Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 180 ~ Nasehat Ayra


"Kak Arya?" Arnold langsung bangkit dari sujudnya ketika melihat Arya masuk ke kamar ibu mereka.


"Aku senang kamu mau datang kerumah ini membawa Serin. Ah iya dia sepertinya ingin membicarakan sesuatu di luar," ucap Arya.


"Serin?" tanya Arnold memastikan di dijawab anggukan kepala oleh Arya. Lantas saja pria itu berlari dengan langkah lebarnya keluar dari kamar.


Mencari keberadaan Serin di lantai dasar tapi tidak menemukan siapapun.


"Bibi melihat istri saya?"


"Istri Tuan? Yang perempuan cantik itu ya? Dia sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu setelah meletakkan sesuatu di atas meja itu." Menunjuk meja dimana ada ponsel tergeletak.


"Terimakasih." Berjalan menuju meja untuk mengambil ponsel yang ternyata miliknya. Melihat bilah status, Arnold langsung membaca pesan dari Serin yang izin pulang lebih dulu.


"Kenapa?"


Arnold melirik kakaknya yang ternyata menyusul ke lantai dasar.


"Serin pergi karena sesuatu, aku pamit dulu kak."


"Bagaimana mama bisa menyukainya? Lihatlah dia pergi tanpa pamit pada siapapun, mentang-mentan anak orang kaya!"


"Ma!" tegur Arya sementara Arnold sudah pergi tanpa ingin mendengar ocehan mamanya yang entah kenapa tidak menyukai Serin.


Arya menyusul kepergian Arnold, menghentikan langkah adiknya yang hendak masuk ke mobil.


"Aku tidak tahu apa yang kamu dan mama bicarakan, tapi sepertinya Serin mendengarnya. Arnold, jangan merasa terbebani dengan mama, aku akan membantu kamu untuk membujuknya." Arya tersenyum pada adiknya itu.


Arnold mengangguk dan segera meninggalkan rumah Arya, sementara pemilik rumah kembali masuk dan disuguhkan pemandangan yang indah.


Pemandangan dimana Ayra sangat dimanja oleh ibunya.


"Ini terlalu berlebihan Ma, aku tidak lelah dan tanganku sama sekali tidak pegal," kata Ayra berusaha menyingkirkan tangan mertuanya dari tangan karena merasa tidak enak.


"Diam dan nikmati kasih sayang mama Nak, orang baru melahirkan itu sangat lelah dan kurang tidur. Sebagai mertua mama harus memanjakan menantunya."


"Mama punya dua menantu, Serin dan Ayra."


"Mama, bukan Ay mau mengurui Mama, tapi apa yang dikatakan mas Arya ada benarnya. Mama punya dua menantu dan seharusnya tidak membedakan satu sama lain."


Ayra tersenyum sambil menatap suaminya, tapi tangannya sejak tadi bertender di atas punggung tangan mertuanya.


"Dengan sikap Mama yang seperti ini, maka Mama tanpa sadar menciptakan konflik di antara anak-anak Mama. Mungkin Arnold sekarang hanya memohon, tapi bagaimana jika lama kelamaan dia salah paham dan membenci mas Arya karena mengira mas Aryalah yang menghasut Mama untuk membenci Serin."


"Terlebih mas Arya bekerja dengan Tuan Sean, dimana Arnold bisa saja beranggapan demikian."


Arya tersenyum mendengar ucapan istrinya yang sangat masuk akal. Ternyata tidak sia-sia dia memperjuangkan Ayra 6 tahun yang lalu untuk mencari di desa tempatnya tinggal dulu.


Sangat sulit meyakinkan Ayra untuk menikah, karena wanita itu tidak ingin pesaudaraanya berantakan.


"Tapi mama tidak bisa menerima masa lalunya Nak. Dia terlalu ...."


"Namanya masa lalu pastilah sudah berlalu Mah. Karena Serin sudah berubah, kenapa kita tidak membantunya ke jalan yang lebih baik? Aku yakin dia perempuan baik-baik. Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti."


"Dengar-dengar dulu Serin jahat dan terobsesi pada Tuan Sean karena haus kasih sayang. Jadi dia punya alasan jahat Ma. Aku tidak mau karena Mama membenci Serin, Arnold juga ikut-ikut membenci Mama."


"Dengerin menantunya Mah, jarang-jarang dia bijak seperti itu." Ledek Arya.


"Mas!"


"Mas ke kamar dulu." Arya diam-diam tersenyum dan bersiap kabur sebelum istrinya mengamuk.


Pria itu menurunkan penyangga ranjang dan berbaring tepat di samping putranya yang mengemaskan


"Mau dengar cerita dari Ayah?" Arya menoel-noel pipi cubi putranya.


"Semalam ayah tidak bisa tidur karena gaji terancam dipotong, tapi pagi ini ayah bahagia dapat bonus dari bos ayah. Tahu kenapa?"


"Kenapa, Yah?" tanya Ayra yang ternyata sudah ada di dalam kamar.


"Kayaknya Tuan Sean dan Nona Alexa sudah baikan jadi gaji aku selamat bulan ini."


"Kenapa kepikiran? Bukannya Tuan Sean tidak benar-benar memotong gaji Mas, ya meski potongannya harus telat beberapa hari karena diomelin sama Nona Lexa dulu."