Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 75 ~ Pembalasan Sean


Berkumpul bersama keluarga adalah hal yang sangat membahagikan, terumata bagi Sean yang sejak kecil sudah ditinggalkan oleh orang tuanya.


Pria itu sejak tadi terus saja mengenggam tangan Alexa, seakan jika melepaskan istrinya akan pergi begitu saja. Sean mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa saat sadar jarum jam sudah menunjukkan angka 9.


"Tidak mau pulang?" bisik Sean.


"Kata bunda malam ini kita tidur di rumah untuk terakhir kalinya. Mau ya?" Alexa balik berbisik.


Sean mengangguk sebagai jawaban, tidak masalah baginya akan tidur di mana yang penting harus berada di pelukan Alexanya.


Sudah cukup Sean menahan sesuatu selama dua minggu karena ke isengan Alexa yang selalu memancing jiwa lelakinya. Malam ini Sean tidak akan membiarkan Alexa lolos meski semenit saja.


"Ayo ke kamar," ajak Sean.


"Ish, tunggu dulu. Bunda sama kak Ricard masih belum tidur. Tidak sabar banget perasaan suami aku ini."


"Lagi ngomongi apa?" tanya Ricard yang menyadari tingkah aneh Sean dan Alexa.


"Tidak ada Ricard, hanya diskusi ringan," bohong Sean.


"Ah saya kira ada sesuatu yang penting." Ricard menumpu kakinya dengan sebelah kaki lainya, kemudian bersandar pada soda seperti seorang bos.


"Apa rencana kamu selanjutnya Sean?"


"Perusahaan atau rumah tangga?"


"Perusahaan."


"Seperti biasa, saya akan menjadi asisten kamu dan kembali bekerja setelah masa cuti berakhir," jawab Sean.


"Bagimana kalau kamu mengambil posisi wakil Presdir? Sampai sekarang posisi itu belum menemukan kandidat yang tepat."


"Maaf, tapi saya tidak bisa menerimanya," tolak Sean tanpa banyak pertimbangan.


Sampai kapanpun Sean tidak akan memanfaatkan statusnya sebagai suami untuk naik jabatan. Sean ingin kerja kerasnya di akui, bukan naik karena seseorang.


"Kenapa Sean?" tanya Alexa.


"Urusan pribadi dan bisnis seharusnya dipisahkan saja Lexa, Ricard. Saya tidak ingin mengambil posisi itu."


"Saya mengerti." Ricard bangkit dari duduknya. Marah? Tentu Ricard tidak marah. Meski menjadi kakak ipar dan bos untuk Sean, Ricard tidak punya hal untuk memaksa adik iparnya.


"Tidurlah, kau pasti sudah bosan duduk di sana!" perintah Ricard seakan mengerti isi pikiran Sean.


Pria itu berjalan lebih dulu seperti pemilik rumah saja. Menutup pintu dan tidak lupa menguncinya sebelum duduk di tepi ranjang.


"Ayo!" ajak Sean


"Ngapain?" tanya Alexa dengan wajah polosnya.


"Jangan pura-pura polos Lexa, aku tahu kau mengerti isi pikiranku." Sean menarik Alexa hingga terjerambah di atas pangkuanya.


"Kamu sudah siap istriku?" bisik Sean menggoda. Dia akan membalas Alexa karena telah menggodanya sebelum pernikahan.


"Ak-aku ganti baju dulu terus sikat gigi dan ...."


"Kenapa harus ganti baju Sayang, bukankah kita akan membukanya nanti hm?" Sean kembali berbisik, kini hidungnya mulai menyusuri ceruk leher Alexa. Sementara nafas Alexa mulai memburu karena rasa gugup dalam dirinya.


"Rileks Lexa."


"Se-sean jangan betingkah seperti ini. Ak-aku ...."


"Kenapa, hm?"


Alexa mengelengkan kepalanya, wanita itu menghentikan pergerakan tangan Sean yang mulai menelusup kedalam dress yang dia kenakan.


"Masih jam setengah 10 Sean, kita masih bisa mengerjakan sesuatu yang lain. Oh iya, aku juga akan membuatkanmu susu coklat." Alexa buru-buru melepaskan diri dan keluar dari kamar.


Sementara Sean langsung meledekkan tawanya karena sangat senang. Akhirnya dia berhasil membuat istrinya gugup dan salah tingkah. Sean juga bisa, hanya saja selama ini dia menunggu waktu yang pas agar jika benar-benar terpancing bisa langsung menuntaskan karena sudah sah.


Sean menyandarkan tubuhnya di kepala dipan untuk menunggu sang istri membuatkan susu.


Atensi pria itu tertuju pada notifikasi di ponselnya. Sean segera memeriksa pesan dari anak buahnya.


Saya sudah menemukan Ziko, Tuan. Harus saya apakan?


Send foto


Sean meneliti foto seorang wanita yang baru saja dikirimkan anak buahnya.


"Jadi ini perempuan bernama Serin? Tidak terlalu asing," gumam Sean. Dia langsung menghapus foto itu dari ponselnya karena takut memicu kesalah pahaman.


Saya akan berkunjung besok


Berhenti mengirim foto perempuan, atau kau kehilangan pekerjaan!