Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 137 ~ Keadaan semakin krisis


Alexa berjalan perlahan mendekati brangkar di mana suaminya tengah berbaring dengan beberapa peralatan rumah sakit menempel di tubuh pria itu. Dari selang infus, hingga monitorin ICU yang memperlihatkan detak jantung dan cera kerja organ vital lainnya.


Tidak terasa air mata Alexa kembali menetes hingga berhasil membasahi masker yang dia kenakan. Wanita itu duduk di samping brangkar dan mulai terisak pilus.


Tubuh Alexa kini terbungkus pakaian khusus yang telah disterilkan dari rumah sakit langsung, itu salah satu syarat agar bisa masuk keruang intensif untuk menemui Sean.


"Kenapa begini Husbu?" lirih Alexa dengan suara bergetar. Rasanya sangat sakit melihat pria yang selalu perhatian dan sayang padanya harus terbaring di rumah sakit tanpa bisa tersenyum lagi.


Tangan Alex terulur untuk menyentuh salah satu tangan Sean yang tidak terpasang alat apapun. Dikecupnya punggung tangan Sean cukup lama.


"Kamu jahat banget ninggalin aku sendiri, ayo bangun dan manjain aku sesuka hati kamu. Aku tidak boleh keluar rumah kan? Aku akan mematuhi semua perintah kamu, Sean. Jadi bangunlah!"


Suara tangisan Alexa di dalam ruang intensif semakin menjadi karena tidak kuasa menahan dadanya yang terasa sesak.


Kini tidak ada lagi pria yang akan membuatkannya susu hamil sebelum tidur. Tidak ada pria yang akan menyiapkan sarapan di pagi hari.


"Ayo bangun dan peluk aku Husbu, jangan diam saja seperti ini," lirih Alexa dengan tubuh bergetar. Ingin rasanya Alexa memeluk tubuh tidak berdaya Sean, tapi apa daya dia tidak bisa melakukannya karena dokter sudah berpesan.


"Aku percaya kamu pria yang kuat dan tidak suka ingkar janji. Husbu pasti bangun untuk menemuiku lagi, iya kan? Ayo jawab aku, Sayang!" desak Alexa.


Tangan wanita itu berpidah ke kepala dan mengusap kepala yang terbalut perban lumayan tebal. Terlalu banyak luka yang Sean alami dan yang terparah pendarahan otak juga patah tulang.


Bahkan dokter sempat mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan pada Alexa. Sean di perkirakan akan mengalami lumpuh permanen jika patah tulangnya tidak kunjung membaik.


"Anak kita membutuhkan kamu, jadi jangan terlalu lama tidur," lirih Alexa.


Wanita itu segera beranjak setelah waktu yang telah diberikan oleh dokter sudah habis. Sebenarnya Alexa masih ingin berlama-lama, tapi dia juga tidak ingin melanggar aturan yang mungkin saja hanya akan membahayakan kesehatan suaminya.


"Bagaimana Nak?" tanya Kania.


Alexa mengelengkan kepalanya dan langsung memeluk Kania. Dia kembali menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu.


"Luka Sean terlalu parah Bunda, aku tidak bisa membayangkan sesakit apa yang dia rasakan sekarang. Dia pria yang sangat baik."


"Sudah Sayang, jangan menangis terus. Kasian anak kamu. Jika ibunya sedih otomatis bayinya ikut sedih," imbuh Kania dengan mata berkaca-kaca.


Wanita paruh baya itu menghapus air mata di pipi putrinya dan kembali memeluk untuk menenangkan.


***


Sudah tiga hari sejak Sean selesai di operasi, dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda kondisi pria itu akan membaik. Yang ada kabar semakin krisisnya keadaan Seanlah yang terus Alexa dengar setiap harinya.


Di lorong rumah sakit yang mulai terlihat sepi karena jarum jam sudah menunjukkan 1 pagi, Alexa terus saja berlarian diikuti Ricard di belakangnya. Wanita itu sudah diperingatkan agar tidak berlari, tapi Alexa tidak mendengarkan teguran kakanya sama sekali.


Di pikiran wanita itu hanya Sean dan Sean, apalagi Alexa baru saja mendapat kabar buruk dari dokter yang menangani suaminya.


Alexa mengatur nafasnya yang memburu setelah sampai di depan ruang intensif, dia memegangi perutnya yang terasa ngilu setelah berlari cukup jauh.


Alexa senyum getir sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Andai saja kamu melihat aku berlari Sean, kamu mungkin akan memarahiku," guman Alexa.


Wanita itu mendongakkan kepalanya ketika dokter yang menangani Sean menghampiri dengan raut wajah sulit di artikan.


"Maaf Nona ...."