Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 26 ~ Racun


"Sudah selesai, hm?" tanya Ziko memeluk Alexa dari belakang. Sementara Alexa tengah fokus merapikan rambutnya.


"Belum, aku lupa dandanin Eca," jawab Alexa menyingkirkan tangan Ziko dari pinggangnya.


Wanita bertama indah itu berjalan keluar kamar dan menuju kamar Eca. Selama itu pula Ziko selalu mengintili di belakang.


"Eca tidak perlu dibawa Lexa. Dia hanya kucing," kesal Ziko.


Sontak Alexa melayangkan tatapan tidak sukanya pada Ziko. Jika disuruh memilih, maka Alexa akan memilih Eca daripada Ziko.


"Ya sudah pergi sana! Kalau kamu tidak suka sama Eca kenapa menikah sama aku?"


"Ma-maksud aku bukan begitu Sayang." Ziko berjongkok di samping Alexa. "Hanya saja aku takut kalau saja Eca tidak nyaman berada di keramaian."


"Tenang saja, dia sudah terbiasa bepergian sama aku." Alexa langsung beranjak setelah mendadani Eca.


"Ayo, bunda dan kak Ricard sudah menunggu sejak tadi." Ajak Alexa berjalan lebih dulu tanpa menunggu respon Ziko.


Langkahnya memelan ketika Ziko dengan sigap mengambil alih Eca dalam gendongannya.


"Biar Eca sama aku .... Ssstttttt." Ziko mendesis sebab merasakan sakit di tangannya karena ulah Eca. Kalau saja tidak ada Alexa, mungkin Ziko sudah membuang kucing nakal itu ke selokan.


"Aduh Sayang, jangan gigit orang sembarangan. Ayo sama buna aja." Alexa kembali mengambil kucingnya.


Diam-diam dia tersenyum senang sebab Eca mengigit Ziko. Hal itu sering terjadi kalau saja Eca bertemu orang baru. Namun, Sean pengeculian. Baru bertemu sekali saja Eca langsung nyaman berada di dekat pria itu.


Mungkin bisa dibilang, Eca salah satu kucing yang mempunyai kelebihan khusus. Bisa membedakan orang jahat dan baik hanya dengan sentuhan saja.


"Kucingnya jantan apa betina?" tanya Ziko memecah keheningan setelah mereka berada di dalam mobil. Sejak tadi Alexa hanya fokus pada kucing sialan itu saja.


"Jantan."


"Kok namanya Eca?" protes Ziko.


"Suka saja."


***


Mengenggam tangan wanita yang menjadi ladang duitnya tersebut memasuki restoran mewah dan bergabung dengan Ricard dan Kania yang datang lebih dulu.


Views yang indah dipandang mata semakin menambah suasan hati menjadi tenang di dalam ruangan berdinding kaca tersebut.


Alexa dan keluarganya dapat menikmati indahnya bintang-bintang di langit malam. Terlebih atap restoran tersebut juga terbuat dari kaca tembus pandang.


Mereka sedang berada di restoran yang letaknya paling atas hingga tidak ada yang menghalangi untuk menikmati indahnya malam.


"Pintar juga kamu mencari tempat yang idah, Ziko," celetuk Kania masih menikmati pemadangan kota dari atas.


"Biasa saja Bunda." Ziko mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Sepertinya Ziko tipe pria yang romantis Lexa. Bunda curiga karena ini kamu jatuh cinta padanya."


"Tentu Bunda. Selain romantis, Ziko juga pintar dan bertanggung jawab, benarkan Sayang?"


"Hm."


"Basi," cibir Ricard menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Memperhatikan pelayan yang mulai berdatangan membawa berbagai menu seafood yang terlihat sangat lezat. Kalau boleh jujur, Ricard tergiur melihatnya.


"Kamu memang tahu kesukaan keluarga istrimu Nak. Sudah cocok ini jadi menantu idaman," puji Kania.


"Sudah seharusnya Bunda." Ziko tersenyum ramah.


Hingga tidak ada yang tahu bahwa senyumnya sebentar lagi akan mengundang petaka dalam keluarga Jonshon Group.


Alasan Ziko mengajak keluarga istrinya makan malam tidak lain untuk melenyapkan mereka dalam satu serangan saja.


"Tidak bisa Sayang, aku hanya memiliki 30% saham di perusahaan. Selebihnya milik bunda dan kak Ricard."


Kalimat penolakan itu membuat Ziko nekat membunuh orang-orang Alexa. Bukankah jika Ricard dan Kania meninggal semua harta akan jatuh ketangan Alexa?


"Aku sudah lama ingin mengajak bunda dan yang lainnya makan bersama, tapi baru kesampaian sekarang. Ayo makan, kita nikmati hidangannya!" ucap Ziko mempersilahkan.