
"Bagaimana dengan Ziko?" tanya Alexa di tengah-tengah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Ada di rumah penyekapan, aku tidak bisa membesaskan dia sebelum tahu siapa dalang kejadian semalam," jawab Sean.
"Tidak masalah dia lepas atau tidak Sean, aku hanya ingin kau memberi balasan yang timpal pada orang-orang yang telah menganggu kehidupan kita. Dari pengalaman, kita belajar bahwa tidak semua orang bisa dipercaya."
"Aku tahu."
"Mata harus dibayar dengan mata," lanjut Alexa dengan wajah datarnya. Wanita itu sangat membenci orang-orang jahat, apalagi pria yang sering menghianati cinta seseorang.
Pandangan Alexa mengusuri halaman rumah sakit yang sangat luas setelah Sean membanting setir kemudi.
"Sebenarnya kamu mau apa kerumah sakit hm? Kurahap kau tidak menyembunyikan apapun padaku," tanya Sean membukakan pintu untuk Alexa.
Mengandeng tangan wanita bermata indah itu memasuki rumah sakit, berjalan sesuai arahan Alexa hingga mereka sampai di sebuah ruangan.
Mata Sean memicing membaca nama dokter yang tertempel di luar ruangan.
"SpOg? Lexa apa ini? Kau hamil?" tanya Sean.
Genggaman Sean tiba-tiba mengerat, bukankah jika Alexa hamil sudah jelas siapa ayahnya? Apa Sean harus mengalah untuk kesekian kalinya?
Sungguh jika itu terjadi, mungkin Sean akan benar-benar pergi dari hidup Alexa karena tidak sanggup lagi menunggu. Apalagi sekarang dia sudah jatuh cinta hingga dasar paling dalam.
"Hey kenapa wajah kamu terlihat murung Sean? Aku tidak hamil, tenang saja," ucap Alexa mengelus lengan Sean.
Wanita itu mengetuk pintu sebanyak tiga kali sebelum membukanya, melempar senyum pada sang dokter. Kemarin dia telah membuat janji hingga tidak perlu mengantri seperti yang lainnya.
"Nona Alexa? Apa ada keluhan tentang pemasangannya?" tanya sang dokter setelah Alexa dan Sean duduk di hadapannya.
"Tidak dokter, saya datang untuk melepas Iudnya," jawab Alexa terlewat santai padahal Sean ada bersamanya.
Sementara Sean hanya bisa terganga mendengar kata Iud keluar dari mulut Alexa. Dia bukan pria yang terlalu polos hingga tidak mengetahui hal seperti itu.
Jadi selama ini Alexa sudah mempersiapkan semuanya agar tidak hamil? Sungguh ingin rasanya Sean berteriak sakin senang.
Alexa ingin melepasnya sebab akan menikah dengannya, bukankah hal itu sangat enak di dengar? Alexa mempercayakan dirinya menjadi seorang ayah.
"Kenapa?" tanya Alexa yang menyadari sedang ditatap.
"Tidak ada," jawab Sean disertai gelengan kepala.
"Kalau begitu lepaskan tanganku, aku harus ikut dokter ke ruangan itu!" Menunjuk ruangan yang lebih kecil.
"Aku boleh ikut?"
"Ck, kau bukan suamiku Sean!" peringatan Alexa membuat Sean menghela nafas panjang.
Pria itu terpaksa menunggu Alexa di tempatnya semula. Menatap harap-harap cemas pada pintu ruangan yang baru saja Alexa masuki.
Dari artikel yang pernah dia baca, Iud semacam alat konrasepsi yang dimasukkan kedalam inti tubuh, bukankah itu sakit?
Sean bergedik ngeri memikirkannya. "Kenapa tidak pakai pil saja? Bukankah itu lebih aman," gumam Sean tapi masih bisa di dengar oleh Alexa yang baru saja keluar dari ruangan.
"Aman tapi aku sering lupa sesuatu jika malam hari," celetuk Alexa. Wanita itu beralih pada dokter.
"Terimakasih dokter atas waktunya."
"Sama-sama Nona Lexa, semoga segera mendapat momongan," balas sang dokter.
Sean buru-buru mengaminkan perkataan dokter dalam hati, padahal mereka menikah saja belum. Pria itu mengenggam tangan calon istrinya keluar dari ruangan dokter SpOg dengan wajah berbinar bahagia.
"Sepertinya kau sangat siap untuk pernikahan kita," celetuk Sean.
"Tentu, karena aku mempercayimu Sean. Apalagi kau bisa mengerti diriku. Kita sama-sama bentuk Reinkarnasi dari seseorang yang menderita karena cinta di kehidupan sebelumnya. Aku harap kisah cinta yang memilukan itu membuat kita belajar pentingnya menghargai sebuah cinta."
"Kalau kamu masih meragukan cintaku, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa Lexa. Haruskah aku bereinkarnasi untuk kedua kalinya?" canda Sean.
"Ish, aku tuh lagi berusaha ciptain momen romantis malah dirusak, kesal banget," cemberut Alexa. Wanita itu berharap Sean juga mengelurkan kata-kata yang akan membuatnya baper berkepanjangan.
"Romantis tidak harus dengan kata-kata, perlakuan juga bisa," balas Sean menjawil hidung mancung Alexa.