
Akhirnya setelah dirawat kurang lebih seminggu dan kondisi Sean baik-baik saja, pria itu diperbolehkan pulang dengan syarat harus selalu datang untuk memeriksakan kakinya yang patah juga proses pemulihan otak yang belum sembuh sempenuhnya.
Sepanjang jalan pulang bersama Alexa dan tangan kananya, Sean lebih banyak diam. Pria itu teringat akan perkataan dokter sebelum meningalkan rumah sakit.
Ada satu cara untuk menyembuhkan kaki Sean, yaitu melakukan operasi. Namun, Sean tidak menyetujui saran dokter karena takut akan terbaring di rumah sakit lagi.
Pria itu ingin menikmati masa-masa kehamilan istrinya, dengan operasi dan tertidur kembali, lantas Sean akan melewatkan perkembangan kandungan Alexa.
"Beri saya waktu sekitar 7 sampai depan bulan dok."
Itulah jawaban yang Sean berikan sebelum meninggalkan ruangan dokter yang menangani dirinya.
"Mikirin apa?" tanya Alexa menatap Sean dengan senyuman.
Sean mengeleng. "Hanya lelah sedikit," bohongnya.
Namun, Alexa percaya begitu saja. Wanita itu kembali bersandar di dada bidang Sean hingga mereka sampai dengan selamat kerumah.
Kedatangan Sean dan Alexa disambut oleh Ricard dan Kania. Ricard berlari menghampiri mobil untuk membantu Sean duduk di kursi roda.
"Akhirnya kalian pulang juga," celetuk Kania dengan senyuman.
Alexa mengangguk samar dan mendorong kursi roda milik Sean memasuki rumah. Di belakang wanita itu ada Arya-tangan kanan Sean kakak dari Arnold.
"Arya, saya ingin bicara berdua saja," imbuh Sean setelah berada di depan kamar. Alexa yang mengerti segera menyingkir dan memberikan waktu suaminya.
Wanita itu menghampiri bundanya juga Delia yang sedang duduk di ruang keluarga. Sementara Sean telah dibawa pergi ketempat yang sepi oleh Arya.
Kedua pria tampan itu berada di pinggir kolam renang menikmati akuarium besar.
"Hukuman sudah jatuh?"
Arya mengangguk. "Ziko dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena telah merencanakan pembunuhan, sementara Serin terbebas dari hukuman karena kejiawaanya, Tuan," jelas Arya.
Sean menghela nafas berat. Pria itu sangat ingin menghukum Serin karena menyebabkan dirinya kecelakaan. Yang lebih membuat Sean geram ketika tahu sebenarnya Serin ingin mencelakai Alexa bukan dirinya.
"Nona Serin sekarang berada di rumah sakit jiwa, Tuan."
"Bagaimana dengan ayahnya?"
"Baguslah." Sean senyum miring, setidaknya Jackson mendapatkan karma setelah menelantarkan anak kandungnya sendiri.
"Pergilah!"
Arya menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan Sean, saat itulah Alexa datang untuk menjemput suaminya. Wanita itu menunduk untuk mengecup pipi Sean penuh senyuman.
"Harus banget ngurus mereka padahal kamu sedang sakit hm?" bisik Alexa memeluk leher Sean, menumpu dagunya di pundak pria itu.
Sean mengelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin memastikan kita sekarang baik-baik saja dan musuh telah ditangani semua."
"Sudah Sayang, sekarang kita hanya akan fokus pada kehamilan juga kesembuhan husbu."
Alexa mendorong kursi roda yang diduduki Sean menuju lift yang berada di ruangan belakang agar bisa sampai di kamar mereka.
Untung saja sejak dulu sudah terpasang lift di dalam rumah itu meski jarang di pakai sebab terletak sangat jauh dari tangga.
Namun, kini lift itu akan menjadi tempat khusus untuk Alexa dan Sean selama dalam masa pemulihan.
Setelah sampai di dalam kamar, Alexa mendudulkan diri di sisi ranjang sambil mengenggam tangan kekar Sean lalu membimbing menyentuh perutnya.
"Di dalam sini ada tiga nyawa yang harus kita jaga Husbu. Harusnya kamu ikut aku tadi saat diperiksa," imbuh Alexa. Pasalnya saat pemeriksaan Sean tidak bisa menemani karena pria itu dipangil oleh dokter.
Sean tersenyum bahagia sambil mengerakkan tangannya di perut Alexa. "Baik-baik di dalam sana baby, ayah dan bunda tidak sabar bertemu dan mengendong kalian."
"Sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Alexa menatap manik Sean yang memancarkan kebahagian. Lantas Sean menganggukkan kepalanya. Pria itu mengkode agar Alexa mendekat.
Dengan semangat empat lima, Alexa mencondongkan tubuhnya bersiap mendengarkan bisikan sang suami. Mata wanita itu membulat sempurna kala Sean menempelkan bibirnya di pipi.
"Kok dicium?" tanya Alexa.
"Lalu apa lagi Sayang? Kan maju karena mau dicium." Sean tertawa lepas melihat wajah cemberut istrinya.
"Aku sudah punya nama untuk anak-anak kita, tapi itu rahasia sampai mereka lahir kedunia."