Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 46 ~ Bosan bersandiwara


"Aduh romantis banget sih anak bunda," puji Kania ketika melihat Alexa begitu telaten menyuapi Ziko.


Satu suap untuk diri sendiri satu suap untuk sang suami.


"Pencitraan," gumam Ricard semakin mempercepat kunyahannya agar makanan yang ada di dalam piring cepat habis.


Sampai kapanpun pria itu tidak akan betah jika harus duduk satu meja dengan Ziko.


"Bilang saja kamu iri sama Ziko dan Alexa. Rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak pernah bertengkar, sementara kamu?"


"Bunda ayolah, Ricard paling tidak suka dibading-badingkan," sanggah Ricard mulai merajuk seperti anak gadis.


Pria itu beranjak dari duduknya setelah berhasil menghabiskan makanan. "Ricard sudah selesai," ucapnya dan berlalu pergi.


"Ck, tidak perlu heran sama sikap kakak kamu Ziko. Nikmatilah makan malam kalian berdua, bunda juga sudah selesai," ucap Kania.


Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. "Ah iya, tadi mantan sekretaris kamu datang kerumah dan mengaku sebagai kekasihmu Ziko, bunda harap itu tidak benar."


"Itu tidak benar Bunda, dia juga datang kerumah sakit dan bicara hal yang sama. Sepertinya dia sudah gila karena tidak mendapatkan pekerjaan," sahut Alexa menyembunyikan keretakan rumah tangannya pada sang bunda.


Alexa tidak ingin bundanya bersedih karena dirinya. Kalaupun nanti dia dan Ziko akan berpisah, setidaknya untuk sekarang Kania masih tenang.


"Makasih Lexa sudah menutup aib aku dari bunda."


"Tidak masalah, sudah seharusnya seorang istri menutup aib suaminya. Aku seperti ini karena mencintamu Ziko." Alexa tersenyum tipis dan kembali menyuapkan makanan ke mulut Ziko.


Usai makan malam, Alexa dan Ziko ke kamar untuk istirahat sejenak.


"Jangan pancing aku Sayang, kamu tahu sendiri belutku baperan."


"Benarkah?" Alexa semakin mengusap paha Ziko yang terekspos sebab hanya memakai celana pendek.


"Hm."


"Bagimana kalau ini?" Alexa semakin nakal menelusupkan tangannya hingga menyentuh sesuatu yang mulai mengeras, tanpa memperdulikan respon Ziko.


Pria itu sesekali terpejam karena terlalu menikmati elusan sang istri. Dengan sigap, Ziko menahan tangan Alexa dengan tangan kirinya. Andai saja salah satu tangannya tidak sakit, dia sudah menerkam Alexa malam ini juga.


"Teruskan Sayang!" pinta Ziko mulai menikmatinya.


Namun, Alexa menghentikan aktivitasnya. Wanita itu sengaja memancing tanpa ingin memuaskan Ziko sama sekali.


"Sayang?"


"Kamu yang menyuruhkan berhenti tadi!"


"Lanjutkan!" pinta Ziko dengan tatapan memohon, tapi Alexa malah turun dari ranjang ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar.


Wanita itu membuka pintu. "Kenapa?"


"Katakan padanya untuk menunggu di perpustakaan rumah."


"Baik Nona."


Alexa kembali menutup pintu dan menyambar cardigan di dalam lemari kaca. Dia hanya memakai lingerie, dan tidak mungkin berjalan-jalan diperhatikan banyak pelayan pria.


"Mau kemana?"


"Sean menungguku," jawab Alexa.


"Jangan pergi! Aku tidak suka kalau kamu bertemu Sean, Alexa. Terlebih kamu berpakaian seperti itu," cegah Ziko.


"Ck, ini urusan pekerjaan Ziko, kau tahu aku tidak suka dibatasi oke?"


Alexa menyentak tangan Ziko dan meninggalkan kamar. Berjalan menuju perpustakaan yang berada di sebelah utara rumah tersebut.


Dia mendudukkan diri di hadapan Sean setelah sampai di perpustakaan.


"Semoga kamu membawa kabar baik seperti biasanya Sean," ucap Alexa.


"Tentu saja Nona. Besok berita pemberhentian Ziko sebagai wakil presdir akan diumumkan bertepatan dengan surat penangkapan Jesika keluar," ucapn Sean tidak berani menatap Alexa.


"Bagus aku suka kerja cepatmu,


Kamu tahu? Aku bosan bersandiwara menjadi istri yang baik, kalau bukan untuk membodoh-bodohi Ziko tidak akan aku lakukan," keluh Alexa menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Kau sudah menemukan siapa pemilik perusahaan virtual tersebut? Apa uang perusahaan yang diinvestasikan Ziko aman?"


"Tentu Nona, saya sudah menghubungi pemilik perusahaan tersebut."


"Kenapa sejak tadi kau bicara tanpa menatapku Sean?" heran Alexa.


Sudah lama mereka bicara tapi Sean terus saja menunduk, seakan sepatu pria itu lebih menarik dibanding Alexa.


"Bukan apa-apa Nona."


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak!" elak Sean. "Hanya saja aku berusaha menghormati Nona sebagai teman juga atasan."


"Maksud kamu ...." ucapan Alexa berhenti ketika tidak sengaja melihat pantulan dirinya melalui lemari kaca dimana terdapat banyak piala di dalamnya.


Sial, sejak tadi ternyata cardigannya tersingkap hingga memperlihatkan lingerie yang dia kenakan.


"Pergilah!"


"Baik Nona."