Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 188 ~ Sheila Anastasya Wijaya


"Saya jadi penasaran kenapa Tuan Azka tiba-tiba mengajak makan malam padahal sedang sibuk mengurus perusahaan." Sean mulai membuka suara setelah menghabiskan hidangan di atas meja makan.


"Tidak ada yang penting, saya hanya ingin meminta bantuan Tuan Sean untuk sesuatu."


"Boleh saya tahu?"


Sebelum berbicara lebih jauh lagi, Azka melirik istrinya yang sejak tadi menebar senyum ramah pada Alexa. Kalau saja bukan demi Sheila-putrinya, Azka tidak akan membuang waktunya membahas hal yang tidak perlu.


Dia sangat sibuk sekarang, tapi Sheila terus saja merengek agar keinginanya terpenuhi. Menjilat seseorang bukanlah keahlian Azka, tapi sepertinya malam ini dia akan melakukannya.


"Perusahaan Tuan Sean sedang berkembang pesat padahal sering kali mendapatkan kritikan pedas dari netizen yang tidak bertanggung jawab. Saya salut akan kerja keras dan pembuktian ...."


"Anda tidak pintar berbasa-basi Tuan Azka, apalagi jika harus menjilat rekan bisnis seperti ini. Silahkan bicara pada intinya saja!"


Salsa dan Alexa yang mendengar hal tersebut lantas mengulum senyum. Beginilah jadinya jika dua pria sama-sama posesif dan tidak suka berbasa-basi disatukan dalam forum.


"Baiklah." Azka mengambil nafas panjang. "Tolong izinkan putri saya bekerja diperusahaan, dimana saja tidak masalah asal bukan Ob. Putri saya sangat tertarik untuk bekerja di bidang kecantikan, dan hanya perusahaan Tuan yang saya percaya."


Tentu saja tidak sembarang Azka meminta bantuan pada seseorang terlebih untuk memperkerjakan putri kesayangannya. Dan pilihan jatuh keperusahaan Jonshon Group yang presdirnya terkenal bertalenta dan tidak semen-mena, terlebih Azka sedikit mengenal Sean.


"Perusahaan kami selalu terbuka untuk pekerja dan akan diterima jika memenuhi syarat. Silahkan ajukan ...."


"Sudah, tapi sampai sekarang tidak ada balasan apapun dari HRD. Pekerjakan saja putri saya Tuan tanpa memberinya gaji. Dia hanya ingin bekerja itu saja."


Kening Sean mengkerut, baru kali ini pria itu bertemu pengusaha yang sangat aneh seperti Azka. Pengusaha batu bara yang terkenal dingin memohon di hadapannya.


Yang bahkan dimana Jonshon Group tidak ada apa-apanya dimata Wijaya Group.


"Sean, tidak ada salahnya mempertimbangkan permintaan mereka," bisik Alexa sambil menarik-narik ujung jas suaminya dibawah kursi.


"Baiklah, saya akan turun tangan langsung mencari Cv atas nama, siapa tadi?"


"Sheila Anastasya Wijaya," sahut Azka cepat.


"Terimakasih atas kesediannya Tuan."


Azka dan Sean saling bersalaman sebelum meninggalkan ruangan VIP setelah makan malam bersama.


Sepasang kekasih itu berjalan beriringan keluar dari restoran.


"Sebenarnya aku tidak mau menerima permintaan mereka Lexa! Jaman sekarang terlalu banyak orang jahat menjelma menjadi baik karena tujuan tertentu. Bagaimana jika putri mereka masuk hanya untuk menghancurkan perusahaan dari dalam?" Sean terus mengomel sambil melonggarkan dasi yang mencekek lehernya sejak tadi. Kalau saja bukan Alexa, Sean tidak akan menerima permintaan Azka.


Pria itu selalu patuh akan aturan yang dia buat sendiri.


Sementara Alexa hanya menanggapinya dengan senyuman saja. "Terlalu over thingking pada seseorang juga tidak baik untuk kesehatan, Husbu. Lagipula apa gunanya mereka menghancurkan perusahaan kita? Mereka jauh lebih segalanya dan tentu saja bukan lawan bisnis kita."


"Entahlah." Sean melempar tatapannya keluar kendela mobil, menikmati perjalanan dengan kecepatan pelan dikendalikan oleh Arya.


Pria itu sesekali melirik ke belakang dimana sepasang suami istri terlihat sangat mesra. Alexa bersandar di dada bidang Sean, sementara Sean menempelkan bibirnya dikening Alexa.


"Untung saja aku sudah menikah," batin Arya tersenyum lega. Seketika bayangan senyuman Ayra yang menyambutnya di depan pintu langsung terlintas di kepala Arya tanpa diminta.


"Arya?"


"Iya Sayang."


"Maksud kamu apa panggil istri saya sayang!" Suara Sean mengema di dalam mobil. Tatapan pria itu menukik tajam pada asistennya.


Sedangkan Arya langsung mengigit bibir bawahnya. Meruntuki diri sendiri yang terlalu larut dalam lamunan sampai mengira yang memanggil dirinya Ayra, bukan Alexa.


"Maaf Tuan."


"Gampang banget minta maaf setelah ...."


"Cukup Husbu, lagian Arya tidak sengaja kok. Ini sudah jam 10 lewat, pasti Arya merindukan istrinya dirumah, tapi harus menemani kita lebih dulu."


"Sekali lagi maaf Nona, Tuan. Saya tidak bermaksud membuat kalian bertengkar."


"Tidak apa-apa Arya, ah iya lurus saja di perpatan jalan ya. Saya dan Sean akan pulang kerumah saja!"