
"Lebih cepat baby," erang seorang wanita ketika pria yang berada di atas tubuhnya terus bergerak tidak beraturan.
Semakin lama, tempo gencatan semakin cepat membuat wanita tersebut mengerang karena rasa nikmat yang tidak tertahankan.
Ziko terus saja memainkan tangannya di gundukan besar milik wanita yang telah menyewanya malam ini. Dia semakin memacu tubuhnya agar mendapatkan pelepasan bersama.
Saat pelapasan itu hampir mencapai puncak, dia dikagetkan dengan dobrakan pintu dan kedatangan pria bertubuh kekar.
"Teruskan Sayang," lirih wanita itu dengan tatapan kecewa karena Ziko memisahkan diri padahal dia belum sampai puncak.
"Lepasin saya!" teriak Ziko yang sama kecewanya. Di saat dia hampir mencapai kenikmatan itu, tubuhnya malah ditarik.
"Tidak akan sebelum kau bertemu dengan Tuan kami," ucap pria bertubuh tegap dan menyeret Ziko keluar dari kamar hotel. Menyisakan wanita yang ditemani Ziko dengan rasa kecewa.
"Lepasin saya sialan! Saya mau pakai celana dulu!" bentak Ziko yang hanya memakai kemejanya saja.
Sontak dua orang bertubuh kekar itu menunduk dan bergidik ngeri melihat senjata Ziko yang masih saja berdiri.
Dua pria itu kembali menyerat Ziko ke dalam kamar hotel dan menunggunya hingga selesai memakai celana. Sesekali keduanya melirik wanita yang tengah menatap mereka dengan kesal.
"Lebih besar punya saya Nona," ucap pria botak mulai risih terus ditatap.
***
Sean dengan setia mengenggam tangan Alexa memasuki rumah dengan gaya Eropa di hadapan mereka. Keduanya baru saja sampai di rumah milik bunda Kania.
Selain akan mengucapkan perpisahan, keduanya akan makan malam bersama terlebih dahulu.
"Sekarang sudah berani genggam-genggam tangan," sindir Alexa.
"Aku suamimu sekarang dan tidak perlu ada batasan lagi untuk menyentuhmu. Jadi berhati-hatilah Nona, kau sekarang dalam bahaya," bisik Sean di akhir kalimat.
Pria itu baru menjauhkan bibirnya dari telinga Alexa setelah sampai di meja makan.
"Malam Nyonya," sapa Sean. Dia menarik kursi untuk Alexa kemudian duduk di sebelahnya.
"Saya mertua kamu, sangat tidak sopan," kesal Kania.
"Ayo panggil Bunda!" bisik Alexa.
"Nah kan enak di dengar." Kania tersenyum lebar. Wanita itu duduk di kursi kepala keluarga setelah membantu pelayan menyiapkan makan malam. "Ricard sebentar lagi datang."
"Memangnya kakak kemana?" tanya Alexa.
"Jemput Delia bersama putranya. Lagian Bunda ingin sekali memeluk cucu pertama bunda," jawab Kania.
"Nantikan cucu berikutnya Bunda." Alexa langsung memeluk lengan Sean, seperti memberi kode pada pria itu.
"Bersiaplah istriku, kita akan membuatnya sampai pagi," bisik Sean dengan senyum jenakanya.
Alexa sontak menjauhkan tubuhnya dari Sean. Alexa lupa kalau sekarang Sean berani membalas godaanya dan mungkin langsung akan membuktikan karena mereka telah resmi menikah.
"Malam," sapa Delia yang baru saja datang.
"Akhirnya cucu oma datang juga," sambut Kania heboh. Wanita itu langsung saja mengambil alih bayi kecil di gendongan Delia.
"Kalian makan malamlah, bunda akan mengurus cucu Oma," lanjut Kania dan meninggalkan meja makan.
Alexa dan Delia sontak tertawa melihat tingkah Kania. Memang sejak dulu wanita paruh baya itu sangat mengingingkan cucu.
Dua pasang pasangan romantis itu mulai menikmati makan malam mereka di selingi pembicaraan ringan di meja makan.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Alexa.
"Secepatnya," sahut Ricard. "Kakak tidak ingin menundanya terlalu lama. Kakak tidak ingin Raymond tumbuh tanpa seorang ayah," lanjut Ricard dengan raut wajah seriusnya.
Sementara Delia hanya tersenyum menanggapi. Wanita itu sangat bersyukur karena Ricard mau menerimanya lagi setelah apa yang dia lakukan dulu.
Menikahi suami yang telah dijodohkan oleh orang tuanya tanpa memberi tahu Ricard lebih dulu. Ini karena Delia tidak punya pilihan lain jika masih mengingingkan orang tuanya hidup bahagia.
"Aku sudah mendengar cerita kak Delia dari kak Ricard, semoga setelah ini rumah tangga kalian baik-baik saja," sahut Alexa seraya menatap Sean yang juga menatapnya.
"Cepat menyusul jangan menunda-nunda terus," celetuk Ricard.
"Tentu," timpal Sean. "Dua sekaligus."