Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 191 ~ Kembaran Aidan


Sarapan bersama sedang berlangsung di meja makan tepat di kediaman Jonshon Group tanpa kehadiran sepasang kekasih yang anak-anaknya sedang menyantap sarapan dengan nikmat.


Triple A pagi ini tidak nakal atau merepotkan siapapun. Bangun sendiri dan mandi sendiri tidak seperti saat bersama bundanya.


"Bunda sama ayah kenama?" tanya Ricard sambil menyantap sarapannya.


Merasa ditanya, Aidan segera mendongak sambil mengunyah sepotong roti. "Bunda sama ayah nggak pulang kesini, Om. Tapi kata Oma pulang kerumah kita."


"Kalian tidak takut?" Salah satu alis Ricard naik. Pria itu mulai jahil pada keponakannya.


"Ricard, jangan buat mereka nangis dan cari Alexa dan Sean," bisik Delia memperingatkan.


Sementara Triple A dan Raymond masih sibuk dengan makanan masing-masing.


"Takut kenapa, Om?" Kini Aily yang bertanya.


"Kan om sudah bilang jangan buat bunda dan ayah berdua terus kalau tidak mau punya dedek. Hayoloh bentar lagi kalian punya dedek karena ayah bunda tidur berdua dirumah tanpa kalian."


Ricard mengoyang-goyangkan telunjuknya, seolah memancing emosi Triple A yang tidak teringat orang tuanya.


"Ayah kok jahat?" Raymond menatap ayahnya dengan wajah cemberut. "Dedekkan gemesin, Ray pengen dedek tapi Ayah sama bunda nggak ngasih."


"It-itu karena ...."


"Teman-teman jangan dengerin ayah ya! Ayah itu banyak bicara tapi nggak pernah benar. Ray pengen dedek." Raymond menatap Aidan dan Aiden yang tampak murung. "Dedek itu gemesin Idan-Iden."


"Tapi Ai jelek terus nakal!" Sanggah Aidan.


"Iya benar!" sahut Aiden.


"Kok Ai jelek? Kata ayah sama bunda, Ai cantik banget. Kak Idan sama kak Iden yang jelek!" Teriakan Aily memekakkan telinga di meja makan.


Gadis cilik satu-satunya milik keluarga Jonshon langsung meninggalkan meja makan sambil menangis.


"Kalau ayah datang, kalian kena pukul!" Meski tubuh mungilnya sudah tidak terlihat, tapi suaranya masih mengema di ruang makan.


Delia yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menghela nafas. "Sudah tahu anak-anak bagaimana, masih saja dijahilin!" Omelnya.


Wanita itu juga meningalkan meja makan dan menemui Aily untuk membujuknya sebelum Alexa dan Sean datang. Keponakan cantiknya memang sedikit cengeng dan mau menang sendiri, mungkin karena menjadi cucu satu-satunya perempuan jadi disayangi banyak orang.


Jika Delia sedang berusaha membujuk Aily, maka tidak di meja makan dimana tatapan tajam tertuju pada Ricard.


"Ayah jahat!"


"Om jahat!"


Ucap ketiga laki-laki mengemaskan tersebut sebelum meningalkan meja makan.


Pria itu selalu salah dimata putranya dan lebih menyangi Delia saja. Tidak tahuka mereka tanpa benih yang dia semprotkan, Raymond tidak akan ada di dunia.


"Sayang!"


"Bunda!" Aidan dan Aiden lantas berlari ke sumber suara saat mengenali siapa pemiliknya. Tanpa abah-abah kedua bocah cilik itu langsung menghambur kepelukan Alexa yang lebih dulu berlutut.


"Bunda kok ninggalin Idan di rumah Oma? Idankan pengen bobo sama Bunda. Ayah tidur sama Bunda?" Aidan mulai menghujani Alexa beberap pertanyaan, sementara Aiden sibuk mengecup pipi bundanya.


"Bunda tidak tidur sama ayah. Eh tapi kenapa kalau bunda tidur sama ayah? Ayahkan suami bunda." Alexa mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Kata om Ricard, ayah sama bunda nggak boleh tidur sama-sama, nanti dedeknya jadi."


"Hah?"


"Oh jadi Ricard biangnya?" Sean mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Pantas saja akhir-akhir ini anak-anaknya selalu berusaha menganggu momen romantis dia dan Alexa.


"Ayah!"


Senyuman Sean mengembang sempurna melihat putrinya berlari sambil merentangkan tangan. Ternyata memang benar, anak perempuan hanya akan dekat pada ayahnya.


Terbukti sudah lama Sean berdiri tapi Aidan dan Aiden tidak menghampiri hanya sekedar memeluk, berbeda dengan Aily yang langsung menghambur keperlukannya.


"Anak ayah sudah mandi, hm?" Langsung mengendong Aily. "Kok matanya merah, Ai habis nangis?"


Aily lantas menganggukkan kepalanya. "Kak Idan sama Iden ngatain Ai jelek, Ayah. Bukannya kalau Ai jelek Ayah juga jelek ya? Kan Ai anak Ayah."


"Nggak gitu konsepnya Sayang." Gemes Sean, baru kali ini ada orang yang mengatakan dirinya jelak, lebih parahnya lagi yang mengatakan itu adalah putri kesayangannya sendiri.


Alexa yang melihat raut wajah Sean hanya bisa mengulum senyum. Aily selalu bisa membuat Sean tidak berkutik.


"Kalian sudah makan? Maafin bunda ya karena ninggalin kalian semalam. Sebagai bayarannya, hari ini ayah ngajak kita jalan-jalan ke Kebun Binatang."


"Yey kita bakal ketemu kembaran kak Iden!" teriak Aily kegirangan.


"Huh?" Alexa dan Sean lantas menatap putri mereka.


"Kak Iden mirip monyet, Bunda."


"Berti kamu monyetnya, kan kita mirip."


"Ai cantik, nggak mirip monyet kok!"


"Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi. Ayo pamitan sama Oma dulu!" lerai Sean.