
Sean merapikan jasnya kemudian melangkah memasuki rumah penyekapan. Pria itu baru saja bertemu dengan seseorang yang ingin menjual sahamnya dengan harga rendah karena membutuhkan suntikan Dana.
Itulah mengapa Sean tidak bisa menunda-nunda waktu. Sean memang tidak memiliki perusahaan, tapi sahamnya di beberapa perusahaan ternama cukup memadai karena sering berinvestasi dan memanfaatkan peluang yang ada.
Baginya posisi dan jabatan hanyalah sebuah gelar semata. Semakin tinggi jabatan maka akan semakin banyak tanggung jawab yang akan kita tanggung.
Kembali pada Sean yang kini berdiri di depan pria dengan wajah babak-bakak belurnya.
"Kita bertemu lagi," sapa Sean pada Ziko yang duduk di kursi dengan tubuh terikat.
"Lepasin saya! Apa belum cukup kau merebut Alexaku?"
"Dia Alexaku!" bentak Sean. "Dia istriku dan jangan berani kau menyebut namanya dengan mulut sampahmu itu!" lanjut Sean dengan tatapan menghunus tajam.
Dulu dia hanya akan bertindak jika diperintahkan oleh Alexa saja karena tidak ingin mengacaukan rencana wanita itu.
Sekarang Sean akan bertindak sendiri untuk menghukum Ziko karena berani menyakiti dan merebut Alexanya.
"Lepasin Saya!" pinta Ziko sekali lagi.
"Untuk apa dan alasannya apa? Apa kau bisa memberi alasan yang masuk akal untuk melepaskanmu?" tanya Sean.
"Saya akan membantumu menyingkirkan semua musuh yang telah ...."
"Bahkan tanpamu saya bisa menyingkirkan mereka!" potong Sean.
"Renungin kesalahanmu dan temui saya jika kau ingin memohon ampun," ucap Sean dan meninggal ruangan dengan temarang cahaya tersebut.
"Lepaskan saya siala*n! Kau tidak berhak menggurungku seperti ini! Dasar manusia tidak tahu diri!" teriak Ziko dengan sisa tenaga yang ada.
Diberi makan satu kali sehari dan terkurung tanpa menikmati minuman juga tubuh wanita membuatnya sangat tersiksa. Namun, memohon ampun tidak ingin Ziko lakukan pada Sean, karena pria itu telah merebut Alexanya.
"Jangan bebaskan dia sebelum dia ingin meminta maaf dengan tulus pada Alexa!" perintah Sean pada anak buahnya.
"Baik Tuan," sahut salah satu orang yang berjalan di belakang Sean.
"Nona Serin ...."
"Kenapa dengan dia?"
"Kami tidak bisa menyangkut pautkan dia dalam kasus percobaan pembunuhan Tuan. Dia terlalu cerdik menghapus jejak."
"Belum Tuan. Yang saya tahu Nona Serin pernah bertemu dengan Tuan di beberapa acara perusahaan."
"Cari tahu secepatnya kenapa dia ingin menganggu kehidupan saya padahal saya tidak mengenalnya," kesal Sean.
Sampai sekarang Sean masih belum mengerti kenapa wanita bernama Serin ingin menganggu hidupnya. Bahkan selama ini mereka tidak pernah bertegur sapa, itulah seingat Sean.
Entah ingatan wanita itu terhadap Sean.
Pria itu melongarkan dasi miliknya setelah berada di dalam mobil. Sudah setengah 7 malam, setengah jam lagi waktunya untuk pulang kerumah.
Tidak ada masalah pulang sebelum jam tujuh, yang masalah jika pulang setelahnya.
Sean memencet beberapa angka di depan pintu hingga berhasil membukanya. Tanpa menimbulkan suara, pria itu langsung masuk ke kamar dan tidak mendapati sang istri di manapun.
"Lexa!" panggil Sean tapi masih tidak ada jawaban dari wanitanya.
Sean melepas jasnya kemudian berjalan menuju balkon dan tidak menemukan siapapun.
"Sayang!" Sean kembali berteriak.
"Aku di kamar mandi, kenapa kau sangat takut aku menghilang?" sahut Alexa dari dalam kamar mandi.
Wanita itu sebenarnya mendengar teriakan pertama Sean, tapi hanya menyahut dalam hati saja. Alexa sedang berendam di baththub setengah jam yang lalu.
Memang Alexa sangat suka berendam lama-lama dan memainkan sabun seperti anak kecil.
Tidak mendengar suara Sean lagi, Alexa buru-buru mengbilas tubuhnya dan segera keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek.
"Aku mengira kamu akan pulang larut malam," ucap Alexa ikut duduk di samping Sean.
"Aku paling tidak suka ingkar janji Lexa, kau tahu itu," sahut Sean. Pria itu menarik pinggang Alexa agar tubuh seksi istrinya semakin dekat dengannya.
"Bagaimana dengan urusanmu?"
"Semuanya berjalan dengan baik, kenapa hm?" Sean melirik Alexa.
Semula lirikannya hanya di hidung, lalu turun kebibir hingga di tempat yang sangat menggoda. Terlebih handuk yang di pakai Alexa hampir melorot.
"Terkadang pria baik-baik saja akan menjadi mesum jika sudah menikah," sindir Alexa. Dia segera berdiri karena menyadari tatapan nakal Sean.