
"Dipecat paksa hanya karena dia takut suaminya jatuh cinta pada saya. Pentingnya akhlak dalam memimpin."
Alexa senyum getir setelah menemukan postingan asli dari isu-isu beredar. Netizen memang sangat ahli mengoreng berita hingga mengalir dan viral kemana-mana.
Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi setelah menghabiskan susu buatan bundanya.
"Tidak sengampang itu untuk menghancurkanku Jesika," gumam Alexa.
Atensi wanita bermata indah itu tertuju pada komentar-komentar para netizen bermulut pedas.
"Tidak heran sih, posisinya sekretaris. Kan banyak tuh sekretaris goda bosnya."
"Ini karyawan Jonshon group? Yang dimaksud dia itu Nona Alexa bukan sih? Aduh mbak jangan mimpi terlalu tinggi, bangun dah siang."
"Bukan takut sih lebih ke membasmi aja."
"Pentingnya akhlak dalam bekerja!"
Berbagai guyonan komentar berada di lapak Jesika sendiri, dan hampir 90% semua menyudutkan Jesika.
Ada yang membela, itupun hanya teman-teman dekat yang mungkin sifat mereka sama.
Tentu saja banyak yang mendukung Alexa sebagai presdir Jonshon group yang bergerak si bidang ke cantikan. Terlebih skincare dan make up yang telah Jonshop group keluarkan terbilang ramah di kantong pelajar dan ibu-ibu rumah tangga. Namun, kualitas tidak perlu diragukan lagi.
"Niat menghancurkan tapi hancur sendiri," gumam Alexa segera beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Nak?" tanya Kania.
"Mau ke kantor Bunda."
"Lah bukannya mau istirshat dulu?"
"Ada urusan penting."
***
"Nona yakin mau keluar sekarang?" tanya Sean memastikan. Bagaimana tidak. Para reporter yang haus akan informasi telah berkerumun di depan Jonshon Group.
"Yakin," sahut Alexa. Wanita itu segera turun dari mobil, hingga para reporter berlarian menghampirinya.
"Apa benar Nona Alexa memecat karyawan hanya karena cemburu?"
Alexa berhenti melangkah dan memilih menanggapi pertanyaan-pertanyaan agar urusan ini segera selesai. Terlebih Alexa tidak suka keramaian seperti ini.
"Saya memang memecat salah satu karyawan, tapi bukan karena cemburu tidak mendasar. Lupakan saja saya sebagai istri sah dan beralih sebagai presdir Jonshop group. Tidak ada pemimpin yang ingin perusahaan mereka bangun menjadi tempat perselingkuhan."
"Bunkankah bibit-bibit pelakor harus di singkirkan sebelum berkecambah?" Alexa mengedipkan matanya pada kamera sebelum membalik badan memasuki perusahaan.
***
Tangan Jesika terkepal hebat melihat awak media yang lebih banyak mendukung Alexa dan malah menyudutkan dirinya. Padahal dia sangat berharap postingan yang dia buat akan menghancurkan nama baik Alexa.
"Sialan!" geram Jesika melempar semua benda yang berada di sekitarnya.
Bukan hanya terpojokkan, tapi setiap lamaran yang bahkan baru dia ajukan kemarin telah ditolak dengan jawaban menohok.
"Ini samua salah kamu Ziko, andai saja kau membelaku di depan Alexa ini tidak akan terjadi!" teriak Jesika sepuas mungkin.
Hidupnya baik-baik saja selama ini sebelum bertemu kembali dengan Ziko. Cinta yang belum sempat usai di masa sekolah kembali tumbuh dan meninggalkan perasaan mendalam.
"Lihat saja, kalau dia tidak mau menikahi dan membiayai seluruh hidupku, maka aku akan membongkar semua kebusukannya di depan Alexa." Tangan Jesika semakin terkepal hingga tubuhnya bergetar hebat.
Amarah kini telah menguasai diri Jesika.
Decitan pintu membuat wanita itu menoleh dan mendapati Ziko berdiri di ambang pintu.
"Ini semua salahmu Ziko!" teriak Jesika memukul dada bidang Ziko membabi buta.
"Bukan salahku bodoh, tapi salahmu sendiri!" balas Ziko. "Andai saja kau tidak membuat masalah dengan memposting surat pemecatan, maka ini tidak akan terjadi!"
"Sadarlah!" Ziko menguncang tubuh Jesika.
"Berhenti menyalahkan aku! Pergilah kalau kau datang hanya untuk itu!" bentak Jesika dengan mata memerah.
Melihat hal tersebut, Ziko langsung memeluk tubuh Jesika dan mengelus lembut rambutnya.
"Aku datang untuk menenangkanmu Jesika, turunkan emosimu," bujuk Ziko.
"Kau akan menikahiku dan tidak akan meninggalkanku?"
Ziko terdiam.