Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 8 ~ Kisah Pilu


"Apa yang sudah kamu temukan tentangnya?" tanya Alexa di seberang telpon.


Wanita bermata indah itu tengah bertelponan dengan Sean. Duduk di balkon kamarnya dan memperhatikan gerbang untuk menunggu kepulangan Ziko dari perusahaan.


"Saya belum menemukan apapun kebusukannya di perusahaan Nona. Sepertinya dia belum bergerak terlalu jauh."


"Bagaimana dengan Jesika?"


"Tinggal sendirian di sebuah apartemen."


"Awasi pergerakan mereka berdua!"


"Baik Nona."


Alexa memutuskan sambungan telpon setelah melihat mobil mewah memasuki pekarangan rumah. Dia segera beranjak untuk menyambut kedatangan Ziko layaknya istri yang baik.


Mencium punggung tangan suaminya setelah sampai di depan pintu.


"Kenapa pulang terlalu larut?" tanya Alexa.


"Aku tadi banyak pekerjaan Sayang, makanya pulang telat. Kenapa hm? Kamu kangen sama aku?" Ziko mengecup kening Alexa.


Berjalan beriringan menuju ruangan yang sangat luas dan hanya di lalui oleh para pelayan, sebab Ricard dan Kania sedang tidak ada di rumah. Lebih tepatnya ada urusan masing-masing dan entah akan pulang kapan.


"Tentu aku merindukan suamiku," sahut Alexa sangat manja. "Ganti baju dan turun untuk makan malam!" lanjutnya.


"Makan malamnya nanti saja Lexa. Bagaimana kalau kita melakukan hal lain dulu hm?" bisik Ziko. Tanpa abah-abah langsung mengendong tubuh Alexa menuju kamar.


Membaringkan wanita bermata indah itu di atas ranjang sangat lembut. Ziko senyim simpul saat Alexa mengecup bibirnya sekilas.


"Kau menggodaku?"


"Kenapa tidak? Bukankah kamu menyukainya?" tantang Alexa.


Alasan wanita bermata indah itu tidak mengizinkan Jesika dan Ziko berhubungan karena Alexa tidak ingin berbagi lagi. Cukup malam itu saja tidak ada lagi malam-malam lainnya.


"Kau sungguh mengemaskan." Ziko mengecup bibir Alexa, tapi wanita bermata indah itu malah menyesapkan cukup dalam seperti menyuruh Ziko melakukan hal lebih.


Ini salah satu trik Alexa agar Ziko tidak bisa jauh darinya. Terlebih Ziko termasuk pria hyper sek*s.


"Kau sangat hebat Sayang," puji Alexa di sela-sela gencatan senjata.


Keduanya terkulai lemas setelah terbang bersama ke dalam lembah kenikmatan. Alexa memeluk tubuh Ziko cukup erat.


"Terimakasih Sayang," bisik Ziko.


"Hah, kata-kata yang selalu keluar dari mulut pria brengsek setelah esek-esek," batin Alexa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ziko tanpa penghalang apapun.


***


Alexa terkejut bukan main ketika seseorang memeluknya dari belakang. Dia langsung saja memutus telpon begitu saja. Sangat diuntungkan dia memakai headset atau Ziko akan mendengar apa yang dikatakan Sean di seberang telpon.


Wanita bermata indah itu segera merubah wajah terkejutnya dengan senyuman. Membalik tubuhnya dan membalas pelukan Ziko. Mengalungkan tangan di leher sang suami.


"Buat apa?" tanya Ziko.


"Susu, mau juga?" tawar Alexa dan dijawab anggukan oleh Ziko.


Wanita bermata indah itu segera menuangkan susu pada gelas kemudian meletakkan di atas meja.


"Minum dulu, setelah itu mandi. Aku mau ke ...."


"Tinggalah Sayang." Ziko menarik tubuh Alexa hingga terjerambah di pangkuannya.


"Aku belum mandi, jadi sarapanlah sendiri Ziko." Alexa segera meninggalkan dapur dan menuju kamar Eca. Memanjakan kucing kesayangannya adalah prioritas untuk saat ini.


Toh Alexa tidak ada pekerjaan lain yang akan membuatnya repot. Dia duduk di salah satu kursi dan memangku Eca, mengelus bulu lebat kucing tersebut.


"Makasih Eca sudah beri aku petunjuk tentang pengkhiatan Ziko. Aku jadi berpikir, apa yang aku alami di kehidupan sebelumnya seperti ini juga. Ziko mengkhianati aku di hari malam pengantin, tapi aku tidak mengetahuinya sebab saat itu kamu tidak bersamaku," gumam Alexa mulai mengenang sesuatu.


Meski sudah sangat lama, kenangan menyakitkan saat dia harus kehilangan anak dan nyawanya masih membekas di hati.


"Eca, bantu aku untuk memperbaiki apa yang salah. Dulu aku kehilangan Bunda dan kakak karena kecelakaan, semoga itu terjadi di masa kini."


Alexa memejamkan matanya, air mata langsung meluncur membasahi pipi mulusnya. Kenangan masa lalu sungguh menyakitkan.