
"Apa kamu sudah berangkat?" tanya Ziko pada Jesika di seberang telpon.
"Belum Sayang, aku berangkat besok setelah menyaksikan pertunjukan yang menarik."
"Pertunjukan? Kau sedang tidak merencakan apapapun pada kekuarga istriku kan Jesika? Jangan coba-coba menyakiti mereka! Kita hanya perlu menguras hartanya, bukan menyakiti fisik!" peringatan Ziko.
Mungkin hubungannya dengan Ricard tidak baik-baik saja, tapi berada di keluarga Alexa, terutama bunda Kania, membuat Ziko merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Mungkin niat awal menikahi Alexa karena ingin merebut harta dan membunuh keluarganya, tapi seiring berjalannya waktu keinginan itu perlahan-lahan menghilang dari hati Ziko.
Bahkan untuk menyakiti Alexa saja sudah tidak mampu Ziko lakukan. Rasa cinta mungkin telah bersarang di hatinya.
"Jesika!"
"Tenanglah Sayang, aku tidak akan melakukan apapun. Kenapa khawatir seperti itu? Kau takut aku melukai keluarga istrimu? Hebat, sekarang kau lebih membela dia daripada aku."
"Jesika, bukan itu maksud aku. Aku akan menjadi presdir tapi tidak dengan cara licik," bujuk Ziko. "Kita akan menikah sebentar lagi jadi jangan melakukan apapun."
"Iya Sayang, aku tahu. Aku akan mengabarimu setelah sampai di Kota ...."
Ziko mejamkan matanya seraya memijit pangkal hidungnya yang merasa berdenyut. Ternyata Jesika sangat terobsesi padanya hingga tidak ingin lepas begitu saja dan malah ingin menjeratnya lebih dalam.
Semua ini karena kebodohan Ziko sendiri telah berani bermain api bersama Jesika.
"Sayang?"
Ziko sontak membuka matanya mendengar suara wanita yang sering kali dia rindukan. Buru-buru mengakhiri panggilan sebelum Alexa menyadarinya.
"Lexa?"
"Aku merindukanmu." Alexa langsung naik ke pangkuan Ziko tanpa meminta izin lebih dulu. "Maaf karena semalam aku bersikap kasar padamu." Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Tidak apa-apa Sayang, aku mengerti suasana hatimu. Mau makan siang bersama lagi?" tawar Ziko.
"Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu saja. Ah iya." Alexa meraba saku jas yang dia kenakan, kemudian mengeluarkan sesuatu di sana.
"Jemput aku di rumah nanti pakai mobil ini Sayang," bisik Alexa.
Ziko menaikkan alisnya. "Ini bukannya mobil Ricard Lexa? Apa dia tidak marah hm?"
"Aku sudah memintanya, jadi jangan terlambat. Aku ingin menghabiskan malam yang panjang bersamamu di hotel."
"Kau menggodaku hm?"
"Kumohon berhenti Ziko, geli." Tawa Alexa semakin menjadi.
"Begini?" Ziko memindahkan tangannya.
Alexa mengangguk. "Ziko, apa kau benar-benar mencintaku? Apa jika aku tidak memiliki harta kamu masih mau menikah?"
"Tentu."
"Bohong!"
"Aku tidak bohong Sayang. Aku mencintaimu sungguh. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku."
"Tergantung, kalau kau mengkhianatiku, maka hubungan kita berakhir saat itu juga."
Alexa turun dari pangkuan Ziko setelah merasakan pelukan pria itu melonggar. Merapikan kemeja juga jasnya.
"Sampai jumpa di rumah Sayang." Wanita bermata indah itu mengecup pipi Ziko sebelum pergi.
Sementara pemilik pipi terpaku di tempatnya.
"Tergantung, kalau kau mengkhiantiku, maka semuanya berakhir."
Kalimat itu kembali terbayang dari pikiran Ziko. Semakin hari dia samakin takut untuk ditinggalkan.
"Tidak, aku tidak boleh lemah hanya karena cinta. Aku harus tetap merebut semuanya, dengan begitu baik Alexa ataupun wanita cantik diluar sana bisa aku miliki." Ziko mengepalkan tangan.
Berusaha agar tidak lemah karena cinta, sebab itu hanya bisa menghancurkan segalanya.
***
"Apa Nona yakin akan mengorbankan Ziko dalam hal ini? Nona tidak akan menyesal?" tanya Sean memastikan. Pasalnya rencana Alexa cukup berbahaya. Baik-baik kalau Ziko selamat, bagaimana jika sebaliknya?
"Aku yakin Sean, lagi pula ini semua karena salahnya."
"Nona benar-benar sudah tidak mencintai Ziko? Saya tidak ingin ada penyesalan nantinya." Sean terus saja bertanya pada Alexa.
"Laksanakan saja sesuai rencana Sean, dan pastikan Ziko mengendarai mobil itu!" sahut Alexa tidak memberi toleransi apapun.
Padahal bisa saja Alexa menyuruh seseorang untuk melenyapkan mobil Ricard tanpa mamakan korban satupun.
"Ini kesempatan aku untuk memberi pelajaran pada Jesika karena telah berencana mencelakai kak Ricard."