Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 165 ~ Drama di malam hari


Suara tamparan dan pukulan terdengar beberapa kali di dalam ruangan yang temarang akan cahaya. Pelaku pemukul itu tidak lain Arya yang telah memberi pelajaran pada seseorang yang berani mengusik ketenangan Sean.


"Jawab bodoh! Atau kau habis malam ini!" bentak Arya dengan tatapan menyala karena amarah.


Tidak mendapat jawaban, Arya kembali melayangkan tinjunya tepat di pelipis orang yang telah menyebarkan berita buruk tentang Jonshon group.


"Pukul saya sampai mati itu lebih baik!" sahut pria yang Arya temui di kantor tadi.


Sontak saja Arya menghentikan pukulannya dan tersenyum miring. Sepertinya memukul pria itu tidak akan berguna.


Arya melangkah mundur lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, menempelkan benda pipih itu ditelinganya.


"Jalan belitung gang 3, di sana ada seorang wanita bersama anak kecil. Habisi dia dan ...."


"Saya akan beritahu!"


"Seharusnya kau mengatakannya sejak tadi." Arya memasukkan ponselnya di saku celana, lalu kembali menghampiri pria pengacau tersebut.


"Ternyata kau masih sayang istri dan putramu. Katakan!"


"Tuan ...." Menyebuatkan nama seorang pengusaha yang tidak terlalu dikenal banyak orang. "Dia memberi saya banyak uang untuk menyebarkan gosip tentang perusahaan."


"Dasar bodoh!"


Arya sekali lagi melayangkan tinjunya sebelum pergi dari ruangan tersebut. Pria itu berhenti di antara para bawahannya yang selalu berjaga di rumah penyekapan.


"Bawa orang bodoh itu kerumah sakit dan tuntut atas pencemaran nama baik!"


***


Mata Alexa perlahan-lahan terbuka menyesuaikan cahaya lampu kamar yang tidak pernah mati setelah anak-anak mereka lahir kedunia. Wanita itu turun dari ranjang sambil memegangi kepalanya yang mulai berdenyut hebat.


Dia baru saja tidur beberapa menit yang lalu untuk menyusui Aily, dan sekarang suara tangisan kembali terdengar memekakkan telinga Alexa.


"Sayang, bisa tidak sih semalam saja kamu biarin bunda tidur?" tanya Alexa terkesan mengomel.


Oeee ... Oe.. Oeee


Bukannya berhenti suara Aily malah semakin kencang. Dengan perasaan kesal Alexa mengendong bayi mungil itu agar berhenti menangis.


Beberapa menit mengendong, Alexa mengembalikan ke boks, tapi Aily terbangun lagi.


"Kepala bunda sudah sakit jadi tidurlah dan ...." Isakan Alexa mulai terdengar membuat Sean yang tidak sengaja terbangun mengernyit heran.


"Sayang, kenapa menangis hm?" tanya Sean buru-buru turun dari tempat tidur. Menghapus air mata Alexa yang masih berdiri sambil mengendong Aily yang kembali tertidur.


"Aku lelah dan mengantuk tapi Aily nangis terus. Pempres dan yang lainnya sudah aku cek tidak ada yang aneh."


Sean melirik jarum jam yang menunjukkan angka 2 pagi. Pria itu mengambil alih Aily dari gendongan istrinya.


"Tidurlah! Biar aku yang mengaja anak-anak."


"Serius? Bukannya Husbu besok kerja?"


"Serius Sayang, ayo tidur!"


Meski ragu, Alexa tetap menganggukkan kepalanya karena sakit kepala yang tidak tertahankan. Wanita itu mulai memejamkan mata perlahan, apalagi saat merasakan kecupan di keningnya yang terasa sangat hangat.


"Lain kali kalau lelah jangan sungkang bangunin aku ya! Anak kita tidak salah jadi jangan dibetak seperti tadi," bisik Sean.


"Maaf."


"Dimaafin Bunda." Sean tersenyum, menarik selimut dengan sebelah tangannya untuk membungkus tubuh Alexa.


Pria itu kembali pada Aily yang tampak tenang dalam gendongannya.


"Anak ayah juga tidak boleh buat bunda nangis, kasian loh bunda belum tidur dengan benar," ujarnya pada bayi mungil, tidak lupa mengecup kedua pipi Aily yang mulai cubi.


"Cengeng tapi cubi, anak siapa sih?"


Sean terus saja mengajak putrinya berbicara. Jika lelah dan mengantuk akan mengembalikan Aily ke boks, tapi hasilnya nihil. Aily sepertinya ingin dimanja itulah mengapa lebih ingin digendong.


Untung saja Aidan dan Aiden tidak serewel Aily, atau Alexa akan stres menghadapi tingkah ajaib anak-anaknya.


Di saat Sean berhasil menidurkan Aily di boks tanpa terbangun lagi, sekarang Aiden lah yang bangun karena lapar. Untung saja ada asi yang telah Alexa siapkan di dalam dot.


Sebelum memberikan, Sean mencicipinya lebih dulu takut sudah basi dan berujung menyakiti perut putranya.


Hingga sampai jam 4 pagi, Sean masih saja mengurus anak-anaknya secara bergantian tanpa ada kata mengomel dan lelah.