Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 100 ~ Kenapa Bunda berbeda?


"Sudah Ricard, aku tidak apa-apa," ucap Delia mengenggam tangan suaminya agar tidak membuat keriburan di dapur.


"Bunda tidak tahu kalau Delia juga terluka," jawab Kania dan meninggalkan dapur bersama Serin.


"Ray mana?" tanya Delia mengalihkan perhatian Ricard dari hal kecil yang telah terjadi di dapur.


"Kamar, dia tertidur setelah minum susu. Sebaiknya kamu mandi dan berhenti mengurus dapur Delia, itu bukan tugasmu!"


"Ini tugasku sebagai istri, memperhatikanmu juga keluargamu ada kewajibanku," sahut Delia dengan senyumnya.


"Ayo, kamu yang harusnya mandi Ayahnya Ray," celetuk Delia penuh senyuman.


Wanita itu mengenggam tangan Ricard keluar dari dapur dan membiarkan pelayan yang menyelesaikan semuanya.


"Kak Ricard, Delia!" panggil Alexa yang baru saja datang bersama suaminya.


Ricard dan Delia langsung berbalik padahal baru aja akan menapaki anak tangga. Delia tersenyum dan menghampiri adik ipar kesayangannya.


"Akhirnya kamu berkunjung juga Lexa, kakak sangat rindu," ucap Delia cipika-cipiki bersama Delia.


"Aku juga merindukan kak Delia," balas Alexa memeluk Delia tapi sebelah tangannya masih mengenggam tangan Sean. Dia tidak ingin suaminya bertemu ulat bulu yang akan membuat tubuh Sean gatal.


"Bunda mana?" tanya Alexa.


"Sepertinya ditaman belakang bersama Serin," jawab Delia.


"Baiklah kak, aku kebelakang dulu. Ah ya." Alexa berbalik pada suaminya. "Jangan lupa keluarkan Eca dan pacarnya dari boks, Husbu!" pinta Alexa.


Sean menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, pria itu berbicara pada Ricard entah tentang pekerjaan atau kehidupan sehari-sehari pada umunnya.


"Bagimana rumah tangga kalian, baik-baik sajakan?" tanya Ricard.


"Jauh lebih baik dari yang kamu bayangkan, bagimana denganmu?" tanya Sean berubah informal sebab bukan hari kerja.


"Tidak baik tidak buruk," sahut Ricard. "Sana laksanalan perintah Lexa atau kau akan mendapatkan omelan," canda Ricard dan segera menyusul istrinya ke kamar.


Sean senyum simpul mengendong kedua kucing tersebut. "Babu kalian bodoh ya? Kamu jantan tapi diberi nama Eca, sementara Kamu betina tapi diberi nama Eri," ucap Sean pada kedua kucing tersebut.


"Bodoh kayak gini tetap saja Hubusnya bucin," celetuk Alexa menyembulkan kepalanya tepat di lingkaran lengan Sean, hingga wanita itu berada tepat dibawah ketiak Sean.


"Kau mengagetkanku." Sean menunduk untuk mengecup bibir seksi istrinya. Dia menurunkan kucing tersebut dan memilih mengenggam tangan Alexa.


"Sudah bertemu bunda?" tanya Sean terus berjalan menuju meja makan. Perut Alexa belum terisi apapun dan Sean tidak ingin perut itu sakit.


"Sudah, sepertinya hubungan bunda dan kak Delia tidak terlalu akur, Husbu. Kira-kira kenapa ya?" gumam Alexa mendudukkan diri di meja makan.


Semua orang sudah dia ajak untuk sarapan, tapi mereka menolak dengan alasan sibuk masing-masing. "Andai aku tau akan sarapan berdua saja, dirumah juga bisa," cemberut Alexa.


"Jangam bicara seperti itu, kan masih ada makan siang. Kita pulang setelah makan malam, jadi kamu punya banyak waktu bersama bunda." Sean mengelus pipi Alexa yang mengembung karena marah.


"Kamu benar, tapi kok sikap bunda aneh ya sama kak Delia? Sikapnya kayak bunda tidak suka sama kak Delia. Padahal awal-awal sangat menyayanginya."


"Sudahlah jangan memikirkan hal-hal yang akan membuatmu pusing, yang terpenting itu kesehatan kamu," lerai Sean tidak ingin Alexa banyak pikiran.


Alexa mengangguk mengerti dan segera menyantap sarapan yang baru saja pelayan sediakan.


"Astaga aku lupa membeli susu coklat Husbu, aku akan memesan dulu ...."


"Ck, duduklah! Aku bisa minum susu ini." Menunjuk susu putih di atas meja. "Lagipula tidak terlalu berpengaruh jika pagi seperti ini." Sean mencegah Alexa beranjak. Pria itu malah menyuapkan makanan kemulut istrinya.


"Makan yang banyak my Wife."


"Aku boleh bergabung?"


Alexa memutar bola matanya malas melihat wanita tidak tahu malu itu langsung duduk di samping Sean. Sementara Sean langsung berdiri dan duduk di seberang meja dimana Alexa berada.


"Yang sabar ya Lexa, jangan berkecil hati. Tidak bisa hamil bukan berarti kamu tidak sempurna kok. Kamu masih bisa mengasuh anak dari panti asuhan," ucap Serin tiba-tiba.