Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 106 ~ Kurang sehat.


Menyiapkan sarapan di pagi hari, bukanlah yang harus di perdebatkan apalagi ditentukan siapa yang akan membuatnya. Itulah yang terjadi di apartemen pasangan bucin satu ini.


Yang lebih dulu bangun akan menyiapkan sarapan tanpa menunggu pasangannya harus bangun dulu.


Seperti saat ini, Sean dengan telaten menyiapkan sarapan untuk Alexa juga dirinya sendiri. Pria itu menepuk tangannya setelah berhasil membuat Omelette dan dua gelas susu dengan rasa yang berbeda.


"Lexa, ayo sarapan dulu!" panggil Sean, tapi wanita yang di panggil tidak kunjung menyahut.


"Ck," desak Sean memutuskan untuk menemui Alexa di kamar, tapi tidak mendapatkan siapa-siapa.


Atensi Sean teralihkan pada gemircik air di dalam kamar mandi. Suara itu di sertai seperti orang yang tengah memuntahkan sesuatu.


"Lexa, kau baik-baik saja?" tanya Sean berdiri di balik pintu.


"Aku baik-baik saja Husbu, sarapanlah lebih dulu," sahut Alexa terus saja membekap mulutnya karena mual yang dia rasakan.


"Aku tidak akan sarapan sebelum kau keluar."


Senyuman Sean mengembang ketika pintu kamar mandi terbuka lebar. "Dasar manja," ucap Alexa dan mengamit lengan suaminya menuju meja makan.


Wanita itu mendudukkan diri di kursi yang telah ditarik Sean untuknya. Senyumnya mengembang melihat hasil kreasi Sean dengan Omelette di atas meja.


"Harus banget bentuk Love, Tuan bucin?"


"Tentu saja Nyonya Sean," sahut Sean. Pria itu mengambil potongan omelette dan menyuapkan kepada sang istri.


"Anak-anak sudah bangun?"


"Sudah, aku juga sudah memberi mereka makan. Jadi makanlah yang benar sebelum berangkat ke sekolah."


***


Alexa melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian sang suami. Dia berjalan memasuki lingkungan SMK Angkasa dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Sangat berbeda dengan siswa-siswa yang Alexa lewati. Wajah cemberut dan lesu, itulah yang Alexa temui sepanjang koridor.


"Ck, ternyata hari senin masih menjadi hari neraka bagi siswa sejak dahulu kala," decak Alexa.


"Alexa!"


Alexa memutar bola matanya malas mendengar suara tersebut. Dia langsung berbalik dan menampilkan senyum cukup ramah.


Kali ini Alexa tidak akan jutek-jutek pada Irwan, sebab wanita itu akan memanfaatkan Irwan untuk menyerang Serin.


"Apa kau punya waktu untuk makan malam nanti? Sebagai bayaran karena saya telah mendengarkan kisahmu."


"Tentukan saja tempatnya, saya akan datang nanti malam," sahut Alexa dan berjalan meninggalkan Irwan. Wanita itu langsung menuju lapangan membantu ketua osis mengurus barisan yang sejak tadi tidak kunjung rapi.


Ada saja siswa yang tidak ingin terkena sinar matahari, padahal matahari pagi tidak membuat kulit gosong, melainkan sebuah vitamin.


"Berbarislah dengan benar anak-anak!" perintah Alexa ketika ketua osis mulai kewalahan.


"Berdiri di bawah terik matahari kurang lebih satu jam tidak akan membuat kulit kalian gelap!" omel Alexa.


Seketika pada siswi yang sering caper pada cowok-cowok tampan langsung memperbaiki posisinya sebab malu akan perkataan guru cantik yang tengah berdiri di tengah lapangan.


"Bagus," puji Alexa memberikan dua jempolnya.


Wanita itu menuju ruang guru untuk menyimpan tasnya.


"Kenapa tiba-tiba kepalaku sakit seperti ini?" gumam Alexa mengurungkan niatnya keluar dari ruangan.


Sejak pagi tubuhnya sedikit tidak fit, tapi dia tidak memberitahukan Sean tentang keluhannya karena menganggap tidak penting.


"Sepertinya anda tidak terlalu sehat bu Lexa," celetuk bu Siska guru matematika yang baru saja datang.


"Sepertinya Bu, maaf saya tidak bisa ikut upacara bersama guru-guru lainnya," sahut Alexa tidak enak.


"Tidak masalah, mari bu."


Alexa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya memejamkan mata. Sedikit mengurut pangkal hidungnya agar rasa nyeri di kepala segera hilang.


"Tadi mual, sekarang sakit kepala. Entah sebentar apa lagi," omel Alexa pada dirinya sendiri.


Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam toilet, Irwan tengah menghubungi Serin untuk memberitahukan sesuatu.


"Alexa setuju makan malam hari ini."


"Bagus, laksanakan sesuai rencana. Jika gagal kau akan mendapatkan akibatnya!"


"Aku bukan pria bodoh yang akan melewatkan kesempatan ini Serin. Menjamah tubuh indah Alexa adalah impianku." Irwan senyum penuh arti.


...****************...