Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 133 ~ Jangan pergi!


Usai menyiapkan sarapan untuk istri tercinta, Sean segera mengunjungi kucing kesayanggannya yang terdapat di ruangan lain. Pria itu tidak lupa memberi makan pada kucing yang ternyata telah bangun sejak tadi.


Sean berjongkok tepat di depan Eca dan Eri, mengelus kepala mereka yang sedang menikmati sarapan.


"Sehat-sehat terus kalian berdua," ujar Sean gemes sendiri melihat kucingnya.


Setelah puas bermain-main dengan Eca dan Eri, Sean melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membangungkan sang istri. Bukan karena malas bangun pagi, hanya saja pagi-pagi buta Alexa dilanda mual hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Sean menutup pintu sangat pelan karena tidak ingin membangungkan sang istri, tapi ternyata wanita itu telah terbangun tapi malas beranjak dari tempat tidur. Sean berjongkok di sisi ranjang dan mengelus bibir Alexa yang tengah manyun.


"Kenapa hm? Perutnya masih tidak enak?" tanya Sean penuh kelembutan dan kasih sayang.


Alexa mengelengkan kepalanya, menarik tangan Sean agar menjadi bantalan kepala. "Hari ini kamu mau masuk kerja? Bisa tidak libur hari ini untuk menemaniku dirumah? Tidak, bukan seharian, hanya sampai jam 10 pagi. Aku kesepian dirumah sendiri," pinta Alexa seperti gumaman saja.


"Ada meeting yang tidak bisa aku tinggalkan Sayang, setelah selesai aku akan pulang dan mengantarmu ke sekolah," balas Sean dengan gelengan kepala. Sudah dia katakan, menjadi presdir membutuhkan tanggung jawab yang tinggi, terlebih Sean tipe pria yang tidak ingin menunda-nunda sesuatu.


"Jahat banget," cibir Alexa membalik tubuhnya membelakangi Sean. Apa salah jika hari ini dia ingin dimanja dan tidak membiarkan Sean pergi?


Bibir Alexa semakin mengerut saat merasakan kecupan di pipinya. "Ayo bangun dan sarapan dulu, setelah itu kalau mau lanjut tidur bisa!" ajak Sean.


"Serius tidak mau libur setengah hari? Bagaimana dengan ini ...." Alexa melorotkan sedikit selimutnya hingga belahan dada yang terdapat bercak merah terlihat.


"Kau menggodaku?"


"Kalau iya kenapa? Tinggalah Husbu!" rengek Alexa mengayung-ayungkan punggung tangan Sean.


Entahlah, tapi hari ini dia benar-benar tidak ingin ditinggal sendiri di apartemen. Seakan-akan jika Sean pergi ada yang akan melukainya.


"Sean!"


Tanpa minta izin, Sean langsung memakaikannya di tubuh Alexa yang masih saja cemberut sebab keinginanya tidak dituruti.


Sean mendaratkan bibirnya tepat di bibir manyun Alexa, bahkan sedikit mengigitnya. "Sudah ya ngambeknya Sayang, ayo sarapan dulu!" ajak Sean, tapi lagi-lagi Alexa mengelengkan kepala.


Ingin rasanya Alexa berteriak dan memenjarakan Sean agar tidak pergi pagi ini.


"Ck." Sean berdecak, pria itu langsung menyingkirkan selimut dan mengendong Alexa ke kamar mandi untuk cuci muka juga kumur-kumur, setelahnya membawa ke meja makan.


Sungguh pagi ini Sean seperti tengah mengasuh anak balita saja yang sangat rewel dan keras kepala.


"Dipesan?" tanya Alexa memastikan, setelah melihat hidangan di atas meja. Sederhana, tapi sangat lengkap.


"Aku tidak mungkin mempercayakan makanan istriku pada orang lain. Ayo makan Sayang, sebentar lagi aku akan berangkat!" pinta Sean.


Alexa menghembuskan nafas kasar, setelahnya mulai menyantap sarapan yang Sean buat untuknya. Dia akui keahlian memasak Sean bisa diacungi jempol menurut lidah Alexa sendiri.


Juga Sean, berhak mendapatkan mendali suami idaman sayang istri.


Usai sarapan bersama dan Sean telah siap dengan setelan kerjanya, Alexa mengantar pria itu hingga di depan pintu apartemen.


"Jam sembilan aku akan pulang, jadi sebelum aku datang jangan pernah membuka pintu untuk siapapun!" perintah Sean mengecup kening Alexa, tangannya masih setia melingkar di pinggang sang istri yang hanya memakai baju kaos tanpa dalaman apapun. Untung saja koridor apartemennya tidak ada orang, atau mereka dapat menikmati paha mulus Alexa.


"Aku mengerti Husbu, hati-hati."


"Pasti. Kunci pintu gih!"


Alexa menganggukkan kepalanya dan segera mengunci pintu, saat itulah Seam segera meninggalkan istrinya.