
Alexa menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang berada di rumah. Sejauh ini tidak ada yang dapat Ziko lakukan, juga semua keinginanya tercapai begitu mudah.
Alexa mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan mata terpejam. "Cara agar mereka berpisah dengan cepat dan Ziko jatun cinta padaku," gumamnya terus berpikir, hingga ketukan pintu membuat fokusnya teralihkan.
"Bunda?" tanya Alexa langsung berdiri untuk menyambut bundanya.
"Sayang, apa kamu sedih karena kak Ricard tidak mengizinkan ...."
"Tidak sama sekali Bunda, lagian Ziko hanya mengusulkan. Kalau tidak ada yang setuju Ziko tidak akan memaksa," potong Alexa karena tidak membiarkan bundanya bersedih.
Wanita bermata indah itu menatap intens wajah cantik milik bundanya, hingga bayangan saat bundanya meregang nyawa sebab keracunan terlintas begitu saja.
"Kenapa Sayang?" tanya Kania.
Alexa mengelang. "Tidak ada. Lexa cuma berpikir kalau sepertinya Lexa harus lebih memperhatikan Bunda." Alexa manarik bundanya agar segera duduk di sofa.
Mengenggam tangan wanita paruh baya itu sangat erat. "Mulai hari ini Bunda nggak boleh makan sesuatu dari orang lain, baik pelayan sendiri. Semuanya bakal Lexa siapkan."
"Hey, bunda bukan anak kecil yang ...."
"No Bunda. Sekarang bunda tanggung jawab Lexa. Bunda harus sehat dan selalu ada di samping Lexa suatu hari nanti." Alexa tersenyum.
"Tentu Sayang, bunda bakal selalu di samping Lexa. Apalagi saat Lexa sudah punya baby." Kania menjawil hidung mancung Alexa.
Sama seperti Ricard, Kania menganggap Alexa anak gadis yang harus dijaga.
"Lagi bicarain apa sih?"
Atensi Alexa dan Kania langsung tertuju pada pintu yang baru dibuka oleh sosok pria tampan.
"Lagi bahas pernikahan kak Ricard," goda Alexa.
"Ck, sudah kakak bilang jangan mengurusi tentang kehidupan kakak Lexa!" decak Ricard dengan raut wajah juteknya.
"Ayolah kak Ricard Sayang. Kak Delia bukan satu-satunya wanita di dunia ini. Kak Delia memilih menikah dengan pria lain, artinya dia bukan jodoh kakak."
"Dijodohkan!" tekan Ricard tidak ingin mengakui bahwa wanita yang pernah menjadi kekasihnya telah menikah dengan pria lain dan meninggalkan dirinya.
"Lexa, berhenti Sayang!" lerai Kania melihat raut wajah Ricard yang tidak bersahabat.
"Maaf kak Ricard, aku cuma mau kakak cepat melupakan kak Delia. Bagaimapun dia sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," lirih Alexa langsung memeluk kakaknya.
Wanita bermata indah itu hanya ingin melihat kakaknya bahagia suatu hari nanti.
"Tidak segampang itu Lexa, jadi jangan suruh kakak melakukal hal mustahil seperti itu." Ricard melerai pelukannya. Menjawil hidung Alexa gemas.
"Bersiaplah, kita akan makan malam di ...."
"Aku tidak bisa malam ini kak, Lexa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda begitu saja," tolak Alexa tanpa basa-basi.
Wanita bermata indah itu malam nanti akan pergi ke suatu tempat menemui Sean.
"Baiklah, kakak dan bunda yang akan pergi. Bersenang-senanglah dengan suami sok berkuasamu itu," pasrah Ricard.
"Kak Ricard menyebalkan!" pekik Alexa tapi Ricard tidak menyahut dan malah membawa Kania meninggalkan ruang kerja Alexa.
Sementara Alexa kembali duduk di kursi dan memikirkan hal-hal yang akan dia lakukan selanjutnya.
***
"Makasih Sayang bunganya." Jesika langsung mengecup bibir Ziko setelah menerima bungan pemberian kekasihnya.
Hari ini Ziko lagi dan lagi pulang telat hanya untuk membujuk Jesika yang tengah marah pasal rumah mewah yang gagal mereka beli.
Andai saja Alexa bersedia untuk pindah, Ziko punya alasan membeli rumah dari uang Alexa sendiri atas namanya. Namun, rencananya gagal total karena Ricard yang keras kepala.
Ziko bersumpah akan melenyapkan Ricard dari hidup Alexa agar tidak ada yang bisa mengagalkan rencananya. Ziko mengira selama ini apa yang dia lakukan sia-sia sebab Ricard ada di samping Alexa.
"Kenapa wajahnya ditekuk gitu hm?" Jesika mengelus rahang tegas milik Ziko. Naik ke pangkuan kekasihnya dengan manja.
"Apa kau punya rencana yang bagus untuk melenyapkan Ricard?" tanya Ziko.
"Ricard? Apa kamu yakin Ziko?"