Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 118 ~ Pasangan Sempurna


"Mau ikut?" tanya Sean membelai rambut istrinya yang masih saja berbaring di atas ranjang, sementara Sean duduk di sisi ranjang dengan setelan jas kerja. Pria itu telah rapi dan akan berangkat kerja sebentar lagi.


Alexa mengelengkan kepalanya dan semakin menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. Udara dingin setelah hujan, membuat wanita hamil itu semakin malas bergerak.


"Aku akan menyusul setelah matahari terbit Husbu, lagian ada yang ingin aku bicarakan tentang Serin dan Ziko," sahut Alexa. Dia terus menikmati sentuhan Sean di pipinya.


Tangan Alexa bergerak meraih tangan Sean lalu mengecupnya. "Berangkatlah Husbu!"


"Baiklah, kabari aku jika kamu ingin ke kantor." Sean segera beranjak dari duduknya setelah mengecup kening sang istri.


Berjalan keluar dari kamar dan menemui yang lainnya di lantai bawah. Setelah berdisikusi cukup lama dengan Alexa, akhirnya Sean memilih tinggal di rumah mertuanya untuk sementara waktu. Mungkin sampai dokter mengatakan kondisi kandungan Alexa baik-baik saja.


Sekarang Sean menurunkan Egonya yang tidak ingin menumpang dirumah mertua, hanya karena keselamatan Alexa.


Pria itu ikut duduk di meja makan bersama Ricard dan Delia, sementara Kania telah pergi entah kemana.


"Bagaimana tentang cabang yang ada di Sanghai?" tanya Ricard.


"Aku akan mengurusnya dari sini. Aku sudah memeriksa semua apa yang terjadi, dari masalah yang aku lihat, sepertinya tidak perlu berkunjung jauh-jauh ke sana," jelas Sean.


"Kau memang selalu bisa diandalkan," puji Ricard dengan senyum tulusnya. Pria itu sedang mengendong putranya, dan sarapan disuapi sang istri tercinta.


"Jika kau memerlukan bantuan, kabari saja aku Sean."


"Tentu."


Setelah sarapan bersama, Sean akhirnya meninggalkan rumah orang tua Alexa. Segudang pekerjaan telah menanti pria itu di kantor. Belum lagi urusannya dengan Serin yang tidak kunjung selesai.


***


"Bunda, aku akan ke kantor hari ini," izin Alexa yang telah rapi dengan setelan casual.


"Jangan mengendarai mobil sendirian Lexa, panggillah Sopir untuk mengantarmu," imbuh Kania.


"Aku tahu Bunda. Lagian aku tidak ingin membuat suamiku marah." Alexa menghampiri bundanya yang duduk di ayunan bersama Raymond.


"Halo putra tante yang tampan. Tante pergi dulu ya, mainnya setelah tante dan om pulang," cetusnya pada Raymond.


"Hati-hati tante, kalau jalan jangan suka main hp," celetuk Delia ikut duduk di samping Kania.


Mertua dan menantu itu kembali akur setelah mengalami banyak perdebatan dirumah tanpa sepengetahuan Alexa.


"Dadah." Alexa melambaikan tangannya dan segera masuk ke mobil yang telah siap untuk pergi. "Ke kantor ya pak," imbuhnya dan dijawab anggukan oleh sang sopir.


Sepanjang jalan, Alexa memainkan ponselnya. Bukan menghilangkan kegabutan, tapi mengurus hal yang sangat penting.


Setengah jam lagi saya sampai di perusahaan, kita bertemu disana saja. Kebetulan Sean bersamaku.


Itulah isi pesan terakhir yang Alexa kirimkan. Wanita bermata indah itu turun setelah mobil terparkir rapi di depan perusahaan Jonshon Group.


Senyuman Alexa mengembang melihat Sean berdiri dengan gagahnya di depan pintu.


"Kau menungguku?" tanya Alexa menghampiri Sean, tidak lupa mengecup pipi suaminya tanpa peduli orang-orang sekitar.


"Haruskah aku menjawabnya my Wife?" bisik Sean. Pria itu langsung mengenggam tangan Alexa dan memasuki lobi yang telah ramai dengan lalu lalang karyawan.


Mereka telah sibuk dengan pesanan produk yang semakin membludak setelah memasuki pasar beberapa minggu yang lalu.


"Mereka terlihat sangat serasi. Entah siapa yang beruntung di antara Nona Lexa dan Tuan Sean," bisik karyawan yang sejak tadi memperhatikan bosnya.


"Intinya sama-sama beruntung sih. Nona Alexa kaya raya dan mempunyai cinta yang tulus, sementara Tuan Sean pria yang bertanggung jawab juga tidak arogant."


"Pasangan yang sempurna," imbuh yang lainnya.


"Sssttttt, berhenti bergosip. Kau lupa kita sedang sibuk?" tegur teman-teman yang lain.


Mereka akhirnya tertawa dan segera membubarkan diri ke devisi masing-masing untuk mengerjakan sesuatu.