
Aily duduk sendirian di teras rumahnya sambil mengayung-ayungkan kaki menunggu kedatangan Arya yang tidak kunjung tiba. Sementara Aidan dan Aiden sibuk belajar di depan Tv berdua saja.
"Kok om Arya lama?" Aily memanyungkan bibirnya, mulai kesal menunggu terlalu lama.
Harus kalian tahu Aily bukanlah gadis yang suka menunggu lama, yang ada dialah yang ditunggu jika akan pergi ke suatu tempat.
Aily bangkit dari duduknya ketika melihat mobil putih memasuki pagar. Belum juga mobil berhenti, Aily sudah berlari sambil membawa sekop kecil juga topi ala kebun yang dibelikan oleh ayahnya beberapa hari yang lalu.
"Om Arya kok lama? Om mau dipecat sama ayah?" Aily berkacak pinggang dengan wajah kesalnya.
Bukannya takut Arya malah mengulum senyum melihat betapa mengemaskannya Aily. Pria beranak satu itu segera membukakan pintu untuk Nona mudanya dan membawa kerumah.
Ayra dan Aily mempunyai hobi yang sana itulah mengapa cukup akrab. Aily sering kali berkunjung kerumah jika sedang hari libur atau orang tuanya sedang tidak ada di rumah.
Sesampainya di kediaman Arya, Aily berlari memasuki rumah sambil berteriak memanggil nama Ayra berulang kali. Mungkin karena terlalu sering berkunjung, Aily bertingkah layaknya rumah sendiri.
"Tante cantik, ayo main tanam bunga!" ajak Aily duduk sila di samping Ayra yang sedang menyusui bayi mungil.
Ayra baru saja melahirkan beberapa bulan yang lalu.
"Tunggu sebentar ya Sayang, tante tidurin dedeknya dulu."
Aily mengangguk antusias, memperhatikan tante cantik menuju kamar yang berada di lantai dua.
"Om pergi dulu, jangan bertengkar sama tante cantik!" Arya mengelus kepala Aily sebelum pergi.
"Iya om, dadah." Aily melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Arya.
***
Jam 8 malam setelah makan malam bersama, Alexa segera bersiap-siap untuk menghadiri undangan dari temannya sesama guru.
Meski akan menghadiri makan malam, Alexa tidak mungkin melewatkan makan malamnya bersama anak-anak juga suami tercintanya.
"Aku ada pertemuan penting dengan seseorang, kamu?" Melirik Alexa yang tampak cantik.
"Makan malam sama teman guru aku, semua cewek kok. Kalau tahu Husbu akan pergi aku tidak mungkin mengiyakan untuk hadir, kasian anak-anak kalau ...."
"Ada bibi yang akan menjaga mereka, Sayang. Lagian Ai sudah tidur karena lelah berkebun, Aidan dan Aiden main game di kamarnya." Sean tersenyum menenangkan. "Jangan lama-lama diluar!"
Alexa mengangguk sambil tersenyum. "Husbu juga jangan lama-lama dan jangan nakal-nakal sama perempuan diluar sana. Ingat sudah punya 3 ekor!"
"Pasti Sayang." Sean mengecup kening Alexa cukup lama.
Sebenarnya Sean tidak ingin membiarkan istrinya pergi sendiri, tapi apa boleh buat dia harus menghadiri pertemuan bersama Anggara group setelah menundanya tadi siang.
Alexa dan Sean berpisah di ambang pintu setelah berpamitan pada anak-anak mereka.
Alexa yang lebih dulu pergi melambaikan tangannya pada sang suami. Wanita itu melajukan mobilnya secara perlahan membelah padatnya jalan raya menuju Cafe tempat dia janjian bersama teman-temannya.
Alexa berani pergi sebab acara ini khusus guru perempuan saja jadi tidak masalah pikir Alexa. Senyuman wanita itu mengembang sempurna saat memasuki Cafe dan melihat teman-temannya.
"Maaf aku sedikit terlambat, tahu sendiri aku seorang ibu," ujar Alexa menarik kursi lalu duduk.
"Tidak apa-apa kami mengerti kok," sahut Ratih.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, banyak pembicaraan yang mereka obrolkan, entah tentang kehidupan di sekolah ataupun dirumah. Sesekali Alexa mendapat pujian karena sangat beruntung mendapatkan suami seperti Sean yang sangat bertanggung jawab.
"Maaf aku sedikit terlambat." Seseorang langsung duduk di samping Alexa, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
Seorang pria? Bukankah pertemuan yang dia hadiri khusus perempuan saja?
"Maaf Lexa aku sedikit berbohong. Sebenarnya aku mengundang beberapa teman pria juga. Aku berbohong karena takut kamu tidak mau pergi seperti sebelum-sebelumnya."
"Ah tidak apa-apa, tapi lain kali jujur lebih baik. Ini sama saja aku ikut berbohong pada suamiku," sahut Alexa dengan senyuman. Tidak lupa mengeser duduknya agar lebih dekat dengan Ratih ketika satu persatu pria datang bergabung bersama mereka. Ada yang dari sekolah lain juga.