
Memperlakukan Alexa dengan baik, itulah yang Ziko lakukan kali ini. Kadang rasa kesal dan rasa suka sering kali datang secara bergantian di hati Ziko.
Melihat Alexa tersenyum bahagia membuat Ziko ikut merasa bahagia, tapi di sisi lain Ziko tidak suka pada Alexa yang jauh lebih dari segalanya.
"Kenapa menatap aku sampai seperti itu?" tanya Alexa seraya mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Kamu terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja Lexa. Apa salahnya memendang istri sendiri?" balas Ziko.
Pria itu kembali menyodorkan makanan ke mulut Alexa. "Ayo makan lagi."
"Hm." Dengan senang hati Alexa menerima setiap suapan dari Ziko. Toh bagaimanapun mereka masih suami istri, sampai waktu yang ditentukan telah datang.
"Sepertinya hari ini kamu sangat bahagia, kenapa?"
"Itu karena ...."
"Tunggu sebentar." Alexa menaikkkan tangannya untuk mencegah Ziko bicara.
Wanita itu langsung menjawab panggilan dari Sean.
"Halo Sean, kenapa?"
"...."
"Aku ada di restoran .... Kalau kau disekitar sini, mampirlah!"
"Baik Nona."
Alexa memutuskan sambugan telponnya dan kembali menatap Ziko. "Mau ngomong apa tadi?"
"Sean lagi? Sampai kapan dia ada di tengah-tengah kita Lexa? Aku sudah katakan tidak menyukainya. Dia itu suka sama kamu dan mau merebut kamu dariku!" kesal Ziko.
Kali ini pria itu jujur dengan kata-katanya. Ziko cemburu jika Sean dan Alexa terus bersama.
"Bagaimana aku harus berjauhan padahal dia asisten aku Ziko. Jangan terlalu pencemburu seperti itu."
"Terserah Lexa, tapi aku tidak suka."
Ziko mengaduk-ngaduk jus di hadapannya. Pria itu terlihat seperti wanita yang sedang kesal pada pasangannya.
Berbeda dengan Alexa yang kini tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya apa yang dia inginkan perlahan-lahan terwujud. Ziko telah mencintainya, mungkinkah jika dia mengakhirinya sekarang pria itu akan merasakan kehilangan?
Tidak, Alexa ingin mengakhirinya dengan tragedi yang menyenangkan bersama Jesika.
"Sayang, kenapa harus cemburu seperti itu hm? Kau jelas-jelas suamiku, sementara Sean hanya sebatas rekan kerja. Ck, kau terlalu pecemburu," ucap Alexa meraih tangan Ziko untuk dia genggam.
Baru saja akan berbaikan, pria yang menjadi topik pembahasan mereka telah datang dengan ekpresi yang selalu susah ditebak oleh orang-orang sekitarnya.
"Kamu juga belum makan siang bukan? Tunggu aku pesan ...."
"Dia punya tangan dan kaki sendiri, tentu bisa memesan makanan sesuka hati. Lagipula kamu itu bos Sayang, untuk apa memperlakukan Sean sebaik itu?" celetuk Ziko.
"Saya akan memesan sendiri Nona, makanlah lebih dulu," ucap Sean beranjak dari duduknya menuju kasir.
***
Di tempat yang sama tapi di meja yang berbeda. Ada seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan interaksi tiga manusia berbeda generasi dan gender tersebut.
Dia adalah Jesika yang baru saja datang setelah mengetahui dimana Alexa dan Ziko berada.
"Kau benar-benar sudah melupakanku Ziko?" tanya Jesika dengan suara pelan.
Tanpa menunggu waktu lama, Jesika berjalan mendekati satu wanita dan dua pria tersebut. Tatapannya menghunus tajam pada Alexa yang tertawa sangat menawan padahal dia sedang menderita.
"Siang," sapa Jesika tidak tahu malu.
Sean, Alexa dan Ziko sontak menoleh ke sumber suara.
"Je-jesika?" kaget Ziko. Jantung pria itu langsung berdetak hebat. Takut Jesika membocorkan sesuatu tentangnya.
"Apa saya boleh bergabung?"
"Boleh."
"Tidak!" ucap Ziko dan Alexa bersamaan.
"Kenapa tidak Sayang? Bagaimanapun Jesika adalah mantan sekretarismu," lanjut Alexa. "Duduklah Jesika, kita nikmati makan siang bersama." Ramah Alexa. Entah apalagi rencananya hingga terlihat begitu ramah.
"Sean, pesankan makanan untuk mantan karyawan kita ini!" perintah Alexa.
"Baik Nona."
Sepeninggalan Sean, Alexa menarik kursi di sampingnya untuk mempersilahkan Jesika duduk, tapi wanita itu malah duduk di samping Ziko.
"Ah kau suka duduk di sana?" tanya Alexa dengan senyum tenangnya. "Tidak masalah, selama kamu bisa duduk."
Alexa mengulurkan kakinya di bawah meja, hingga ujung high hels yang dia pakai tepat mengenai betis Ziko.
"Sayang, apa aku terlihat cantik?"