
Seorang pria mengendap-endap menghampiri mobil hitam milik Sean yang berada di basemen, pria itu berjongkok untuk mengempeskan dua ban mobil depan sekaligus.
Senyum miring tercetak jelas di wajah tampan pria bertopi itu ketika membayangkan apa yang akan terjadi pada pemiliknya.
"Beres," gumam Ziko segera menyingkir dari mobil dengan cara mengendap-endap, terlebih dia mendengar suara derap langkah terdengar.
Ziko menyandarkan tubuhnya pada mobil yang tidak jauh dari posisi Sean berdiri sekarang, hanya untuk memastikan apa yang akan pria itu lakukan nantinya.
Sementara yang diperhatikan, mulai sibuk memeriksa ban mobilnya karena menyadari ada hal yang aneh.
"Kenapa tiba-tiba kempes seperti ini?" gumam Sean setelah mengecek ban mobil. "Ck, menambah pekerjaan saja," lanjutnya.
Sean berjalan menjauhi mobilnya dan memasuki Lift yang akan membawanya ke lantai dimana unitnya berada. Sean memutuskan untuk pulang dan berencana akan meminjam mobil sang istri agar tidak membuang waktu lama.
"Sayang?" panggil Sean setelah membuka pintu aparteman. Dia berjalan menghampiri Alexa yang ternyata berbaring di sofa bersama Eca dan Eri.
Alexa langsung bangun dan menyambut kedatangan suaminya dengan kening mengkerut, Alexa mengira Sean telah pergi sejak tadi.
"Kenapa pulang? Husbu berubah pikiran?" tanya Alexa dengan senyuman, tapi senyuman itu sirna seketika melihat gelengan kepala dari Sean.
"Ban mobil aku kempes, Lexa. Aku pinjam mobil kamu ya," izinnya.
Alexa menghela nafas panjang, meski begitu tetap saja berjalan ke kamar untuk mengambil kunci mobil untuk sang suami.
"Ban kempes pertanda Husbu di suruh istirahat dirumah, bukan malah ngeyel!" omel Alexa, tapi tetap saja memberikan kunci mobil.
"Masih dibahas saja, aku pergi dulu." Sean mengecup kening Alexa dan segera meninggalkan apartemen. Sesampainya Sean di basemen, pria itu langsung masuk ke mobil putih milik Alexa dan melajukannya secara perlahan meninggalkan gedung.
Dia segera menghubungi seseorang untuk memberikan informasi akurat.
"Mobil Alexa baru saja pergi, pastikan kau menggunakan kesempatan ini untuk melukainya!" ucap Ziko pada seorang wanita di seberang telpon.
Wanita itu adalah Serin, wanita yang berhasil mengelabui pengawal ayahnya dengan masuk ke bandara, tapi setelah Arnold pergi, Serin keluar dari bandara dan mencari tempat persembunyian yang sangat aman.
Hari itu juga Serin langsung menemui Ziko dan meminta bantuan pria itu agar bisa melukai atau bahkan membunuh Alexa. Sayangnya dia datang pada orang yang salah, Ziko mencintai Alexa tidak mungkin melukainya.
Sekarang Ziko berusaha menyelamat Alexa dengan membawa korban lain yaitu Sean sendiri.
"Cara yang sama, dengan orang yang berbeda," guman Ziko yang masih ingat bagaimana dulu Sean dan Alexa bekerjasama untuk mencelakai dirinya karena ingin menyelamatnya Ricard, dan ini saat yang tepat untuk membalas dendam.
"Tentu, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya."
"Aku bantu sampai disini saja, berhenti menghubungiku lagi," imbuh Ziko. Pria itu memutuskan sambungan telpon sepihak lalu memblokir nomor Serin dan segera berangkat ke tempat yang jauh, tempat yang tidak ada seorangpun bisa menemukan dirinya. Ziko tidak ingin menjadi tersangka kaki tangan Serin.
Toh dia tidak melakukan kriminal, hanya mengempeskan ban mobil Sean agar pria itu tidak mengendarainya.
Sementara disisi lain, Serin telah bersiap dengan mobil truk yang telah dia sewa. Wanita itu mengendarainya seorang diri agar bisa membunuh dan menyaksikan kematian Alexa secara langsung.
Serin yakin, tidak akan ada orang yang selamat setelah ditabrak oleh truk 12 roda. Manik hazel Serin terus mengintai berbagai pengendara untuk memastikan plat mobil juga warna yang sudah dia hafal di luar kepala. Plat dan warna mobil Alexa tentunya.
Senyuman licik tercetak jelas di wajah Serin saat dari kejauhan melihat mobil milik Alexa hampir mendekati perpatan empat. Serin memposisikan mobilnya berada paling depan lampu merah, dan akan bersiap menabrak mobil yang akan melajut sebab arah mobil tersebut sedang lampu hijau.