Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 164 ~ Bersikap romantis


"Mau dibantu, Sayang?" bisik Sean langsung melingkarkan tangannya di leher Alexa, tidak lupa mengecup pipi wanita itu sebagai sapaan. Sean baru saja tiba di rumah dan mendapati istrinya sedang memompa asi untuk stok kalau saja sikembar haus secara bersamaab.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," sahut Alexa menyingkirkan tangan Sean dari lehernya.


Alexa sangat mengerti kata bantu yang keluar dari mulut suaminya. Tidak mungkin bukan Sean melepaskanya begitu saja? Terlebih melihat sumber kehidupan anak-anak mereka.


"Ayolah Sayang, aku tahu kamu sangat membutuhkan bantuan. Atau mungkin butuh di himmmppppp ...." Kalimat akhir Sean tidak jelas sebab Alexa langsung membekap mulutnya secara tiba-tiba.


"Jangan ngawur Husbu, kalau anak-anak dengar bagaimana?"


"Anak-anak belum bisa ...."


"Ck, sudah bohong katanya mau lembur. Pas datang bukannya minta maaf malah ngajak ribut. Suami siapa sih?" Alexa berkacak pinggang menatap Sean jengah.


Sementara yang ditatap tampak tidak peduli, pria itu malah berdiri dan menutup daster Alexa yang basah karena asi.


"Aku tidak sudi ada yang melihat sesuatu yang menjadi milikku, bahkan hantu sekelipun Sayang," bisik Sean.


Alexa yang semula menatap kesal pada Sean malah tersenyum subringan. Suaminya memang selalu tahu kapan membujuk jika dia sedang kesal.


Tatapan Alexa beralih pada belakang sofa ketika Sean mengelilinginya.


"Maukah kau menerima cintaku, Alexa Olivia Jonshon?" Sean langsung berlutut tepat di depan Alexa sambil menyodorkan buket bunga Lily yang dia beli saat perjalanan pulang tadi.


Lantas Alexa mengambil buket bunga itu dan memeluknya cukup erat. "Aku tidak mau menerima cintamu itu Tuan posesif, terlebih kau sudah mempunyai 3 anak." Wanita itu membalik tubuhnya meninggalkan Sean yang masih berlutut.


Sebenarnya Alexa salah tingkah saat ini, bahkan pipinya terasa memanas hanya karena perlakuan kecil dari Sean. Wanita itu tidak menyangka saja, Sean masih bisa bersikap romantis meski di tengah kesibukan mengurus anak dan perusahaan.


Alexa beralih mengambil note di dalam buket bunga dan membacanya.


"Aku sering dipanggil Husbu oleh wanitaku dan aku sangat menyukainya. Lexa Sayang, Love you. Aku mencintai dan anak kita tanpa ada batasnya."


Pipi Alexa semakin bersemu merah setelah membaca beberapa kalimat di kertas Note. Dia menutup wajahnya dengan buket bunga lalu membalik tubuhnya menghadap Sean.


"Husbu, kau selalu bisa ...."


"Aku juga mencitaimu, Husbu!"


Oee ... Oeee ... Oee


Alexa dan Sean sontak melerai pelukan dan saling melempar tatapan satu sama lain sebelum tertawa renyah. Aily selalu saja bangun diwaktu yang tidak tepat. Seakan tidak membiarkan orang tuanya memadu kasih meski sejenak saja.


"Maaf Husbu, sekarang kamu harus berbagi kasih sayang pada tiga malaikat kecil." Alexa tertawa mengejek melihat wajah cemberut Sean.


Wanita itu memisahkan diri untuk mengambil Aily, bayi paling rewel di antara saudaranya yang lain.


Alexa memindahkan Aily tepat di atas ranjang, memeriksa pempres untuk memastikan sesuatu.


"Kan benar tebakan bunda, Ily pup lagi."


Ooeeee ....


"Iya Sayang, iya tunggu sebentar ya." Alexa baru saja akan membalik tubuhnya, tapi urung ketika selembar pempres sudah ada di depan mata.


"Makasih Husbu."


"Sama-sama Sayang," sahut Sean.


Pria itu memutuskan mendekati dua boks biru di sisi ranjang, memperhatikan Aidan dan Aiden yang masih terlelap.


"Sayang, mereka juga aktifkan kayak bayi lainnya?" tanya Sean tanpa melepaskan tatapannya dari dua putra yang terlihat anteng dan jarang menangis.


"Kata dokter iya Husbu, aku sudah bertanya beberapa hari yang lalu. Lagian Idan dan Iden memang tidak serewel Aily, tapi normal kok."


"Syukurlah," gumam Sean yang takut kesehatan anak-anaknya ada yang bermasalah.


Pria itu semakin menundukkan kepalanya, lalu menjentik-jentik jarinya di pipi Aidan, membuat bayi mungil itu tersenyum.


"Huaaa gemes banget sih anak ayah!" girang Sean layaknya anak kecil.