
"Hati-hati Sean." Alexa melambaikan tanganya untuk mengantar kepergian Sean.
Setelah itu dia berjalan santai memasuki rumahnya dan berpapasan dengan Ziko yang hendak keluar rumah.
"Sayang, kamu mau kemana hm?" tanya Alexa merangkul lengan sang suami.
"Lexa apa kau tahu jam berapa ini? Kamu itu sudah punya suami, kenapa harus keluyuran bersama asisten pribadimu itu?" tanya Ziko dengan nada kesal.
"Aku ada urusan sebentar Ziko. Apa kamu cemburu hm?"
"Iya aku cemburu kalau kamu terus dekat sama pria lain!" sahut Ziko penuh tekanan.
"Kalau begitu berjanjilah tidak akan dekat dengan siapapun baik sekretarismu. Aku juga cemburu Sayang."
"Jadi kau melakukan hal ini karena balas dendam?" Mata Ziko membulat sempurna mendengar jawaban Alexa. Jadi ini alasannya Alexa keluar dengan pria lain? Karena cemburu dia dan Jesika terlalu dekat.
Wajah yang sempat dia takuk kini menerbitkan senyum mengetahui alasannya. Bukankah jika benar Alexa cemburu dia sudah berhasil membuat istrinya jatuh cinta?
"Hm, karena aku mencintaimu Sayang." Alexa semakin merapatkan tubuhnya pada Ziko.
"Aku nanji tidak akan dekat-dekat dengan Jesika lagi, jadi kau juga harus menjauhi Sean."
"Tentu, apapun akan aku lakukan untukmu Sayang." Alexa mengecup bibir Ziko sekilas. "Ayo ke kamar dan hukum aku sepuas yang kau mau," bisiknya dan berjalan lebih dulu.
Tentu saja Ziko akan ikut jika itu urusan ranjang. Dalam keadaan semarah apapun dia akan luluh dengan cara itu. Menyenangkannya di atas ranjang.
***
Alexa mencepol rambutnya asal. Di mulutnya ada pulpen yang dia apit karena kerepotan membereskan berkas-berkas yang dia bawa kerumah kemarin.
"Sini aku bantu, lebih baik kamu masak sarapan untuk kita," ucap Ziko mengambil berkas di tangan Alexa untuk dia susun. Tidak lupa mengambil pulpen di mulut Alexa.
"Kamu nyuruh aku masak di dapur?" tanya Alexa memastikan.
"Hm, aku sangat ingin mencicipi masakanmu," balas Ziko membuat Alexa tertawa renyah.
Wanita bermata indah itu teringat kisahnya dikehidupan sebelumnya bersama sang suami. Dimana dia disuruh masak ini dan itu hingga tidak sempat pemperdulikan penampilan sebab di tuntut oleh sang suami.
Sering kali mendapat hinaan kalau saja sekretaris atau teman suaminya datang kerumah.
"Ganti baju kamu, kau mempermalukan aku saja dengan memakai baju bau rempah!"
"Kau bau bawang jangan mendekat, aku tidak berselera tidur denganmu!"
Namun, dikehidupan sekarang dia tidak bodoh hingga harus diperbudak lagi oleh pria tidak tahu diri seperti Ziko.
"Aku tidak mau!" tolak Alexa berhasil menghentikan pergerakan Ziko yang tengah merapikan berkas. "Aku menghabiskan banyak uang untuk menyewa pelayan, lalu kenapa aku masak, Ziko?"
"Kamu mau makan apa? Biar aku suruh buatkan untuk pelayan."
"Aku mau masakan kamu Lexa."
"Racun?" tawar Alexa senyum simpul dan dibalas gelengan kepala oleh Ziko.
"Sudahlah aku bisa makan apa saja," pasrah Ziko akhirnya.
Meski pria itu sedikit jengkel sebab merasa sikap Alexa mulai berubah seiring berjalannya waktu.
Saat mereka pacaran dan menjalin hubungan. Alexa terlihat seperti perempuan lugu dan penurut. Namun, semuanya berubah setelah mereka resmi menikah.
"Nah gitukan enak Sayang, ayo!" Alexa menarik tangan Ziko keluar dari kamar. Berjalan menuju meja makan dimana sudah ada Ricard dan bunda Kania.
"Selamat pagi bunda, kak Ricard," sapa Alexa mengecup pipi kakak dan bundanya secara bergantian.
Wanita bermata indah itu duduk tepat di samping Ziko.
"Mau yang mana Sayang? Biar aku ambilkan," tanya Alexa pada Ziko.
"Aku bisa ambil sendiri jadi duduklah Lexa," sahut Ziko.
Alexa mengangguk dan segera menyiapkan makanannya sendiri.
"Sayang, hari ini tepat satu bulan pernikahan kalian. Apa belum ada kabar baik untuk bunda?" celetuk Kania tiba-tiba.
"Uhuk ...." Alexa tersedak makanannya sendiri. Bagaimana mungkin dia hamil, padahal sebelum pernikahan terjadi dia telah memasang Iud.
"Sebentar lagi Bunda," sahut Ziko penuh percaya diri. Lagipula dengan mempunyai anak, maka Ziko akan mendapatkan bagiannya jika berpisah nanti.
"Lexa masih sibuk di perusahaan Bunda, belum bisa hamil. Kalau itu terjadi siapa yang akan mengurus perusahaan?" timpal Alexa.
"Kan ada kakak kamu Lexa. Kembalikan semuanya pada Ricard. Kamu bisa mengambilnya nanti," balas Kania. "Sebenarnya suami kamu juga bisa, tapi bunda belum yakin soal itu,", lanjut Kania melirik Ziko.
Meski terlihat baik dan penyayang, bukan berarti Kania bodoh akan sesuatu. Dari cara bicara Ziko saja, Kania sudah dapat menebak bahwa menantunya orang yang serakah akan kekuasaan.
"Jangan tersinggung Ziko. Bunda bukan tidak yakin sama kinerja dan kepercayaan kamu, hanya saja bunda takut kamu sibuk kalau Alexa hamil. Kamu pasti akan memanjakan dirinya dan tidak sempat mengurus perusahaan."