
"Apa yang kau dapatkan setelah berhasil mempertemukan mereka?" tanya Alexa pada orang suruhannya di seberang telpon.
Wanita itu duduk bersandar di sofa sambil mengelus perutnya yang masih rata. Sesekali mengangguk mendengarkan penjesalan dari seseorang di seberang telpon.
"Ternyata sebelum pacaran dengan Nona, Ziko pernah berhubungan dengan Serin dalam waktu singkat. Bahkan mantan suami Nona hampir memiliki anak dari Serin."
"Dua tahun yang lalu, Serin berencana untuk menjebak Tuan Sean agar bisa bertanggung jawab atas kehamilannya. Padahal anak yang telah dikandung Serin adalah anak Ziko, Nona. Namun, penjebakan gagal sebab Tuan Sean cukup cerdik."
"Sampai sekarang saya belum menemukan bukti adanya kejadian itu, tapi saya usahakan akan mendapatkannya dalam waktu dekat."
"Saya suka kerja cepatmu, setelah menemukan bukti, langsung saja kirim pada saya," ucap Alexa dan memutuskan telpon begitu saja.
Akhirnya setelah lama menebak-nebak dia tahu bahwa Serin sudah sejak lama menyukai Suaminya. Sekarang Alexa tinggal menunggu bukti untuk mempermalukan wanita yang berencana ingin menghancurkan rumah tangganya.
Alexa bangkit dari duduknya dan menuju kamar. Dia bersiap-siap untuk pergi kerumah orang tuanya tanpa izin dari sang suami. Lagipula jika meminta izin, yang ada hal itu akan menganggu pekerjaan Sean.
Tentang naik jabatan? Tentu saja Alexa tahu, itu semua atas sadar diskusi dari Kania yang menyerahkan kepercayaan langsung pada Sean.
Wanita paruh baya itu menyerahkan beberapa sahamnya sebagai hadiah untuk Alexa karena memberikannya kabar bahagia.
Mungkin sikap Kania memang sedikit berbeda tentang memperlakukan Ricard dan Alexa. Namun, tidak untuk cucu-cucunya. Membagikan saham pada calon anak Alexa, Kania juga tidak lupa memberikan pada Raymond yang notabenanya cucu pertama Jonshon Group.
"Mari kita berangkat baby," gumam Alexa kembali mengusap perutnya. Sebelum keluar dari apartemen, Alexa mengunjungi ruangan Eca dan Eri untuk memberi makan.
"Jaga diri baik-baik, bunda mau jalan-jalan dulu," imbuhnya mengusap bulu-bulu halus Eca dan Eri
***
"Lihat Ray siapa yang datang," heboh Kania menyambut kedatakan putrinya.
"Kak Delia dan kak Ricard mana?" tanya Alexa terus saja melangkah. Dia sebenarnya mencari keberadaan Serin yang dia yakini ada dirumah.
"Katanya mau pacaran berdua saja, tahu sendirilah bagaimana bucinnya kakak kamu, Lexa," sahut Kania.
"Syukurlah rumah tangga kak Ricard baik-baik saja meski ada ular yang ingin menghancurkannya tanpa tujuan yang jelas." Alexa sengaja mengeraskan suaranya ketika melihat Serin menuruni anak tangga.
Entah darimana wanita itu hingga berada di lantai dua. Padahal kamar Serin sendiri ada di lantai dasar.
"Kak Lexa, aku senang kakak datang." Serin berlari dan langsung memeluk Alexa cukup erat, untung saja Raymond sudah berada di gendongan Kania.
"Bunda suka kalian akur seperti ini. Ah iya, jaga kakak kamu baik-baik Serin, dia sedang mengandung," imbuh Kania dan berlalu pergi.
Mata Serin sontak membulat sempurna mengetahui fakta tersebut.
"Bukankah Irwan mengatakan Alexa tidak bisa hamil? Sial sepertinya Irwan mendapatkan informasi yang salah," batin Serin. Wanita itu tidak terima jika Alexa mengandung anak Sean. Yang bisa menjadi ibu dari anak-anak Sean adalah dirinya bukan Alexa.
"Kau beneran hamil? Selamat." Serin mengulurkan tangannya memberi selamat. Wanita itu masih bersikap baik di depan Alexa. Berharap wanita di hadapannya tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan.
"Benarkah kau memberiku selamat Serin? Kau tidak cemburu?" bisik Alexa. "Jadi ini alasan kamu berlibur dan tinggal dirumahku? Dua tahun yang lalu bukannya kau sudah gagal? Kenapa ingin mencoba lagi?" lanjut Alexa menghujani Serin berbagai pertanyaan mematikan.
Tangan Serin terkepal hebat, dadanya bergemuruh mengetahui fakta Alexa telah mengetahuinya.
"Tiga hari, saya memberi waktu tiga hari untuk meninggalkan Indonesia. Jika tidak, kau akan dikirim oleh ayahmu sendiri."
Alexa menampilkan wajah sedih dan menatap Serin memprihatinkan. "Sayang sekali seorang ayah membenci putrinya karena mempunyai penyakit mental."
Tangan Serin terangkat, detik berikutnya suara tamparan mengema di dekat tangga.
"Serin apa yang kau lakukan!"