
"Jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Kalau ada apa-apa langsung telpon," ucap Sean mengecup kening Alexa. Pria itu telah siap dengan tas kerjanya dan tengah berdiri di ambang pintu.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut. Pulang tepat waktu, kalau lembur kabarin," imbuh Alexa.
"Iya Sayang," sahut Sean. Pria itu melambaikan tanganya pada Alexa setelah menjauhi pintu Apartemen.
Masuk ke lift yang akan membawanya menuju parkiran bawah tanah. Senyum Sean sejak tadi terus terukir di wajah tampannya. Mengetahui istrinya telah hamil membuat hati pria itu berbunga-bunga.
"Sean!"
Langkah Sean berhenti di basamen, dia menoleh dan mendapati sosok wanita ular di hadapannya.
"Saya sibuk!" ucap Sean dan langsung masuk ke mobilnya.
Sampai kapanpun dia tidak akan memberi celah pada Serin untuk menghancurkan rumah tangganya, telebih kini dia telah tahu siapa wanita ular tersebut. Akan Sean pastikan wanita itu akan dikirim oleh ayahnya keluar negeri.
Sean menancap gas mobilnya meninggalkan parkiran tanpa memperdulikan teriakan Serin yang terus memanggil namanya berulang kali. Membuat wanita itu mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Berani-beraninya ada yang menolak aku," geram Serin dengan tangan terkepal hebat.
***
Kening Sean mengkerut setelah membuka pintu ruangannya, dia tidak mendapati barang-barangnya di dalam sana. Aneh, pulang kerja kemarin semuanya masih tertata rapi.
"Mungkinkah aku dipecat? Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan?" gumam Sean.
Pria itu mengurungkan niatnya memasuki ruangan. Dia membelok ke ruangan presdir tempat Ricard berada. Sean terkejut bukan main mendapati papan namanya bertender indah di meja presdir utama Jonshon group.
"Selamat untuk kenaikan jabatannya, Tuan Sean. Selamat juga karena sebentar lagi akan menjadi ayah," ucap semua karyawan yang bertugas di lantai teratas.
"Apa ini?" Sean membalik tubuhnya menghadap para karyawan, terutama sekretaris Ricard.
"Kemarin Tuan Ricard resmi mengundurkan diri menjadi bagian Jonshon Group, dan mengangkat Tuan menjadi presdir utama. Berita ini telah menyebar ke seluruh petinggi perusahaan, jadi Tuan tidak bisa menolaknya," jelas sang sekretatis yang pakaianya cukup tertutup sebab telah didesiplikan oleh Ricard.
"Terimakasih atas sambutannya," imbuh Sean meski sedikit bingung karena ini semua terlalu mendadak untuknya.
Yang Sean tahu hanya mengabdi dan tidak membiarkan siapapun menjatuhkan harga diri Jonshon group.
Baru saja Sean akan menghubungi Ricard, pria itu lebih dulu menghubunginya.
"Bagimana kejutannya pagi ini Presdir?" Suara tawa terdengar di seberang telpon.
"Kenapa Tuan melakukan ini semua, saya benar-benar tidak bisa merebut posisi ini dari kalian."
"Kamu bukan merebutnya Sean, tapi mencapainya. Tolong bedakan dua hal tersebut. Semua tanggung jawab Jonshon group kurserahkan padamu, saya ingin pensiun dan menikmati kebahagian bersama kelarga kecil."
"Tapi, saya juga ingin menghabiskan waktu dengan istri saya yang sedang hamil," protes Sean.
Sekarang dia tahu kenapa Ricard memberikan semua tanggung jawab ini padanya. Ah sial, padahal dia juga ingin bersantai bersama istri tercinta. Bahkan tanpa bekerja uang akan tetap mengalir ke rekeningnya.
"Terimakasih adik ipar atas kesediaanya."
Sean mendengus kesal setelah panggilan telpon terputus. Kenaikan jabatan membuatnya bahagia juga cukup kesal. Dengan menjadi presdir, ada banyak tanggung jawab yang harus dia pikul tanpa bantuan dari siapapun.
"Semangat Sean demi Jonshon Group, istri dan calon anakmu," gumam Sean mengepalkan tangannya.
Pria itu segera beranjak lalu duduk di kursi kebesarannya sekarang. Tidak lupa Sean menghubungi anak buahnya agar tidak salah mengunjungi ruangan siang nanti.
Sean ingin membereskan urusannya dengan Serin secepat mungkin, agar rumah tangganya tidak lagi terancam bahaya.
"Ternyata dunia sangat sempit," imbuh Sean.
Karena memang sejak awal yang mengerjakan beberapa urusan perusahaan adalah Sean, pria itu tidak terlalu bingung menjalankannya meski mendapatkan naik jabatan secara tiba-tiba.
Pria itu mulai fokus dengan pekerjaan yang ada. Sementara di tempat lain, Alexa tengah menerima telpon dari seseorang hingga mengetahui apa yang terjadi dua tahun yang lalu.