Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 117 ~ Recana jahat


"Kau ingin membantuku?" tanya Serin pada seseorang di seberang telpon. Rasa benci wanita itu pada Alexa semakin menggunung setelah diusir dari rumah.


"Tergantung."


"Berapa yang kau ingingkan hah? Aku akan memberimu uang yang banyak jika kau bisa melenyapkan Alexa dari muka bumi ini."


"Tubuhmu dan biayai seluruh hidupku!" Sahut Ziko dengan seringai liciknya di seberang telpon.


"Tidak masalah, kau akan mendapatkan semuanya setelah rencana kita berhasil. Sampai jumpa."


Serin melempar ponselnya ke sisi ranjang dan berbaring dengan rileks. Sepertinya dia terlalu lemah sampai tertindas seperti ini.


"Kehilangan seseorang adalah hal yang paling menyakitkan. Saat keterpurukan, membutuhkan seseorang untuk menjadi penenang. Tunggulah Sean, aku akan menjadi penenang untukmu setelah kepergian Alexa."


***


"Aku ingin bermalam di sini Husbu," rengek Alexa memeluk pinggang Sean dan membenamkan pipinya di perut Sean.


"Kalau begitu aku harus ke apartemen dulu menjemput Eca dan Eri, Sayang."


"Pergilah," sahut Alexa tapi urung keluar dari baju kaos milik Sean.


Memang sejak tadi Alexa menyembunyikannya kepalanya di dalam baju Sean. Itu membuat Alexa nyaman dan tenang.


"Kau menyuruhku pergi, tapi tidak mau keluar."


"Ini keinginan baby kita Husbu, percayalah." Alexa tersenyum lebar di dalam baju Sean. Setiap mengiginkan sesuatu mengatasnamakan Bayinya, maka Sean tidak akan berkutik atau membantah ucapannya.


"Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemput Eca dan Eri. Ada baiknya kamu tinggal bersama bunda dulu beberapa waktu. Mengurus rumah dalam keadaan hamil membuat aku sangat khawatir Lexa." Sean menepuk-nepuk kepala Alexa.


Pria itu teringat kejadian di kehidupan sebelumnya. Di mana dia tidak bisa menyelamatkan nyawa Alexa juga anak wanita itu perkara ekonomi.


"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi," gumam Sean tanpa sadar.


Alexa langsung mengeluarkan kepalanya dari baju Sean. Menatap pria itu dengan kening mengkerut.


"Sejak kapan aku mengatakan akan pergi darimu, Husbu? Aku tidak akan pergi meski seluruh dunia tidak merestui hubungan kita."


"Tentu, kalaupun kau ingin pergi, aku akan mengurungmu di lemari." Sean menunduk untuk mengecup bibir Alexa yang terlihat sangat kering. Dia sedikit melum*atnya dan memainkan lidahnya di sana.


"Tuan-Nona, nyonya sudah menunggu anda dimeja makan."


Sontak Alexa langsung mendorong perut Sean agar melepaskan pengutannya. "Kenapa Husbu tidak menutup pintu tadi?"


Pria itu menarik tangan Alexa agar segera berdiri. Berjalan menuju meja makan untuk makan malam bersama keluarga.


"Ingat, kandungan Lexa sangat rapuh. Kendalikan belutmu itu!" cetus Ricard tanpa difilter.


"Ricard!" tegur Delia.


"Biar dia merasakan apa yang aku rasakan Delia. Tidur sekamar tapi tidak bisa mengasah," bisik Ricard membuat Delia bergidik ngeri. Sepertinya Delia harus bersiap-siap jika waktunya telah tiba.


"Tenang saja kak, aku yang akan memimpin," sahut Alexa santai, untung saja Kania tidak ada di antara mereka. Wanita paruh baya itu tiba-tiba mendapatkan telpon dari seseorang.


"Kalian berdua!" tegur Delia dan Sean serempak, sementara Alexa dan Ricard hanya tertawa menangapi pasangan masing-masing.


Alexa segera duduk setelah Sean menarik kursi untuknya, tepat saat itu Kania juga kembali dan ikut bergabung.


"Siapa Bunda?" tanya Ricard.


"Cabang perusahaan di Sanghai mendapatkan masalah. Apa salah satu dari kalian bisa pergi?"


Hening, baik Ricard maupun Sean tidak ada yang menyahut karena tidak ada yang ingin berpisah dengan istri masing-masing.


"Eksternal atau internal, Bunda?" tanya Sean akhirnya.


"Internal Nak."


"Biar Sean yang menangani semuanya Bunda."


"Akhirnya aku punya adik ipar yang berbakti," celetuk Ricard berubah Informal.


"Bukan demi dirimu, tapi demi istriku."


"Stop, sampai kapan kak Ricard dan Sean terus berdebat? Ayo makan, aku sudah lapar!" lerai Alexa mengusap perutnya.


"Mau ini?" Sean menunjuk paha ayam tumis kecap di hadapannya.


"Tiga." Alexa menaikan 3 jarinya.


Dengan sigap Sean mengambil 3 paha ayam dan meletakkan dipiring Alexa. "Habiskan, atau aku yang menghukummu di kamar," bisik Sean.


"Kalau kau bisa," balas Alexa.