
"Ta-tante, Se-serin ...." Tangan Serin bergetar setelah mendaratkan tamparan di pipi mulus Alexa.
Selalu saja jika marah dia hilang kendali seperti ini. Serin menghampiri Kania yang menatapnya cukup tajam.
"Apa yang tante lihat tidak seperti ...."
Serin menghentikan ucapannya karena sentakan kasar Kania. "Berani-beraninya kau menampar putriku, Serin!" bentak Kania.
"Pergi!" Usir Kania.
Sejak dulu, Kania paling tidak suka jika ada yang menyakiti putri satu-satunya. "Bunda bilang pergi!" pekik Kania.
"Ta-tante Serin minta maaf, tadi Serin kelepasan karena ...."
Plak
Satu tamparan mendarat di wajah Serin yang masih diperban tersebut. Rasa ngilu seketika menjalar di pipinya, belum lagi rasa pusing tiba-tiba menghampiri.
"Alexa sedang hamil dan kau menamparnya! Apa lagi yang harus kau jelaskan pada Bunda! Sudah cukup. Sekarang keluar dari rumah ini sekarang juga!"
"Dasar wanita tua!" maki Serin dan berjalan menuju kamar untuk membereskan barang-barangnya. Ternyata tidak ada gunanya berakting baik-baik di depan keluarga Jonshon untuk saat ini.
"Semua orang sama saja, tidak ada yang mau mengerti diriku yang ingin bahagia," omel Serin terus mengemasi barang-barangnya.
Sementara di ruang keluarga, Kania dan Alexa duduk berdampingan. Sejak tadi Alexa diam saja menikmati kompresan yang dia dapatkan dari bundanya.
Perlu kalian tahu, Alexa sengaja memancing emosi Serin agar lepas kendali dan menyakiti dirinya. Apa yang dia rencanakan berhasil, Serin menyakitinya di depan Kania langsung, hingga dia tidak perlu menjelaskan apapun untuk mengusir Serin dari rumah ini.
Alexa telah mengetahui alasan Serin yang sebenarnya, lalu untuk apa dia membiarkan wanita licik itu tinggal dirumahnya?
"Lexa!"
Alexa menoleh lalu melempar senyum pada sang suami yang baru saja datang. Lihatlah betapa bucinnya Sean, hanya mendengar bahwa dia ditampar, pria itu rela meninggalkan pekerjaan kantor.
"Biar aku saja Bunda," ucap Sean mengambil alih kompres di tangan Kania.
"Setelah ini bawalah istrimu periksa Sean, bunda takut terjadi sesuatu pada kandungannya, terlebih kata dokter kandungan Lexa cukup lemah."
"Iya Bunda," sahut Sean.
"Ssstttt diamlah!"
Alexa langsung membungkam mulutnya karena dua orang yang dia sayangi. Tangan wanita itu terulur menyentuh tangan Sean di pipinya.
"Aku benar-benar tidak apa-apa Husbu, ini tidak sakit. Lagian aku melakukan hal ini demi mengusir Serin dari rumah," jelas Alexa setelah kepergian bundanya.
"Menyakiti diri sendiri bukan solusi yang baik. Kau bisa menyeretnya tanpa membuat drama," cetus Sean dengan wajah datarnya.
"Harusnya kau mendengarkan saran dari dokter, bukan bertingkah seperti anak-anak kayak gini Lexa."
"Maaf Sayang, aku terlalu ngegabah. Aku kesal saat tahu dua tahun yang lalu Serin berusaha menjebak dirimu."
Pergerakan tangan Sean terhenti. "Kau tahu?"
"Kenapa Husbu berusa menyembunyikan hal ini padaku? Aku tidak mungkin menuduhmu yang tidak-tidak hanya karena masa lalu itu."
"Bukan itu alasannya Lexa. Aku cuma tidak mau kau bertindak bodoh hanya karena wanita seperti Serin. Serahkan semuanya padaku, akan ku pastikan Serin akan pergi dari kehidupan kita," bujuk Sean.
Pria itu mengenggam tangan Alexa dan sesekali mengecupnya. "Jangan bahayakan diri sendiri lagi ya? Kau sungguh membuatku khawatir Lexa."
"Sayang Husbu." Alexa langsung memeluk tubuh kekar Sean ketika melihat Serin keluar dari kamar.
"Gendong aku ke kamar!" pintanya.
Dengan sigap, Sean bangkit dari duduknya dengan Alexa berada di gendongganya, saat itu pula Serin berada sangat dekat dengannya.
Sean membuang pandangannya ke arah lain, berbeda dengan Alexa yang malah menjulurkan lidahnya pada Serin.
"Tempatmu bukan disini, tapi rumah sakit jiwa!" teriak Alexa meski tubuhnya sudah dibawah menjauh oleh Sean.
"Kalau tempatku adalah rumah sakit jiwa, maka tempatmu adalah kamar mayat," gumam Serin.
Wanita itu mengerat kopernya keluar dari rumah.
"Kau mengira aku tidak punya uang hah? Bahkan uangku lebih banyak darimu," imbuh Serin terus bicara sendiri seperti orang gila.
Selama ini keberadaanya masih aman karena ayahnya belum tahu bahwa dia ada di Indonesia. Untung saja bundanya bisa diajak kerja sama sampai saat ini.