
"Apa kau sudah mendapatkan informasi?" tanya Alexa pada seseorang di seberang telpon.
Wanita itu tengah menikmati angin malam di balkon apartemennya. Lalu lalang kendaraan berserta gemerlapnya lampu-lampu bangunan menemani malam Alexa seorang diri.
Sean meninggalkan aparteman sejak tadi dan tidak kunjung pulang.
"Kecurigaan Nona benar, Irwan dan Serin memiliki hubungan cukup dekat Nona. Keduanya bekerjasama untuk menghancurkan Nona dan Tuan."
"Kau tau apa alasan mereka menyerang saya?"
"Dari informasi yang saja dapatkan, Serin menyukai Tuan, Nona."
Alexa senyum licik mendengar informasi yang diberikan oleh orang suruhannya. Serin mengira bisa mendapatkan Sean begitu saja? Oh tentu tidak. Suaminya sangat berkelas dan tidak akan tergiur dengan wanita pasaran seperti Serin.
"Ada lagi?" tanya Sean karena orang suruhannya tidak kunjung mengakhiri panggilan.
"Ziko, Nona ...."
"Ada apa dengannya?"
"Dua tahun yang lalu Ziko juga mempunyai hubungan dengan Serin, Nona."
"Informasi yang bagus, selidiki mereka dan laporkan apa yang seharusnya kamu laporkan. Ah iya jangan lupa cek saldo kamu," ucap Alexa dan memutuskan sambungan telpon.
Wanita bermata indah itu meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian menyesap susu putih yang dia buat sendiri.
"Permainan baru saja akan dimulai Serin. Kau menggunakan Irwan untuk menghancurkanku, maka aku akan menggunakan dia sebagai senjataku," gumam Alexa dengan senyum liciknya.
Alexa telah melalui berbagai kepahitan dunia dan dia tidak akan tertipu pada orang-orang licik yang akan menyerang dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Alexa langsung mengirim pesan pada seseorang yang menjadi kaki tangannya.
Bebaskan Ziko! Atur rencana agar pertemuannya dengan Serin seolah-olah kebetulan.
Itulah pesan yang dikirimkan Alexa pada orang suruhan Sean.
Wanita itu masuk ke kamarnya setelah merasakan udara dingin semakin menusuk tulang-tulangnya.
"Sean?" kaget Alexa ketika sampai dikamar dan mendapati suaminya tengah bersandar di kepala dipan. Pria itu menepuk-nepuk tempat di sampinya seolah menyuruh Alexa segera mendekat.
"Setengah jam yang lalu, aku tidak ingin mengaggumu di luar my Wife," bisik Sean menyingkap rambut Alexa yang menghalangi leher wanita itu.
Sean memiringkan kepalanya dan membuat tanda kepemilikan di sana, setelahnya menatap Alexa cukup tajam.
"Kau membebaskan Ziko, hm?" bisiknya di telinga Alexa. Kali ini wanita itu bisa merasakan aura-aura tidak bersabat berada di kamarnya.
"Hu-husbu ak-aku berniat mengatakan ini padamu, tapi kamu mengetahuinya lebih dulu. Aku ...."
"Kenapa?" tanya Sean tanpa senyum di wajahnya.
Sontak saja Alexa langsung memeluk tubuh kekar Sean dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang suami. Sean tipe seseorang yang selalu mengumbar senyum pada orang yang dia sayangi, dan jika senyum itu telah hilang, maka Sean benar-benar marah.
"Aku membebaskannya bukan karena masih mencintainya, Husbu. Aku melakukan hal ini untuk membongkar kebusukan Serin. Maaf aku mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu," gumam Alexa masih memeluk Sean.
Alexa membeku saat merasakan usapan lembut dikepalanya. "Aku cemburu Lexa, jika itu menyangkut Ziko, bagaimanapun dia dalah masa lalumu. Kamu pernah mencintainya sebelum kamu mencintaiku."
"Maaf," lirih Alexa. "Jangan marah padaku Sean, sungguh aku tidak berniat untuk kembali padanya. Aku hanya mencintaimu, sekarang dan selamanya."
Alexa mendongak untuk menatap wajah datar Sean, tangannya terulur mengusap rahang tegas suaminya.
"Husbu?" Alexa memperlihatkan pupy eyesnya.
"Hm."
"Mau buat dedek?" ajak Alexa.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Lexa!" Sean menolehkan wajahnya ke ara lain. Alexa benar-benar tidak bisa membuatnya marah. Melihat wajah mengemaskan dan ajakan wanita itu membuat rasa cemburu Sean langsung hilang seketika.
Padahal saat mengetahui bahwa Ziko telah dibebaskan atas perintah Alexa, hatinya telah terbakar. Namun, semarah apapun Sean, dia tidak akan mampu membentak wanita yang dia cintai.
"Sayang?" panggil Alexa.
"Harusnya kamu tidak membebaskan dia sebelum dia meminta maaf dan bersujud di hadapan kamu, Lexa. Kesahalannya sangat fatal karena mengkhianati cinta suci yang kamu berikan," omel Sean.
"Harusnya kamu berterimakasih padanya Husbu. Karena dia, kita bisa menikah dan hidup bahagia," bisik Alexa kemudian langsung meraup bibir Sean cukup rakus.