aku tidak mau kau dan anak kita sakit!" ajak Sean menarik tangan Alexa.


Sebenarnya Sean bisa berjalan jika menggunkan tongkat, tapi Alexa melarang karena tidak ingin suaminya berusaha terlalu berlebihan.


"Ayo Husbuku Sayang!" sahut Alexa mendorong kursi roda kembali kekoridor rumah sakit yang akan membawa mereka keruang perawatan.


Sesekali Alexa akan menunduk hanya untuk mencium pipi maupun bibir Sean.


"Besok jadwalku periksa, kita bisa pergi bersama," ucap Alexa setelah mereka sampai di ruang perawatan.


"Tentu, aku ingin melihat perkembangan anak-anak kita," sahut Sean.


Pria itu berusaha mengerakkan kakinya ketika dibantu oleh Alexa naik ke brangkar, tapi sia-sia saja. Kaki itu tidak berfungsi dengan baik.