Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 104 ~ Menghasut


Serin tidak henti-hentinya meringis karena rasa perih di pipi juga tangannya. Sungguh wanita itu sangat kesal pada Alexa karena tidak bisa mendesiplikan Kucing-kucing kurang ajarnya tersebut.


Dia berdiri ketika melihat Kania telah kembali setelah mengantar kepergian Alexa. Sayangnya, Kania melewati Serin begitu saja.


"Tante?" panggil Serin sedikit manja.


"Bunda mau ketemu Delia dulu Nak," sahut Kania terus berjalan menapaki satu persatu anak tangga.


Langkah Kania berhenti di ambang pintu kamar Ricard saat melihat pemilik kamar tengah bermesraan.


Delia yang menyadari kadatangan mertuanya segera turun dari pangkuan Ricard, ah tadi wanita itu lupa menutup pintu.


"Maaf, Delia tidak melihat bunda," ucap Delia sangat sopan. Karena biasanya Kania begitu sinis padanya.


"Tidak apa-apa, wajar kan suami istri bermesraan di kamarnya sendiri," sahut Kania. Tanpa abah-abah wanita paruh baya itu memeluk menantunya cukup erat. Menepuk pundak Delia perlahan seraya membisikkan sesuatu.


"Maaf kalau selama ini bunda memperlakukan kamu dengan buruk Nak, bunda benar-benar tidak sadar melakukannya," bisik Kania penuh penyesalan.


Setelah diingatkan oleh Alexa, barulah mata Kania terbuka sepernuhnya dan sadar telah menyakiti hati menantu yang sangat baik seperti Delia.


"Bunda tidak pernah memperlakukan Delia buruk kok. Delia malah senang karena akhirnya mendapatkan seorang ibu yang sayang sama Delia," balas Delia.


Selama ini yang tulus menyanyanginya memang hanya Kania, ibu tirinya saja rela menjualnya pada pria yang telah resmi menjadi mantan suaminya.


"Kalau nanti bunda ada salah, bicaralah pada siamimu, agar dia menegur bunda."


"Iya Bunda."


Delia tersenyum setelah pelukan itu terlerai, hatinya merasa tenang kembali mendapatkan tatapan teduh itu dari Kania. Dia melirik suaminya yang tengah memperhatikan disofa, sementara yang dilirik hanya menganggukkan kepala.


"Apa Ray sudah tidur? Bunda ingin membawanya tidur di kamar Bunda. Kalian buatlah yang baru."


"Kamu suka kan? Jangan lupa asinya siapkan dan bawa ke kamar bunda," ucap Kania dan berlalu pergi.


Saat itulah Ricard menghampiri istrinya dan memeluk Delia dari belakang. "Kamu dengar apa kata bunda hm? Kita disuruh buat dedek untuk Ray," bisik Ricard.


Acara romantis-romantisannya tadi harus tertunda karena kedatangan bundanya.


"Beri aku satu bulan untuk pemulihan Ricard, ini baru tiga minggu. Satu minggu lagi," balas Delia membuat Ricard seketika cemberut.


***


"Tante?" panggil Serin setelah Kania keluar dari kamar Delia. Wanita itu menghampiri Kania dan langsung memeluknya.


"Kenapa?" tanya Kania.


"Aku tahu tante terganggu dengan ucapan Lexa, tapi itu tidak benar kok. Selama ini tante tidak pernah membeda-bedakan siapapun, jadi tidak perlu merubah apapun," bujuk Serin agar keluarga Alexa semakin hancur.


"Tidak Nak, yang dikatakan Alexa ada benarnya, selama ini bunda tidak memperhatikan Delia dan bahkan sering kali menyalahkan hanya karena hal-hal kecil."


"Dasar wanita tua, apa kau tidak bisa menurut padaku saja?" bantin Serin kesal karena Kania mulai sulit dia kendalikan. Memang keberadaan Alexa sangat berbahaya untuknya, sepertinya serin harus menjalankan rencanya bersama Irwan lebih cepat lagi agar dia bisa hidup dengan tenang.


"Aku mengerti kok bagaimana perasaan tante, apalagi kak Delia datang kerumah ini membawa anak yang katanya darah daging kak Ricard, padahal mereka sudah lama putus. Keraguan itu pasti ada, tapi aku tahu tante adalah wanita yang bijak." Lagi Serin mencoba menyiram bensin pada api yang mulai redup.


Keahlian Serin, yaitu memprovokasi seseorang dibalik kata-katanya yang manis, hingga hanya orang-orang tertuntu saja yang bisa mengenali niat yang sebenarnya.


"Kak Delia wanita baik-baik jadi dia tidak mungkin masuk kekeluarga kita dengan membawa anak dari hasil pria lain agar bisa menjadi bagian dari kita. Iya kan tante?" tanya Serin.


Diam-diam Serin tersenyum licik melihat ekspresi Kania yang sepertinya akan kembali terpancing.


"Jangan pernah ragukan Ray sebagai cucu tante, karena itu memang cucu tante Kania."