Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 126 ~ Kediaman Ayana Group


Makan malam keluarga selalu menjadi kesempatan untuk mengakrabkan diri satu sama lain bersama anggota keluarga. Namun, berbeda dengan keluarga Ayana Group yang selalu saja memicu pertengkaran jika ada waktu makan malam bersama.


"Ini semua karena putri kamu, lihatlah apa yang terjadi sekarang. Ayana group kacau karenanya," gerutu ibu tiri Serin sambil menyantap makan malamnya. Wanita paruh baya itu sangat membenci anak dari suaminya yang mendapatkan semua harta kekayaan Ayana Group kerena menjadi anak tunggal dari pasangan Jackson dan Griya.


"Benar, gara-gara kak Serin semua orang mencemoh aku di sekolah. Mereka mengatakan aku adik pelakor dan akan menjadi pelakor pula!" timpal adik tiri Serin yang sangat dimanja oleh Jackson.


Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik dan tertawa dalam hati melihat raut wajah kesal Jackson, sebentar lagi akan ada pertengkaran antara ayah dan anak di rumah mewah tempat mereka tinggal.


Di mana Serin akan berakhir dikirim ke luar nengeri agar tidak mempermalukan Ayana group lagi.


"Ayah, aku harus apa sekarang?" tanya adik tiri Serin.


"Liburlah beberapa hari sampai berita mereda dan berhenti membicarakan anak sialan itu di meja makan!" imbuh Jackson dengan raut wajah kesal.


Pria paruh baya itu meletakkan sendok dan garpu di atas meja, kemudian meninggalkan ruang makan. Dia berjalan menapaki satu persatu anak tangga yang akan membawa dirinya ke kamar Serin.


Jackson menghentikan langkahnya di depan pintu dan menatap anak buahnya yang berjaga di sana. "Apa dia sudah bangun?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh pengawal.


Jackson langsung saja memutar handel pintu dan melihat Serin duduk bersandar di kepala dipan dengan laptop di pangkuannya. Andai saja Serin bisa menuruti semua keinginan Jackson seperti yang di lakukan adik tirinya, mungkin ayahnya tidak akan terlalu murka seperti ini.


Namun, sejak perpisahan antara Jackson dan Griya, Serin mulai tidak terkendali dan susah diatur oleh siapapun.


Yang ada hanya amarah karena lagi-lagi Serin kembali mempermalukan Ayana Group. Dua tahun yang lalu banyak kerugian yang harus Jackson tanggung karena bersitengang dengan Jonshon group, dan kali ini sama saja. Terlebih maryoritas dari mereka lebih membela Jonshon group.


Berbisnis dengan cara kotor dan bersaing dengan melukai lawan bisnis, bukankah Tipe Jackson dan Sean, keduanya bersaing dengan keungulan produk masing-masing hingga tidak ada persitegangan atau kebencian di antara mereka. Yang ada Jackson malu pada keluarga istrinya karena perbuatan putrinya sendiri.


"Ambilah!" Jackson kembali berucap.


Namun, respon yang diberikan Serin diluar dugaan, wanita itu merebut kasar tiker dan merobeknya hingga beberapa bagian.


"Aku tidak akan pergi, tidak akan!" tekan Serin disetiap kalimatnya, dia menatap menatap ayahnya dengan mata memerah. Hal itu tentu membuat Jackson sangat geram.


Tangan pria itu terkepal hebat dan berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak. "Sebenarnya apa yang kau ingingkan Serin? Kau ingin menghancurkan ayah? Sudah ayah katakan jangan pernah kembali dan ...."


"Harusnya Serin yang bertanya ayah!" Dengan berani Serin memotong ucapan ayahnya. Wanita itu berdiri hingga berhadapan langsung dengan pria yang darahnya mengalir ditubuhnya.


"Apa yang ayah ingingkan hah! Bukankah dua tahun yang lalu Serin bukan lagi bagian dari Ayana Group, lalu kenapa ayah sekarang membawaku ke sini? Sungguh aku tidak sudi menyandang Ayana group di belakang namaku!" bentak Serin dengan tubuh bergetar hebat.


"Apa salah jika aku ingin mempertahankan cintaku? Apa salah jika aku ingin bahagia dengan pria yang aku cintai?" Rentetan pertanyaan dengan suara bentakan keluar dari mulut Serin tanpa takut sama sekali dengan ayahnya. Pukulan? Serin sudah merasakannya sejak dahulu setiap melakukan kesalahan, jadi untuk apa takut? Bahkan hidup tanpa menyandang nama Ayana, dia masih bisa bersama bundanya.


"Tidak!" sahut Jackson. "Kau tidak salah tapi caramu yang salah dasar anak bodoh!" Jackson melayangkan tangannya tepat di pipi Serin. Pria itu geram karena Serin sama sekali tidak menghormati dirinya.