
"Lexa!"
Panggilan itu Alexa hiraukan, dia terus saja menangis sepuas yang dia inginkan di kamar mandi. Menumpahkan segala rasa sesak di dada setiap memikirkan kondisi suaminya.
Harusnya dalam keadaan hamil, dia mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih, bukan malah ditinggal tidur sangat lama seperti sekarang.
Tangisan Alexa semakin histeris ketika merasakan pelukan seseorang dari depan.
"Jangan menangis lagi Lexa, kasian anak kamu," pinta Ricard berjongok memeluk adik kesayangannya.
Setelah membereskan Ziko tadi, pria itu langsung menyusul adiknya karena tahu akan seperti ini. Alexa bukanlah wanita kuat yang seperti orang lihat, wanita itu mempunyai hati yang rapuh dan bisa patah kapan saja jika disenggol sesuatu.
Ricard mengusap rambut Alexa pelan. "Suami kamu tidak apa-apa Lexa!"
"Aku takut kak, aku takut suamiku seperti ayah. Ayah dulu juga awalnya cuma koma, tapi tidak bangun lagi," lirih Alexa mencengkram lengan kekar Ricard.
Menyaksikan orang tersayang meregang nyawa adalah hal yang sangat menyakitkan, terlebih bagi Alexa yang malam itu menemani ayahnya bahkan tidur di samping ayahnya.
Pagi harinya bukan sambutan yang dia terima, melainkan tangisan bundanya sebab sang ayah telah pergi dalam pelukan Alexa sendiri.
"Suami aku harus bangun." Alexa mendongak untuk menatap kakaknya.
Ricard mengangguk, mengusap air mata di pipi adiknya berulang kali. "Suami kamu pasti bangun. Kata dokter kondisinya baik-baik saja."
"Besok?"
Ricard kembali mengangguk, bukan bermaksud berbohong, hanya saja ingin menenangkan adiknya. Pria itu mendaratkan bibirnya di kening Alexa setelah menyingkirkan beberapa anak rambut.
"Pulanglah dan tidur di pelukan bunda, biar kakak yang menemani suami kamu disini!"
Alexa mengelengkan kepalanya, wanita itu berdiri dengan bantuan Ricard. "Aku akan menemani suamiku."
"Keras kepala!"
"Tapi aku istrinya!" Alexa menarik jas Ricard dan menjadikkannya lap ingus yang tiba-tiba saja ada setelah dia berhenti menangis.
Sedangkan Ricard hanya bisa menghela nafas melihat tingkah adiknya. Pria itu menarik tangan Alexa agar duduk di sofa. Mendorong tubuh yang semakin hari terlihat kurus itu agar berbaring dengan nyaman.
"Tidurlah kalau begitu!"
Alexa mengangguk, merubah posisinya menghadap Sean yang masih setiap menutup mata.
"Kakak pergi dulu."
Lagi Alexa hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang suami hingga dia terlelap.
***
Sejauh apapun berjalan, Sean selalu datang ke tempat yang sama seperti tadi. Pria itu berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia mulai putus saja karena tidak menemukan jalan untuk pulang.
"Sean!"
Panggilan seseorang membuat Sean mendongakkan kepalanya. Pria itu tersenyum melihat dua pasang manusia dengan pakaian senada sedang tersenyum kearahnya.
Sean berdiri dengan pancaran mata tidak percaya.
"Ayah-Bunda?" ucap Sean tidak menyangka akan bertemu orang tuanya setelah lama dipisahkan oleh kematian.
"Kamu merindukan kami?"
Sean menganggukkan kepalanya dan melangkah perlahan mendekati kedua orang tuanya yang tampak bahagia.
"Sean merindukan kalian berdua, apa Sean boleh ikut bersama kalian?" tanya Sean langsung memeluk kedua orang tuanya.
Dua orang tua itu mengangguk serempak, "Tentu saja kamu boleh ikut kami Nak. Tapi sebelum itu kamu harus izin pada istrimu!" imbuh sosok pria paruh baya.
"Istri?" Sean bergumam pelan.
"Husbu!"
Sean memutar tubuhnya sebanyak 45° pada sumber suara. Di sana ada seorang wanita berdiri dengan 5 anak kecil di sampingnya. Wanita cantik bersama 5 pangeran mengelilingi.
"Pulanglah! Aku tidak mengizinkanmu pergi bersama mereka!"
"Lexa?"
Wanita itu mengangguk samar dalam penglihatan Sean.
"Anak-anak membutuhkan dirimu Husbu, aku juga. Apa kamu tega pergi tanpa berpamitan dulu padaku?"
"Tapi aku merindukan orang tuaku Lexa!"
"Sean, jangan pergi kumohon ...."
Tanpa memperdulikan teriakan Alexa, Sean mengikuti langkah orang tuanya menembus kabut tebal hingga tubuhnya hampir tidak terlihat.
Detik yang sama, suara monitor yang menunjukkan alat vital dan detak jantuk Sean berbunyi nyaring di dalam ruang perawatan, membuat Alexa yang baru saja terlelap membuka matanya.
Tit ... Tit ... Tittttttttttttttt
"Sean jangan tinggalkan aku!" teriak Alexa berbarengan datangnya dokter yang selalu memantau keadaan Sean.