Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 35 ~ Pekerjaan baru


Dengan penuh senyuman di wajahnya, Ziko meninggalkan ruang kerja untuk menemui sang istri. Dia berencana akan mengajak Alexa makan siang bersama.


Kini suasana hati Ziko sangat baik karena berhasil menemukan perusahaan yang bisa membuatnya kaya dalam sekejap.


"Setelah aku mempunyai banyak uang, maka kau tidak bisa merendahkan harga diriku lagi Lexa," gumam Ziko.


Pria itu mengetuk pintu sebentar sebelum memasuki ruangan presdir.


"Sayang?" panggil Ziko.


"Kenapa?" sahut Alexa yang baru saja keluar dari ruangan pribadinya.


"Ayo Sayang, sebentar lagi makan siang tiba," ajak Ziko langsung mengenggam tangan Alexa bergitu saja.


Berjalan menyusuri lantai paling atas menuju lift yang akan membawa mereka ke basemen.


"Mau makan siang di mana? Kau tidak akan meracuniku lagi kan?" sindir Alexa.


Wanita bermata indah itu memasang sabuk pengamannya sendiri. Menyandarkan tubuhnya dengan nyaman setelah mobil perlahan-lahan melaju dengan cepat.


Alexa melirik tangannya yang masih di genggam oleh Ziko.


"Aku tidak mungkin meracuni istri cantiku ini."


"Benarkah?"


"Benar Sayang." Ziko mengecup tangan Alexa sekejap.


***


"Sudah satu minggu tapi kau belum menemuiku Ziko," geram Jesika yang sejak tadi menatap pintu apartemennya.


Hari ini tepat seminggu waktu yang telah Jesika tentukan, itulah mengapa dia menunggu kedatangan Ziko tapi tidak kunjung datang.


"Baiklah, kita tunggu sampai besok pagi. Kalau kau belum menemuiku, maka aku yang akan menemuimu di depan Alexa." Itulah tekad Jesika.


Wanita itu telah lelah menderita sendirian dan terus berkorban atas nama cinta, maka dia tidak akan melakukannya kali ini.


"Ternyata dia takut dengan ancamanku," gumam Jesika ketika mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Dengan sigap Jesika membuka pintu.


Tubuhnya mematung mengetahui bukan Ziko yang datang, melainkan pria tampan yang sangat jarang bicara dengan seorang wanita.


"Tuan Ri-ricard?" tanya Jesika gugup.


"Siang Jesika. Apa saya boleh masuk?"


Jesika membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Ricard masuk. Ikut duduk di hadapan Ricard setelah sampai di sofa.


"Ada apa Tuan menemui saya?"


"Tidak ada, saya hanya ingin bertamu," balas Ricard menumpu kakinya dengan kaki lainnya.


"Ah ya ngomong-ngomong ...." Ricard mengantung kalimatnya. "Apa kau punya hubungan dengan Ziko?" tanyanya penuh selidik.


Jesika menelan salivanya kasar, terlebih tatapan Ricard sangat tajam. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengaku? Sepertinya tidak. Jesika tahu betul bagaimana Ricard menyayangi Alexa. Jika pria itu tahu dirinya kekasih Ziko maka dia akan dalam bahaya.


"Ti-tidak Tuan, saya tidak punya hubungan apapun dengan Ziko. Kami hanya sebatas rekan kerja." Bohong Jesika untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Sudah kuduga itu tidak terjadi. Apa kau ingin bekerja? Saya punya kenalan yang sedang mencari posisi manager di perusahaanya."


"Sa-saya mau Tuan." Tanpa pikir panjang Jesika menyetujui tawaran Ricard begitu saja. Dia tidak ingin menderita, apalagi uang simpanannya semakin hari terus menipis sebab tuntutan dunia. Terlebih Jesika selalu ingin terlihat menawan sebagai seorang perempuan.


"Kau bisa hubungi nomor ini."


Ricard berdiri setelah menyerahkan sebuah kartu nama pada Jesika. Mengangguk kemudian pergi dari apartemen lumayam mewah tersebut.


Senyuman licik tercetak jelas di wajah Ricard setelah berada di dalam mobil.


"Penderitaaan baru saja dimulai. Aku tidak akan membiarkan adik kesayangku menderita hanya karena sampah seperti kalian," gumam Ricard melajukan mobilnya meninggalkan wilayah apartemen Jesika.


Dintegah-tengah perjalanan, deringan ponselnya tiba-tiba terdengar. Langsung saja Ricard menjawab panggilan dari Delia.


"Kenapa hm?"


"Ak-aku butuh kamu Ricard, tolong aku," lirih suara di seberang telpon.


"Hey kamu kenapa? Apa yang terjadi?"


"Su-suamiku Ricard, dia mukulku lagi."


Mata Ricard sontak terpejam, dadanya bergemuruh hebat mendengar tangisan wanita yang dia cintai di seberang telpon.


"Kamu dirumah kan? Aku kesana sakarang."


"Cepatlah!"


Ricard menambah kecepatan mobilnya tanpa peduli hal itu membayakan pengendara lain. Hatinya kini sedang kalut mendengar Delia lagi-lagi mendapat siksaan fisik dari suaminya.