
Alexa mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meyakinkan diri agar tidak gugup jika berada di dekat Sean.
"Ayolah Alexa, dia suami kamu. Masa kamu lebih berani sebelum menikah daripada setelah menikah," gumam Alexa.
Wanita itu meraih nampang yang telah dia siapkan, mulai berjalan kembali ke kamar dengan membawa susu coklat di tangannya.
Dia membuka pintu perlahan-lahan dan mendapati Sean tengah menikmati tayangan film di layar Tv tepat di depan ranjang.
"Susunya sudah jadi!" riang Alexa langsung meletakkannya di atas nakas.
Dia melirik Sean yang tampak tidak terganggu bahkan menghiraukan dirinya. Alexa merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk Sean, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Kamu marah karena aku menolak?" Dia mendongak agar bisa menatap wajah tampan Sean dari bawah.
"Sean, aku benar ...."
"Akhirnya masuk perangkap juga," ucap Sean. Pria itu langsung memeluk tubuh Alexa dan mengulingkannya ke samping.
Senyum simpul Sean perlihatkan karena berhasil membuat Alexa masuk dalam perangkapnya.
"Jangan coba-coba lari dariku Nona," bisik Sean mengigit kecil daun telinga Alexa, yang membuat wanita itu kegelian.
Sean menumpu tubuhnya dengan tangan dan menatap wajah Alexa dari bawah. Sebelah tanganya meraba sesuatu hingga berhasil mematikan lampu.
"Susunya?" lirih Alexa. Kini wajahnya sudah memerah menahan malu. Benarkah malam ini mereka akan mengulangi sesuatu seperti malam saat dirinya mabuk? Bedanya sekarang dalam ikatan yang sah.
"Aku akan minum susu coklat setelah meminum susu ini." Sean menunjuk gunung kembar Alexa yang semakin membuat wanita itu malu bukan main.
Alexa sontak memejamkan matanya ketika Sean menunduk dan menyesap bibirnya. Bermula dari sesapan kini berubah menjadi lum*atan yang sangat memabukkan.
Meski terasa tidak ahli, cara Sean cukup menakjubkan. Alexa mulai membalas ******an sang suami dengan tangan yang juga tidak tinggal diam.
Meremas rambut Sean ketika mulut pria itu mulai turun menjelahi leher dan gudung kembar miliknya.
"Sean," lirih Alexa.
"Kenapa Sayang?" tanya Sean tanpa menatap Alexa. Pria itu sibuk menikmati leher Alexa dengan sebelah tangan telah menelusup masuki dress milik sang istri.
Dengan satu tarikan, Sean berhasil melepas tali pelindung gunung kembar milik Alexa. Senyum simpul Sean perlihatkan melihat getaran yang ditimbulkan pergerakan tubuhnya.
Milik Alexa sekarang jauh lebih besar dibanding saat dia menjamahnya dulu.
Sean menurunkan resleting dres bagian depan Alexa dan langsung meraup benda kenyal tak bertulang itu, membuat Alexa mulai mengeliatkan tubuhnya tidak tentu arah.
Sungguh, permainan Sean membuat Alexa melayang di udara.
"Kau sangat ahli Sayang," lirih Alexa terus meramas rambut milik Sean.
***
"Aku lelah," gumam Alexa memeluk tubuh Sean seiring getaran ditubuhnya.
"Again Sayang," bisik Sean.
"Aku lelah Sean." Sungguh baru kali Alexa dibuat lelah, saat bersama Ziko dia tidak pernah selelah ini.
"Tidurlah kalau begitu."
"Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus memainkam lidahmu," kesal Alexa melirik Sean. Mulut pria itu masih berada di gunung kembarnya.
"Minum susu kamu, terus tidur!"
"Sepertinya tidak perlu, ini jauh lebih nikmat." Sean menyeringai licik.
Pria itu mendorong pundak Alexa agar telentang kamudian memeluknya tanpa terhalang sehelai benang pun. Tubuh mereka tertutup selimut tebal.
"Tidurlah," gumam Sean ikut memejamkan matanya.
***
Alexa meregangkan otot-otornya yang terasa sangat pegal karena aktivitas semalam. Dia melirik ke samping dan mendapati Sean masih tertidur dengan lelap, bedanya pria itu sudah tidak tidur di atas tubuhnya.
"Benar-benar bayi gede. Pecinta susu," ledek Alexa menyentil hidung mancung sang suami.
Hal itu berhasil membangungkan Sean dari tidur lelapnya.
"Dingin," gumam Sean menarik Alexa masuk ke pelukannya.
"Sudah jam 8 pagi Sean, bagunlah! Kak Ricard dan bunda pasti sudah ada di meja makan."
"Dia akan mengerti kalau kita penganti baru Lexa, jadi tidurlah atau aku akan membuatmu menjerti!" ancam Sean.
"Mesum!"
"Kau yang mulai, kau yang memancing sejak awal."
Alexa memutar bola matanya malas. "Haruskah kita memulai pagi dengan perdebatan Sean?"
"Tidak Sayang."
Cup
Sean mengecup bibir Alexa kemudian berlari ke kamar mandi.