
Sean merapikan jasnya sebelum keluar dari mobil. Berjalan dengan gagahnya memasuki perusahaan yang selama satu minggu ini tidak dia injak karena sibuk dengan sang istri.
Wajah berseri-seri tentu saja terpancar begitu saja, aura pengantin baru sangat melekat dalam diri Sean. Pria itu memang rapi, tapi terlihat lebih rapi semenjak mempunyai seorang istri.
"Pagi Tuan," sapa karyawan yang Sean lewati.
Sean hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap siapa yang telah menyapanya. Toh sejak dulu Sean selalu acuh pada sekitar.
Sean mengetuk pintu sebanyak tiga kali sebelum membuka ruangan Ricard.
"Pagi Tuan," sapa Sean sopan. Pekerjaan tetaplah pekerjaan itulah mengapa Sean kembali memanggil Ricard Tuan.
"Sudah puas liburnya? Sungguh kau membuatku repot Sean. Selama kau libur saya tidak bisa bertemu Delia!" kesal Ricard.
Sean mengigit bibir bawahnya agar tidak tertawa mendengar curhatan Ricard, mungkin jika Alexa ada di sini wanita itu akan tertawa terpingkal-pingkal.
"Maaf Tuan, sekarang saya akan mengambil alih semua pekerjaan," sahut Sean patuh.
"Tentu saja." Ricard bangkit dari duduknya dan mendekati Sean.
"Sepertinya saya harus mengirimkan obat nyamuk ke apartemenmu," bisik Ricard dengan ekpresi mengejek.
"Sepertinya nyamuk kamu terlalu ganas sampai membuat lehermu merah seperti itu," lanjut Ricard sebelum benar-benar meninggalkan ruangannya.
Sean sontak menyentuh lehernya, benarkah ada bekas merah di sana? Sungguh dia tidak sadar. Pria itu berjalan menuju toilet untuk memastikan dan benar saja bekas sesapan Alexa tertinggal.
"Dasar wanita nakal," gumam Sean dengan senyum simpulnya. Bukannya marah pria itu malah salting mengingat apa yang dilakukan Alexa semalam.
Awalnya wanita itu sangat malu-malu tapi akhirnya wanita itulah yang menguasai dirinya.
"Konyol."
Sean segera meninggalkan kamar mandi untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi bekas kecupan tersebut.
***
"Bu Lexa!"
Alexa langsung menoleh ke sumber suara. Tiga remaja belari menghampiri wanita itu.
"Kenapa?" tanya Alexa.
"Bu Lexa benaran sudah menikah dengan om jelek itu?" tanya salah satu cowok mewakili teman-teman yang lainnya.
"Saya memang sudah menikah dan ingat, suami saya tidak jelek," peringatan Alexa dengan senyumannya.
"Yah bu, harapan kita pupus dong. Kenapa nggak nunggu saya lulus aja sih? Saya pasti ...."
"Kalau nikah muda tanpa pekerjaan tetap, kalian mau ngasih makan apa istri kalian?"
"Orang tua kita banyak uang kok bu."
"Itu uang orang tua kalian, bukan uang kalian! Jangan pikirkan menikah sebelum punya pekerjaan tetap, mengerti?"
"Iya bu." Pasrah ketiga remaja tersebut.
"Anak-anak jaman sekarang, suka sama orang tanpa kenal usia dan profesi." Alexa mengelengkan kepalanya tidak percaya. "Bahkan guru yang harusnya menjadi guru harus mereka goda," lanjutnya.
Alexa terus saja bicara sendiri di koridor sekolah menuju ruang guru karena sekarang jam istirahat.
"Pemikiran kamu dewasa banget, tidak heran kamu menjadi guru yang disukai banyak siswa," celetuk Irwan yang menyamai langkah Alexa.
"Terimakasih untuk pujiannya pak Irwan," sahut Alexa dan semakin mempercepat langkahnya.
Entahlah tapi setelah menikah, Irwan lebih sering mengambil kesempatan untuk bicara dengannya. Sebisa mungkin Alexa menghindar sebelum terjadi hal-hal yang tidak di harapkan.
Baru saja Alexa akan duduk di kursi, ponselnya sudah berdering. Senyum yang sempat hilang di wajah Alexa kembali terbit mengetahui siapa penelpon tersebut.
"Siang Husbu," sapa Alexa.
"Husbu?" heran Sean di seberang telpon.
"Hm, tidak suka?" tanya balik Alexa.
"Suka my Wife."
Alexa mengulum senyum mendengar panggilan Sean untuknya. Dia bersandar pada kursi agar lebih rileks.
"Sudah makan siang?"
"Belum, aku diet hari ini sampai satu minggu kedepan. Berat badanku naik karena terlalu bahagia."
"Jangan diet, aku tidak suka wanita kurus."
"Husbu?"
"Otw, tapi setelah tumpukan berkas ini selesai." Sean menunjukkan tumpukan map melalu video call pada Alexa.
"Semangat kerjanya untuk menafkahi istri cantikmu ini. Punya istri cantik harus banyak uang biar bisa perawatan."
"Tentu akan aku lakukan. Jangan lupa makan pokoknya, dah."