
Seperti biasa setiap paginya Alexa akan berangkat ke sekolah SMK untuk membagikan ilmu yang dia miliki pada siswa-siswi yang membutuhkan.
Wanita dengan pakaian sederhana dan tidak berlebihan itu, melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah SMK Angkasa dengan menenteng baper bag berisi lembar soal dan jawaban hasil kuis yang dia berikan pada siswanya.
Selama mengajar di sekolah, Alexa tidak pernah membawa mobil karena itu akan sia-sia untuknya. Jika bukan Ricard yang menjemput saat pulang sekolah nanti, tentu saja Sean, siapa lagi?
"Bu Lexa butuh bantuan?" tanya siswa laki-laki langsung merebut paper bag di tangan Alexa. Sementara Alexa hanya bisa tertawa melihat tingkah siswanya.
"Sebenarnya tidak perlu, tapi kalau mau juga tidak masalah," jawab Alexa dengan senyumnya.
Tidak pernah sekalipun Alexa mengambil hati candaan dan pendekatan para siswanya, karena dia menganggap siswanya adalah adik yang harus di bimbing. Memaklumi segala tingkah mereka jika masih dalam batas wajar.
"Langsung bawa ke meja saya saja ya! Ibu ada keperluan sebentar ke perpustakaan," lanjut Alexa lagi setelah sampai di ujung koridor yang terbelah menjadi 4 bagian.
"Siap Bu." Siswa tersebut berbelok kearah kiri, sementara Alexa lurus kedepan hingga sampai di depan perpustakaan sangat luas dua lantai.
Dia langsung saja masuk ke sana dan mendapati salah satu siswa bersandar di rak buku memeluk lutut.
"Hey cantik, kenapa bersumbunyi di sini? Apa kau sakit?" tanya Alexa ramah.
"Aku nggak papa bu," lirih siswa tersebut.
"Ada yang menganggu kamu?" Alexa duduk dan ikut bersandar pada rak buku menghadap siswa perempuan tersebut. Dengan lembut dia menarik dagu gadis itu agar mendongak.
Alexa terkejut melihat luka lebab di pipi gadis itu. "Kamu dibuli?"
Gadis itu mengangguk dan mengelengkan kepalanya secara bergantian.
"Ck, masih saja ada kasus pembulian di sekolah. Apa itu sudah menjadi tradisi turun temurun?" decak Alexa kesal, terlebih saat teringat dia juga dulu pernah menjadi salah satu korban. Tapi tidak belangsung lama karena Alexa tipe yang tidak ingin ditindas.
"Siapa yang sudah buli kamu? Ayo katakan sama ibu! Ibu tidak akan bicara pada siapapun termasuk orang tua kamu sekalipun."
Gadis itu mengeleng dengan air mata kembali membasahi pipinya. "Aku nggak dibuli bu, tapi ...."
"Tapi?"
"Aku mau putus tapi pacar aku nggak mau dan mukilin. Jangan beritahu orang tua aku!" pintanya.
"Kamu masih kelas 10 seharusnya belum bisa pacaran, tapi tidak apa-apa itu hal yang biasa bagi remaja. Melihat dari lebab dipipi sepertinya pacar kamu sangat kasar, apa dia sekolah di sini juga?" tanya Alexa dan dijawab anggukan oleh gadis itu.
"Dia sering pukul kamu?" Gadis itu mengeleng.
"Dia mukul aku baru kali ini bu, karena nggak mau putus."
"Alasannya mau putus apa?"
"Dia punya pacar lain terus aku sering liat dia ci*uaman."
"Benar-benar ya anak jaman sekarang," batin Alexa.
"Kamu?"
"Dia nggak penah minta apa-apa sama aku. Sering beliin apa yang aku mau dan perhatian."
Alexa mengulum senyum mendengar curhatan siswanya pagi-pagi seperti ini. Dia beralih menguyel-uyel pipi cubi itu.
"Jangan sedih lagi ya, bicarakan ini baik-baik dan kalau dia mukul kamu lagi langsung ngomong sama Ibu! Biar ibu yang beri pelajaran."
"Iya ibu."
"Sekarang ke toilet cuci muka dan masuk kelas, sebentar lagi bel berbunyi!" perintah Alexa dan dijawab anggukan oleh gadis itu.
Setelah mengurus siswanya, barulah Alexa berjalan menuju rak buku Ekonomi untuk mencari buku yang dia butuhkan untuk hari.
Di tengah-tengah dia meneliti buku, seseorang tiba-tiba datang dan mengambil buku yang hendak dia ambil.
"Mau ambil ini juga?" tanya pria itu.
"Iya, apa kau membutuhkannya?" tanya balik Alexa.
"Tidak, ambilah jika kamu mau."
"Terimakasih," ucap Alexa dan berlalu pergi. Pria tersebut salah satu guru yang akhir-akhir ini berusaha mendekatinya.