Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 34 ~ Perusahaan Virtual


"Kita lihat apa yang akan kau lakukan Jesika," gumam Alexa langsung menghapus pesan dari Jesika sebelum Ziko melihatnya.


"Sayang, liatin apa?" tanya Ziko langsung memeluk Alexa dari belakang.


Refleks Alexa meletakkan benda pipih itu di atas meja, kemudian membalik tubuhnya. "Tidak ada, hanya menikmati angin malam sebelum tidur."


"Aku mencintaimu, dan maaf karena berbuat jahat pada keluargamu. Harusnya aku bersikap baik dan menganggap bunda juga kak Ricard keluargaku. Aku malu karena terlalu mengedapankan ego dan harga diri," bisik Ziko menyentuhkan bibirnya di cuping telinga Alexa.


"Aku senang kalau kau memang benar-benar menyesali semuanya." Alexa berbalik dan melempaskan pelukan Ziko dari tubuhnya.


Berjalan memasuki kamar karena dibalkon angin malam mulai terasa dingin.


"Sayang, sudah lama aku puasa. Apa boleh malam ini aku ...."


"Tidak, aku lagi tidak mood Ziko. Kita bisa melakukannya dilain waktu," tolak Alexa, membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Ziko menghela nafas panjang dan ikut berbaring di samping Alexa. "Kalau begitu peluk saja."


Tanpa abah-abah Ziko menarik Alexa dalam pelukannya. Jujur saja Ziko sangat ingin melakukannya, karena beberapa hari ini tidak mendapatkan apapun dari Jesika maupun Alexa. Namun sialnya Alexa engang memberikan.


"Andai saja hubungan kita baik-baik saja tanpa ada perselingkuhan dan perebutan harta, mungkin akulah wanita yang paling bahagia karena berhasil mendapatkan cintaku."


"Namun, semua itu hanya mengandaian. Kenyataanya hati ini tidak lagi mengingingkan cinta dari pria seperti mu," batin Alexa dalam dekapan Ziko.


***


"Nona?" panggil Sean.


Alexa menoleh ke sumber suara, menghentikan segala aktivitas yang dia lakukan. "Kenapa Sean? Raut wajahmu sangat serius."


"Ziko melakukan investasi pada perusahaan virtual yang dia daftarkan baru-baru saja," lapor Sean.


"Dia tahu itu dan sengaja melakukannya?"


Sean mengeleng. "Sepertinya Ziko berinvestasi bukan karena berniat korupsi Nona, tapi tergiur dengan bunga yang ditawarkan oleh perusahaan Virtual itu."


Alexa senyum meremehkan. "Ternyata dia tidak terlalu mengerti dunia bisnis. Bisa-bisanya percaya begitu saja pada perusahaan bodong."


"Baik Nona. Tapi bagaimana dengan uang yang telah dikeluarkan Ziko terlalu banyak? Jika terus begini maka perusahaan akan mendapatkan dampaknya."


"Cari tahu siapa pemilik perusahaan virtual itu agar kita bisa menuntunya nanti."


"Baikalah." Sean segera meninggalkan ruangan Alexa setelah mendapat perintah yang sesuai dengan isi kepalanya.


Benar-benar Ziko adalah pria paling serakah. Ingin mendapatkan uang banyak dalam sekejap tanpa ingin berusaha lebih keras lagi.


Pantas saja Ziko ingin menjadi presdir, karena jika itu terjadi pria tersebut bisa melakukan apa yang dia ingingkan.


"Ck, kali ini tidak akan kubiarkan kau menghancurkan keluarga Alexa, Ziko," gumam Sean dan masuk ke ruangannya.


Sean langsung menghubungi seseorang setelah sampai di ruangannya. Seseorang yang selama dia dia hubungi diam-diam tentang permasalahan Alexa dan suaminya.


"Seperti perkiraan Tuan, Nona Alexa menyambut rencana kita dengan baik."


"Bagus, sekarang dia jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Pastikan setelah ini Ziko tersingkir dari perusahaan, saya muak melihat wajah sok berkuasanya itu."


"Pasti, saya akan menyingkirkan dia secepatnya Tuan. Ah ya, Nona Alexa berencana menuntut perusahaan Virtual tersebut, apa tidak masalah bagi Tuan?" tanya Sean memastikan.


Sebab perusahaan Virtual tersebut adalah rencananya dengan seseorang di seberang telpon.


"Biarkan dia menuntut, itu tidak akan berpengaruh apapun pada saya. Terus dampingi Alexa dan jangan sampai dia terperdaya dengan Ziko. Jika perusahaan jatuh ketangan Ziko itu sama saja kita menghancurkan Jonshon Group."


"Baik."


"Bagaimana tentang selingkuhannya?"


"Nona Alexa sudah mengurusnya Tuan, mungkin setelah menyingkirkan Ziko dari perusahaan. Nona juga akan menyingkirkan selingkuhannya.


"Bagus."


Setelah sambungan telpon terputus, Sean mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan sendiri yang menumpuk. Menjadi Asisten pribadi dan kepercayaan dua orang membuat Sean mempunyai banyak pekerjaan.


Namun itu tidak membuat Sean terbebani, sebab dibalik dia yang sekarang ada tujuan yang harus dia capai.