
"Kalian benar-benar akan pindah?" tanya Kania memastikan.
Alexa menganggukkan kepalanya, wanita itu langsung memeluk bundanya cukup erat. Setelah sekian lama mereka harus tinggal terpisah karena keiginan Sean.
Alexa bisa saja egois dan memaksa Sean untuk tinggal di rumah orang tuanya, tapi itu dia urungkan demi menghargai keputusan sang suami. Meski sedikit jahil dan sering kali bersikap tegas, Alexa adalah wanita penurut bagi orang-orang yang dia sanyangi.
"Lexakan harus ikut suami Bunda, tenang saja Lexa akan sering berkunjung nanti. Lagipula jarak rumah dan apartemen tidak terlalu jauh," gumam Alexa dalam pelukan bundanya.
"Bunda belum bisa percaya kamu bisa tinggal sendiri dan mengurus suami sendiri Lexa," balas Kania menepuk pundak putrinya yang lebih tinggi.
"Ck, Lexa sudah berusia 27 tahun bukan anak-anak lagi." Alexa melerai pelukannya dan tersenyum meyakinkan pada sang bunda.
"Usia 27 tahun tapi sikapnya seperti anak kecil," celetuk Ricard. Pria itu merentangkan tangannya. Melihat itu Alexa langsung menghembur memeluk Ricard.
"Aku sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari kakak. Buktinya aku sudah dua kali menikah tapi kak Ricard belum," ledeknya.
"Baiklah kau menang gadis kecil." Ricard menyentil hidung Alexa membuat wanita itu mengadu kesakitan.
"Sean lihatlah ada yang menyentil hidung istrimu," adu Alexa pada Sean yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi keluarga bahagia tersebut.
"Tenang saja akan kuhukum dia," sahut Sean jelas berbohong. Mana berani pria itu menghukum Ricard yang notabenenya adalah kakak ipar sekaligus bosnya.
Kania tersenyum dan menghampiri Sean. Wanita itu menepuk pundak menantunya. "Jangain anak Bunda ya, baru kali ini dia akan pergi dari rumah dan mempercayakan hidupnya pada orang lain. Bahkan saat pernikahan pertamanya, dia tidak ingin meninggalkan rumah."
"Sean, usia istrimu mungkin 27 tahun tapi kelakuanya seperti anak kecil. Sering kali menjahili dan diam tiba-tiba jika sedang marah. Bunda harap kamu sabar menghadapi sikapnya."
"Bunda," tegur Alexa karena bundanya mulai menceritakan hal-hal buruk pada Sean.
"Dia hanya terlihat tegas dan berwibawa di depan orang lain saja," lanjut Kania tanpa menghiraukan protesan Alexa.
"Artinya kalau Alexa memperlihatkan sikap yang dikatakan bunda, berarti kamu adalah orang spesial dihidupnya, Sean," celetuk Ricard.
Sean tersenyum, merasa sangat senang karena sikap itu dia dapatkan dari Alexa sejak mereka menjalin hubungan beberapa minggu sebelum pernikahan.
Alexa tersipu melu mendegarnya, wanita itu berjalan perlahan mendekati Sean dan mengenggam tangan suaminya.
"Ayo!" ajaknya pada sang suami.
"Kita pergi dulu Bunda, Ricard," izin Sean dan dijawab anggukan oleh Ricard dan Kania.
Sepasang pengantin baru itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah milik keluarga Jonshon. Memulai hidup baru bersama dan saling berbagi suka dan duka bersama.
"Semuanya sudah siap? Kau tidak melupakan sesuatu lagi hm?" tanya Sean memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya.
Alexa mengangguk sebagai jawaban. Semua barang penting yang Alexa perlukan sudah dibawa oleh orang suruhan Sean ke apartemen lebih dulu.
"Mau ke suatu tempat?" tanya Sean lagi seraya memutar setir kemudi meninggalkan lingkungan rumah Alexa.
"Tentu, kita harus belanja bulanan dan melengkapi bahan-bahan dapur juga keperluan pribadi kita."
"Baiklah," sahut Sean.
***
"Pilih yang sehat Lexa!" tegur Sean. Pria itu juga ikut memilih bahan-bahan dapur. Tinggal sendiri membuat Sean sedikit tahu tentang urusan rumah.
Keduanya sekarang berada d
"Aku tahu," sahut Alexa. Dia mulai memilih buah-buahan setelah meninggalkan area bahan-bahan dapur.
Pokoknya hari ini Alexa dan Sean akan menghabiskan waktu hanya untuk melengkapi rumah saja. Sebernya ini tidak perlu mereka lakukan sendiri jika tidak ingin, hanya saja keduanya sengaja meluangkan waktu sebelum sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Waktu cuti Alexa dan Sean hanya satu minggu saja, setelahnya mereka mungkin akan bertemu saat pagi dan malam saja. Sisanya jika akhir pekan, itupun jika tidak ada pekerjaan dadakan.