Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 42 ~ Kecelakaan


Berkali-kali Alexa menghela nafas panjang menunggu detik-detik sesuatu terjadi pada Ziko. Keraguan mulai berdatangan dalam dirinya, dia merasa sudah terlalu jahat melakukan semua ini.


Jika Ziko mengkhianatinya, dia bisa saja membalas Ziko dengan selingkuhan bersama pria lain. Namun, dendam yang Alexa miliki pada mantan suaminya di kehidupan sebelumnya membuat Alexa menjadi perempuan jahat tidak punya hati.


Alexa mengepalkan tangannya kuat-kuat seraya memejamkan mata. "Tidak Lexa, kau tidak boleh berbaik hati pada pria yang telah menyakiti hatimu. Mata dibayar mata, begitupun sebaliknya!" Alexa kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lakukan sudah benar.


Antensi wanita bermata indah itu teralihkan dari layar laptop ketika mendengar ponselnya berdering. Dengan sigap Alexa menjawab panggilan dari sang suami.


"Aku sebentar lagi sampai jadi tunggulah," ucap Ziko di seberang telpon.


"Aku pasti akan menunggumu Ziko, jadi cepatkah pulang. Ah ya, jangan terlalu terburu-buru sampai membahayakan diri sendiri," balas Alexa yang atensinya kembali tertuju pada layar laptop dimana sedang menayangkan mobil yang tengah di kendarai Ziko.


Mobil pengeluaran baru milik Ricard telah melaju di atas kecepatan rata-rata di jalan yang lumayan sepi sebab Ziko menggunakan jalan tikus agar tidak terkena macet.


Jalan yang sering kali Alexa tempuh jika pulang bersama.


Mata Alexa terpejam, tangannya mengenggam ponsel dengan erat mendengar suara kegaduhan di seberang telpon.


"Alexa, aku ...."


"Ziko!" lirih Alexa.


Setitik air mata berhasil membasahi pipi Alexa setelah suara tabrakan terdengar.


Dia menjatuhkan ponsel di tangannya dan berlari keluar dari kamar. Sekarang tujuannya adalah rumah sakit, sesuai rencana yang telah dia susun bersama Sean.


"Sayang, kenapa lari-lari seperti itu?" tanya bunda Kania.


"Ziko kecelakaan Bunda," jawab Alexa tanpa menghentikan langkahnya.


Wanita bermata indah itu melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata agar sampai dengan cepat di rumah sakit.


***


Alexa berdiri di depan rumah sakit, menunggu ambulance yang membawa tubuh Ziko. Sekarang dia tidak tahu bagaimana kondisi Ziko sekarang, sebab dia tidak bisa menghubungi Sean yang telah mengikuti Ziko dari belakang. Ponsel Alexa tertinggal di rumah.


"Lexa, mana suami kamu Nak?" tanya Kania yang baru saja datang bersama Ricard.


"Masih di jalan Bunda," jawab Alexa.


"Iya Bunda," lirih Alexa.


Dia melepaskan pelukan bundanya ketika suara sirene mulai terdengar, berbarengan berhentinya mobil tepat di hadapannya.


"Sean?" panggil Alexa.


"Hanya luka ringan Nona," jawab Sean cukup tenang karena telah menyaksikan lokasi kejadian dengan mata kepalanya sendiri.


Alexa mengangguk paham, mulai mengikuti para suster yang telah mendorong brangkar Ziko menuju UGD bersama yang lainnya.


Langkah Alexa berhenti ketika dokter menahan tubuhnya agar tidak ikut masuk.


***


"Bodoh!" teriak Jesika melempar remot Tv begitu saja setelah mendapat berita kecelakaan.


Sejak tadi dia duduk di depan Tv hanya untuk menunggu berita kecelakaan Ricard, tapi yang dia lihat malah kecelakaan kekasihnya.


Berita terkini ... Suami presdir Jonshon group mengalami kecelakaan di jalan ... Kami belum tahu pasti seberapa parah luka yang dia derita, tapi sepertinya lumahan parah.


Di duga kecelekaan ini terjadi karena rem blong juga kecepatan mobil yang tidak bisa diturungkan.


Sangat di untungkan truk yang Tuan Ziko tabrak tidak di huni oleh siapapun, hingga tidak memakan korban lain.


Sekian informasi dari saya, kami kembalikan di studio.


Tubuh Jesika bergetar hebat, air mata mulai membasahi pipinya mengingat kondisi Ziko sekarang.


"Bodoh, kenapa kau malah mengendarai mobil itu Ziko!" teriak Jesika sekuat tenaga.


"Harusnya yang kecelakaan adalah Ricard atau Alexa, bukan kamu!"


Jesika merosotkan tubuhnya ke lantai, dengan tangisan pilu. Dia sangat mencintai Ziko melebihi apapun, itulah mengapa dia rela melakukan apapun agar Ziko bisa bersamanya.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dia malah melukai pria yang dia cintai.