
Aidan dan Aiden lantas menundukkan kepalanya setelah berada di dalam kamar bersama bundanya. Kedua laki-laki 6 tahun itu takut di omelin oleh bundanya, padahal selama ini Alexa tidak pernah mengomel.
"Sini peluk bunda, Sayang!" Alexa merentangkan tangannya penuh senyuman.
Lantas saja Aidan dan Aiden menghambur kepelukan Alexa. "Maafin Idan, Bunda."
"Iden juga."
"Bunda maafin, lain kali dedeknya jangan dibuat nangis ya Sayang. Kalau adeknya salah itu diajarin, diberitahu salahnya dimana, jangan dimarahin tanpa alasan."
"Iya Bunda. Idan salah."
"Sama-sama salah kok."
Alexa melerai pelukannya dan mengecup pipi kedua putranya secara bergantian.
"Sekarang anak bunda ganti baju dulu gih, terus kita makan bersama sebelum ayah berangkat lagi ke kantor!"
Aidan dan Aiden menganggukkan kepalanya, bersiap-siap membuka seragam sekolah kanak-kanak yang mereka kenakan. Namun, urung ketika melihat ayahnya dan Aily datang ke kamar.
"Kakak!"
Tanpa rasa canggung setelah membuat masalah untuk kakak-kakaknya, Aily labgsung memeluk Aidan dan Aiden.
"Maafin Ai, Kakak. Ai janji tidak nakal lagi dan ngambil pensil warna kakak."
"Maafin kakak juga karena marahin Ai tadi." Aidan membalas pelukan adiknya, begitupun dengan Aiden yang sejak tadi diam saja.
Alexa dan Sean kembali tersenyum melihat anak-anaknya akur dan mudah diatur satu sama lain.
***
"Sayang," panggil Sean yang kini berbaring di atas ranjang. Pria itu baru saja dari kamar anak-anaknya untuk membacakan dongen. Kini giliran Seanlah yang ingin dibacakan dongen oleh istrinya.
"Hm."
"Ayo tidur! Mumpung anak-anak sudah pada tidur."
"Sebentar Husbu, aku lagi rangkum nilai semua siswa ini."
Alexa tidak mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Wanita itu kembali mengambil profesinya sebagai seorang guru, dan kabar baiknya. Dia telah resmi menjadi wali kelas dengan kata lain bukan honor lagi.
"Dirumah tempatnya istirahat, Husbu. Kalau mau kerja kenapa harus pulang kerumah?" Sean menirukan suara Alexa saat memperingatkan dirinya agar tidak sibuk dengan pekerjaan sendiri.
Alexa yang mendengarnya segera menghentikan semua pekerjaan dan menatap suaminya dengan cengiran tanpa dosa.
"Aku lupa." Wanita itu lantas membereskan lembar-lembar soal beserta jawabannya lalu memasukkan ke laci. Setelahnya menghampiri Sean yang tampak cemberut.
"Sudah dong cemberutnya Ayah, sini peluk." Merentangkan tangan lebar-lebar.
Tanpa membuang kesempatan, Sean langsung menghambur kepelukam istrinya.
"Anak-anak sekarang sudah besar dan pintar apa-apa sendiri, kamu tidak ada niatan nambah lagi?" gumam Sean menyembunyikan wajahnya di tempat favoritnya yang sangat nyaman.
Sean menggeleng dengan wajah cemberutnya. "Bunda jahat banget sih. Cium dulu dong!"
Cup
"Lagi!"
Cup
Cup
Cup
Alexa mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Sean tanpa keduanya sadari, sejak tadi ada tiga bocah cilik sedang memperhatikan.
***
Memastikan ayahnya telah pergi setelah membacakan dongen, Aily akhirnya membuka mata secara perlahan. Sejak tadi bocah 6 tahun itu tidak tidur, melainkan pura-pura tidur.
Gadis kecil itu berlari keluar kamar dengan piyama hello kitty beserta boneka yang sama. Langkah kaki kecilnya menuju kamar berwarna biru gelap milik sang kakak.
"Kakak!"
Tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Kak Idan!"
Lagi tidak ada sahutan apapun membuat Aily cemberut. Berbeda dengan pemilik kamar yang pura-pura tidur saat mendengar suara cempreng Aily.
Aidan dan Aiden tidak ingin diganggu oleh gadis manja dan cengeng seperti Aily, yang ada mereka akan mendapat nasehatan lagi dari orangnya.
"Kak Iden!"
"Iya Ai hmmpppp ...." Mulut Aiden langsung dibekap oleh Aidan.
"Jangan nyahut! Ai itu cerewet. Kalau kita dilaporin belum tidur sama ayah gimana?"
"Iya juga."
Aiden memutuskan untuk menutup matanya seperti yang dilakukan Aidan, sayangnya kedua bocah itu lupa mengunci pintu kamar, sehingga orang yang mereka hindari berhasil menerobos masuk.
Aily naik ke ranjang lalu berbaring tepat di tengah-tengah Aidan dan Aiden yang saling berhadapan.
"Kakak udah tidur?" Aily memainkan tangannya di hidung Aidan, bahkan dengan sengaja memasukkan jari kelingkingnya di sana.
"Ai mau main sama kakak, ayo bangun! Kalau kak Idan nggak bangun Ai teriak!"
Aily cemberut karena Aidan tidak kunjung membuka mata, gadis kecil itu beralih pada Aidan. Hendak menempelkan jari kelingking bekas hidung Aidan di bibir Aiden.
"Jorok!"